Ulang Tahunnya Gak Jadi

​Pernah dengar ada orang ulang tahun tapi tertunda? Bukan, bukan pestanya, tapi memang tanggalnya gak jadi tanggal itu. Mungkin hal ini akan terjadi satu dari seribu manusia dunia berdasarkan perhitungan statistik abal-abal yang dilakukan saya.

Ya, saya baru saja mengalami kejadian dimana mau mengucapkan selamat ulang tahun kepada salah satu (yang saya anggap) kakak saya, Koko Santo namanya, tapi segera ada klarifikasi kalau ulang tahunnya tidak jadi tanggal ini, tetapi jadi tanggal 13 Oktober. Kok bisa? Saya pun tak paham.

Sebenarnya kejadian berubah tanggal ulang tahun ini sudah terjadi dua kali (eh apa beberapa kali ya?). Dulu, katanya, tanggal lahirnya bukan tanggal 25 September, kemudian berubah jadi 25 September. Apakah ia terlahir kemudian dimasukkan kembali kedalam perut ibunya? Jelas bukan.

Ko Santo, seorang keturunan etnis Tionghoa yang sudah lama bermukim di kepulauan sekitar Selat Malaka, Pulau Bangka kalau saya tidak salah. Bahasa Mandarinnya jelas jago. Bahasa utama dan pertama. Masih sangat menjunjung tinggi nilai dan budaya Tionghoa. Makanya, tanggal lahir yang diingatnya ya tanggal, bulan, dan tahun China. Bertahun-tahun kehidupan tak ada masalah. Sampai pada saat banyak yang bertanya kapan ulang tahun, baru dia bingung. Hahaha … Jelas, masalah sebenarnya baru muncul ketika harus mengurus segala macam administrasi yang membutuhkan penanggalan Masehi. Terjadilah hitung menghitung konversi dari penanggalan China ke penanggalan Masehi. Dan yang terjadi baru-baru ini adalah ditemukannya kesalahan yang sudah diyakini bertahun-tahun. Bahwa secara perhitungan, tanggal lahirnya bukan tanggal 25 September, tetapi 13 Oktober! Ya Allaah.. hahaha …

Ko Santo, Si Pengantin baru, yang baru saja mengklarifikasi bahwa tanggal lahirnya salah ini adalah pria yang kukenal dua tahun lalu saat saya masih bekerja di kantor lama. Perutnya seperti ibu-ibu tengah mengandung lima bulan, matanya sipit (ya iyalah), dan (dulu) bahasa Indonesianya cukup aneh. Ia cukup memiliki kendala dengan penggunaan imbuhan. “Orang tuanya sudah tidak mampu menyekolahi anaknya” Ada yang aneh dari kalimat tadi? Itu adalah salah satu kalimat yang saya ingat dari draft surat undur diri yang ia siapkan untuk salah satu mahasiswa konselingnya yang akan undur diri dari kampus. Saat itu saya sontak tertawa. Saya kaget ternyata masih ada orang Indonesia yang masih belibet tingkat hampir parah dengan Bahasa Indonesia. Eits, jangan salah. Dulu, saat ia tengah studi S1 di Bandung, katanya bahasanya jauh lebih parah, dosennya pun bingung. Hahaha. Studi magister ia lanjut di Filipina, mengambil kelas internasional. Jelas, dia lolos dari jebakan bahasa Indonesia (yang memang menurut saya juga cukup sulit terlebih sesuai EYD). Jangan ditanya bahasa Inggrisnya, okelah. Itulah sebabnya ketika sepulang dari Filipina, kemudian masuk kerja di tempat saya kerja, bahasa Indonesianya kurang mengalami peningkatan signifikan. Tapi beruntung, setahun tidak bertemu membuat saya cukup kagum dengan progres bahasanya.

Jelas. Ko Santo adalah pribadi yang tidak gengsi belajar, dari siapa pun. Termasuk dari saya yang lebih muda dan apalah saya mah remahan rengginang. Saya masih ingat bagaimana usahanya yang sangat keras menyusun kata-kata menjadi kalimat bahkan paragraf berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bagaimana ia mengirimi saya email yang berisi sebuah artikel berbahasa Inggris, kemudia ia translate ke dalam bahasa Indonesia untuk saya koreksi. Bulan pertama ia sangat struggle

Ko Santo juga adalah pribadi yang helpful. Kamu butuh apa, dia akan bantu. Bahkan tanpa kita minta. Selama beberapa bulan sekantor, saya sering makan bareng. Iya, ini salah satu alasan kenapa perutnya seperti ibu hamil. Makan apapun dan dimana pun ia sikat. Tapi yang paling berkesan adalah saat kami menghabiskan satu sore berdua (kesannya gimana gitu ya? haha). Kami makan duren di daerah Permata Hijau sampai mabok. Menyusuri trotoar berdua (gak pakai gandengan tangan) sambil nyanyi Pelangi-pelangi. O,iya, dia juga sempat meminta diajari menyanyi, padahal saya juga tidak bisa menyanyi, tapi kalau dibandingkan dia yang sama sekali tak tahu bagaimana nada lagu anak-anak yang hits seperti Pelangi-pelangi, jelas saya di atas angin. Saya unggul, hahaha (tertawa setan).

Seperti bocah, ya? Iya, bersama dia tak segan untuk ‘gila’, karena dia jauh lebih ‘gila’. Tapi begitulah dia, genuine. Mungkin itulah yang membuat seorang Cici cantik yang juga mantan teman sekelasnya saat S1 akhirnya mau diperistri. Di balik perut maju, kelakuan banyak gak mutu #eh, dan bahasa Indonesia yang membuat kening perlu mengerut dulu, dia punya bahasa cinta dan ketulusan yang bisa dipahami pengguna bahasa apapun. Eciyeee..

Untuk Ko Santo, selamat ulang tahun ya, Ko. Gong Xi Fat Chai, #lah? Selamat bertumbuh dan bertambah. Oiya, saya belum ketemu sama Cici Tika, nih.. Hehe

Koleksi pribadi. Saat Ko Santo (pura-pura) mabok duren

Salam,
DC

#1week1writing

PS:

Tulisan ini udah dibuat sebelum klarifikasi perubahan tanggal ulang tahun sebenarnya, tapi akhirnya diedit dan tetap diposting. Nanti kalau sudah tanggal 13 Oktober boleh dibaca lagi :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s