Tasik Konsumtif?

Tiga bulan terakhir ini saya banyak menghabiskan waktu di kota kelahiran, Tasikmalaya (untuk seterusnya saya hanya akan menyebutnya Tasik). Setelah sekitar sembilan tahun saya habiskan di kota lain.

Well, saya mau bertanya, siapa yang pernah ke Kota Tasik? Sebuah kota kecil di Priangan Timur. Iya, kotanya kecil jika dilihat secara geografis. Hmm … Sebenarnya yang saya maksud adalah kota administratifnya, bukan kabupatennya. Kalau kabupaten sih, luas. Di Kota Tasik hanya ada sepuluh kecamatan. Jika yang dicari adalah laut, maka tak akan ditemukan laut di Kota Tasik ini, wong daerahnya dikelilingi daerah Kabupaten Tasik. Jika yang dicari adalah gunung, ternyata gunung yang ada di daerah Tasikmalaya masuknya ke daerah Kabupaten Tasikmalaya. Lalu apa yang bisa ditemukan di Kota Tasik?

mayasari
Mayasari Plaza (source: tasikmalayakota.go.id)

Menurut saya, Tasik adalah surganya belanja, terlebih untuk masyarakat di sekitar Priangan Timur (Garut, Kab. Tasik, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran). Teman-teman saya yang berasal dari kota dan kabupaten di sekitar Tasik biasa berbelanja disini. Ada beberapa pusat perbelanjaan yang tumbuh, bahkan jadi pusat modenya Priangan Timur. Barang dan segala halnya update disini. Atau mau cari tongkrongan yang sama kayak di Bandung atau kota besar lainnya? Ada. Berbagai franchise bisa dengan mudahnya kita temui di Tasik. Berbagai macam makanan enak dari mulai harga Bos sampai harga anak kos, ada. Tapi sebenarnya, lebih banyak harganya anak kos, sih … .

Melihat apa yang terjadi di Tasik, seorang teman yang juga kelahiran Tasik dan lama di luar kota, pernah bilang kepada saya, “Tasik maju euy ayeuna mah, loba mall, sagala jajanan aya, aya J.c*, Bre*dTalk, AC* Hardware, sport st*tion, terus di luar ge loba kafe-kafe, tempat makan saung-saung, tempat nongkrong anak muda, tiap imah pada boga kendaraan, garaya deuih dandananna, asa di Bandung ayeuna mah“. Saya pun tersenyum menanggapi komentarnya dan mengiyakan semua yang ia lihat. Ia pun melanjutkan, “Tapi euy, ningali jiga kieu mah sarua jeung Tasik atawa urang Tasik teh konsumtip(f) euy”.

Mendengar kalimat terakhirnya, kening saya berkerut. Saya kurang setuju dengan pendapatnya kalau orang Tasik konsumtif. Bukan karena saya orang Tasik juga ya, tapi kan yang ngomong juga orang Tasik, yang posisinya sama-sama lama berkelana di luar Tasik.

Menurut saya, orang Tasik itu bukan konsumtif, tapi smart buyer. Mowen dan Minor (2002) mengatakan bahwa perilaku konsumtif adalah suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan membeli produk atau jasa tertentu untuk memperoleh kesenangan atau hanya perasaan emosi (resource). Sedangkan orang Tasik saya lihat belanja dengan pertimbangan yang mengacu pada hukum ekonomi. Kalau punya teman orang Tasik, coba tanyakan bagaimana nasib Mall Tasik (Ram*yana dan Rob*nson)? Baru dua bulan buka sudah tutup kembali. Mengapa? Jawabannya karena orang Tasik tahu harga. Barang yang dijual di Mall Tasik sama dengan barang yang dijual di tempat lain, tapi harganya berbeda, walaupun itu cuma 100-500 (untuk produk supermarket) dan 1.000-10.000 (untuk produk pakaian). Yang saya lihat juga dari beberapa teman, bahkan keluarga sendiri, pertimbangan lebih baik membeli yang lebih mahal sedikit tapi awet dibandingkan dengan barang murah tapi ya kualitasnya cepat wassalam.

Lha, terus bagaimana dengan berjamurnya kafe-kafe di Tasik? Iya, yang mahal banyak, tapi yang murmer juga tak kalah banyak, dan kebanyakan yang punya juga orang Tasik. Orang Tasik suka ngumpul, dimana pun yang penting ngumpul. Kalau saya sama teman-teman SMA pun kalau ngumpul dimana pun jadi. Mulai di tempat makan impor franchise seperti orang kota besar, sampai warung susu murni yang harga anak kos pun jadi. Banyak banget jajanan enak yang harganya di bawah 10.000-an, bahkan bakso pun ada loh! Coba bayangkan, bakso Tasik yang bakso dan mienya biasanya home made.Beda lah dengan bakso-bakso di tempat lain yang biasanya belinya di pasar, warnanya kuning gak jelas, hehe …

baso-laksana-300x225
Salah satu bakso Tasik (source: google)

Kalau soal kendaraan tiap rumah? Trend ini saya pikir bukan hanya di Tasik saja, dimana pun. Terlebih motor yaa … dan coba kita hitung-hitung, angkot disini jauh-dekat Rp 4.000, terus rute angkot di Tasik kebanyakan muter, jadi ya memang lebih hemat pakai motor, sih … termasuk anak sekolah, tapi kalau urusan ini saya berharap semoga Walikota Tasik bisa mencontoh Bupati Purwakarta, hehe …

O, iya, tadi saya sudah sebutkan kalau banyak tempat makan yang memang pemiliknya asli Tasik, ya? Ya karena emang profesi favorit orang Tasik itu kalau tidak jadi PNS, ya berdagang atau tani. Bahkan di luar kota pun banyak yang jual panci orang Tasik, kan? Di Tanah Abang, bukan hanya Uda dan Uni Minang saja yang menuhin, tapi banyak Akang dan Teteh ti Tasik. Dan yang perlu ditekankan adalah, produk Tasik bukan hanya dijual ke luar Tasik, tapi orang Tasik sendiri pun bangga pakai produk Tasik. Mukena, gamis, baju koko, dari Kawalu. Sendal kelom geulis, dari Gobras. Hobinya makan bakso Tasik. Ulang tahun atau nyari roti, Sari Roti atau merek roti terkenal lain di Tasik kurang famous dibanding roti lokal, Lemona, Ramona, Saera, Anita, dll. Hajni sebagai pusat jilbab dan busana muslim bisa bersaing dengan brand nasional seperti Rabbani dan Elzatta. Bahkan mall paling besar dan terkenal di Tasik, bukanlah dari pengembang ibu kota, tapi produk asli Tasik, Asia dan Mayasari.

Jadi, masih berpikir Tasik konsumtif?

Salam,

Pituin Tasik

DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s