“Kalau aku mau?”

“Aku ada di Bandung, loh!” Seru seorang wanita muda memberitahu keberadaannya pada seseorang melalui ponsel.

“Hah? Bandung? Kok gak bilang-bilang?”, respons seseorang di ujung telepon sana.

“Ini aku bilang kamu”, jawab wanita itu lagi.

“Yuk, ngopi yuk.. Mau gak?”, tawar seseorang itu.

“Oke, dimana?”, jawabnya lagi. Kali ini senyumnya semakin lebar dari sebelumnya.

“Kirimkan saja lokasimu, nanti aku jemput jam 4 sore”.

Percakapan via telepon itu pun berakhir dengan persetujuan dan janji si wanita untuk mengirimkan lokasi tempatnya berada. Ia sebenarnya baru saja sampai di stasiun beberapa menit sebelum akhirnya ia mengabari seseorang via telepon. Melalui layanan aplikasi chat yang dia miliki, dikirimkannyalah alamat salah satu teman lamanya di Bandung.

Aku berangkat, insyaa Allaah 20 menit lagi sampai lokasi. Tunggu ya.

Ia pun segera mengetik “OK” di layar smartphone-nya.

*

“Gimana kuliahmu? Lancar?”, tanyanya.

Orang di depannya pun tersenyum. Menatap mata si penanya. Dia mungkin sedang menerawang apa kira-kira maksud si penanya. Di ujung lain meja si penanya mulai tidak nyaman ditatap seperti itu.

“Tak usahlah kamu mengira-ngira, jawablah saja dan tak perlu kamu melihat aku seperti itu”, respons si penanya melihat ekspresi yang ditanya.

“Hahaha.. Maaf, maaf. Aku tak bermaksud gitu. Kuliahku lancar sampai saat ini, entah besok. Ada apa kok kamu ke Bandung? Liburan? Sama siapa?”

Wanita itu menarik napas panjang. Ia merasa diinterogasi dengan sederet pertanyaan.

“Iya, liburan sendiri”, jawabnya singkat.

Obrolan itu terhenti saat seorang pramusaji menghidangkan secangkir kopi hitam Toraja, secangkir Green Tea Latte panas, serta sepiring kecil pisang bakar yang masih mengepul.

“Kamu suka tempatnya? Disini interiornya klasik dan vintage. Kurasa kamu pasti suka, iya kan?”

“Iya, suasananya juga hangat dan tenang. Apalagi ditambah pisang bakar panas kayak gini”

“Sini mana, aku icip dulu pisang bakarnya, hahaha..”, diserobotnya garpu yang sedang dipegangnya. Rupanya orang itu lebih lihai mensabotase pisang bakar yang hendak disuapkan wanita muda tadi ke mulut.

“Aaahh kaaaauuuu”, wanita itu pun kesal, sementara si penyerobot tertawa dengan mulut penuh pisang bakar.

Udara dingin Bandung tak mereka rasakan. Ada obrolan hangat diantara teman lama ini. Ah, sebenarnya mereka berdua ini baru 2 tahun lalu saling kenal, tapi hampir setahun tak bertemu. Sebenarnya ini kali kedua dalam setahun ini wanita ini ke Bandung, tapi baru kali ini ia mengabari temannya itu.

“Kamu balik lagi kapan?”

“Besok siang”

“Cepat banget.”

“Iya, mesti kerja lagi kan besoknya.”

“Setidaknya kamu setiap bulannya pasti, ada pemasukan, hehe”

“Setidaknya kamu punya keyakinan yang kuat bahwa rezeki pasti ada, bahkan sampai bisa mentraktirku, hahaha”

“Sssttt.. Walaupun sebenarnya kafe ini terlihat mahal, tapi sebenarnya murah, makanya aku pilih disini, hahaha..”

Mereka pun tertawa, kemudian hening menyusup. Beberapa kali terlihat keduanya meneguk minuman yang dipesan.

“Jadi kapan kamu mau nikah, Rasy?”

Pertanyaan itu membuat si penikmat kopi hitam sedikit tersedak. Untung dia cukup lihai menenangkan diri.

“Entah. Aku belum tahu siapa yang mau denganku, yang belum berpenghasilan tetap, bahkan untuk makan sehari-hari saja tak tahu, terus masih kuliah lagi”

“Kalau aku mau?”

Orang yang tadi disebut “Rasy” itu pun tercekat. Bagaimana mungkin jawabanya malah direspons demikian oleh wanita di depannya. “Ah, dia pasti bercanda”, batinnya.

“Aku serius. Kalau alasanmu karena kamu belum memiliki pekerjaan tetap dan masih kuliah, itu tak jadi masalah buatku. Aku bisa menghidupi diriku sendiri sementara waktu. Sementara waktu. Jika alasanmu tak memiliki modal untuk menggelar pernikahan, aku tak berniat membuat pesta, cukuplah ijab qabul dan mahar semampumu. Aku takkan memberatkanmu. Kecuali kalau kamu menginginkan wanita lain”

“Rasy” itu semakin terdiam. Dia tidak menyangka wanita di depannya akan mengatakan demikian. Dia suka, tapi hanya suka saja sebagai teman. Dan dia pun sebenarnya sadar, tak ada siapa pun yang dia inginkan saat ini.

“Tak perlu kau jawab sekarang, berpikirlah. Aku tidak menunggumu di puncak, aku menawarimu untuk menemani mendaki.”

“Rasy” tak bergeming lagi. Banyak pertanyaan di pikirannya. Mengapa wanita ini mau dengannya, seorang mahasiswa magister yang pas-pasan, tabungannya yang pas buat biaya masuk kuliah, pas mau daftar beasiswa, pas tahu diri he isn’t qualified. 

Bersambung ke “Apa aku layak?”

Salam,

DC

#1week1writing

Advertisements

One thought on ““Kalau aku mau?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s