“Apa aku layak?”

Sebelumnya >> “Kalau aku mau?”

Warung kopi atau mungkin acara ngopi itu sendiri, selalu menyajikan drama. Seperti saat Rangga dan Cinta di Jogjakarta. Pun terjadi dengan seorang wanita muda dan seseorang yang disebut “Rasy”.

Beberapa saat “Rasy” masih anteng dengan diamnya. Wanita itu tahu, ia telah memberikannya ‘serangan’ dadakan. Memukul telak. Tak memberikan kesempatan memasang kuda-kuda.

Laki-laki itu seperti buntu. Terlebih cangkir di depannya pun tak bersisa. Bensinnya habis. Ia harus segera isi bahan bakar, sebelum semakin mati kutu.

Diangkatnya tangan kanan, mengisyaratkan bahwa ia memanggil pramusaji ke meja mereka. Kafe yang mulai ramai tidak membuatnya kehilangan perhatian dari Sang Pramusaji. Dipesankannya lagi menu yang tadi mereka pesan. Meja sudah kembali bersih. Hanya ada handphone milik keduanya. Rupanya babak kedua ‘ngopi’ akan segera dimulai.

Wanita itu memberikan ruang dan tidak mendesak “Rasy” untuk segera merespons. Sesekali sudut matanya bergerilya ke sudut ruangan dalam kafe itu. Sesekali ia memperhatikan bagaimana orang yang menemaninya sore itu.

Hampir dua puluh menit berlalu tanpa kata. Pramusaji tadi sudah kembali beserta pesanan. Secangkir kopi Toraja, secangkir Green Tea Latte panas, dan sepiring pisang bakar yang masih mengebul.

Amunisi sudah tersaji. Kopi hitam itu masih keluar uap panas. “Rasy” tak sabar segera menyeruput cairan hitam itu.

Seperti baru saja disuntikan suplemen kuat, laki-laki itu merasa tak lagi jadi kambing ompong yang tak tahu harus berkata apa. Setidaknya ia punya tenaga untuk mendesak otaknya memproduksi kata-kata.

“Jujur, aku kaget banget. Kamu tidak sedang becanda, kan?”   Hanya kalimat itu yang mampu ia katakan. Sementara wanita di depannya hanya melihatnya lekat. Tajam. Ah, rupanya otaknya belum begitu panas. Tadi ia sudah mengatakan sebelum ditanyakan bahwa ia serius. Salah.

“Oke, aku percaya kamu tidak becanda. Tapi kenapa harus aku? Hmm, kamu memang cinta sama aku?”, akhirnya pertanyaan itu keluar juga. Kopi hitam itu seperti doping untuknya.

Ada senyum menyungging di bibir wanita itu mendengar pertanyaannya.

“Aku tak yakin juga aku mencintaimu. Atau mungkin aku hanya sebatas suka atau kagum mungkin sama kamu”, jawabnya santai.

Dahi laki-laki itu mengkerut. Apa yang baru saja didengarnya berbeda dengan yang biasa ia temukan, sampai terbentuk sendiri persepsi dalam otaknya, “wanita akan menikahi orang yang dia cintai atau menikahi yang memang siap”. Terus bagaimana mungkin ia mau dinikahi oleh orang yang dia sendiri tidak tahu apakah ia cinta atau tidak dan orang itu tak perlu sebelah mata, dipandang dua belah mata dengan melotot pun tahu kalau ia belum siap. Kecuali kalau kesiapan secara fisik, dia sudah dewasa memang.

“Boleh tahu alasan kenapa kamu mau menawarkan diri untuk menemaniku berjuang?”

Senyum yang sama seperti beberapa saat lalu. “Tentu boleh, itu hakmu. Aku yakin sama kamu karena kamu yakin bahwa Tuhan menjamin semua hal, termasuk rezekimu. Karena kamu yakin, aku pun yakin, dan mau belajar lebih yakin lagi. Masalah cinta, kita yakini saja, suatu hari Tuhan akan jamin”.

Ini seperti bumerang. Rupanya wanita itu mendengarkan baik-baik setiap obrolannya dulu. Mengapa ia tak seyakin dulu pada hal yang memang selalu dia yakini?

“Jika aku ternyata tak memiliki kekuatan keyakinan sekuat yang kamu kira, bisakah kita terus berteman?”

“Tentu bisa, tapi aku tak bisa janjikan jaminan kualitas yang sama. Bisa jadi kurang, tapi peluang lebih sangat mungkin”

“Kupertimbangkan baik-baik. Ini tawaran emas. Tapi masalahnya bukan karena aku sedang menanti berlian, tentu aku mau berlian, tapi untuk mendapat emas saja aku ragu apa aku layak?”

Salam,

DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s