Dalam Mobil Travel Surabaya-Kediri (2)

Perjalanan kami masih jauh sampai ke tujuan masing-masing. Cerita si Mbak Cantik terus berlanjut. Mengisahkan banyakny perbedaan yang mereka miliki. Negara, suku, latar belakang, adat kebiasaan, dan (mungkin bagi sebagian besar orang inilah perbedaan paling jauh) agama. Restu keluarganya ditambah banyaknya perbedaan, sempat membuatnya ingin memilih mundur. Lagi, suaminya kembali bertanya, “Apakah semua perbedaan itu membuatku memperlakukanmu secara buruk?”. Jawabannya jelas tidak. Dua tahun mereka saling mengenal dan tak pernah sekali pun ia diperlakukan buruk oleh pria Australia itu.

Pernikahan pun digelar di Singapura tanpa satu pun keluarga Mbak Cantik yang hadir. Setiap perbedaan yang mereka miliki tetap jadi perbedaan, tapi tak sedikit pun mereka paksakan untuk menjadi sama. Ia masih dengan kejawaannya, ke-Indonesia-annya, dan keislamannya. Begitu pun suaminya.

Dua tahun pertama pernikahan mereka lalui untuk adaptasi. Ah, mungkin lebih tepatnya adjustment. Mereka sadar, pernikahan ternyata begitu kompleks. Apa yang menurut mereka sudah sama-sama saling tahu, ternyata belumlah cukup. Banyak hal perintilan yang memicu cek-cok kecil setiap hari. Suami yang sangat terorganisir dan detail, berbeda dengannya. Pernah ia berpikir untuk berpisah, tapi mengingat kembali bahwa perbedaan sebesar keyakinan saja mampu membuatnya memilih menikahi suaminya, kenapa harus karena ia terbiasa menggunakan tusuk gigi dan suaminya tidak membuatnya harus berpisah?

Ah, iya. Mereka bertemu saat sama-sama sudah terbentuk dengan kebiasaan masing-masing dan mereka bersama karena memutuskan untuk memeluk setiap perbedaan yang ada. Perlahan, setiap ribut kecil itu pun mereka hadapi dengan candaan dan mulai berbenah, begitu Mbak Cantik melanjutkan ceritanya.

Noah lahir setelah mereka menjalani 2 tahun pernikahan. Kesepakatan untuk mengenalkan kedua budaya dari orang tua mereka jalani. Dan yang paling saya kagumi dari ceritanya, suaminya sangat mendorong si Mbak Cantik untuk terus berbakti pada kedua orang tuanya. Menurut suaminya, terlepas apakah orang tuanya merestui atau tidak, kewajiban berbakti dan menghormati tidak akan pernah pupus bagi si Mbak. Pernikahan yang mereka jalani tidak akan pernah menghapus hubungan darah orang tua dan anak.

Itulah alasan kenapa si Mbak Cantik berada dalam mobil travel bersamaku. Sebisa mungkin ia akan menemui orang tuanya di desa. Sebisa mungkin ia akan terus membantu orang tuanya. Dan sebisa mungkin dia tak mengajarkan Noah membenci kakek dan neneknya karena belum menerima Daddynya.

Tanpa bermaksud membenarkan apalagi menyalahkan pernikahan beda agama dan tanpa restu, saya sangat terkesan dengan pengalaman hidup si Mbak Cantik. Bahwa bahasa asing itu bisa dipelajari *wink-wink*. Bahwa fokus pada persamaan dan cita-cita bersama itu jauh lebih memudahkan perjalanan. Bahwa memaafkan dan berjiwa besar itu suatu keharusan.

Thank you Noah and Mommy, you made my trip was insightful. Semoga kelak kamu menjadi pria yang ganteng rupawan serta berbudi elegan.

The end


Salam,

DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s