Dalam Mobil Travel Surabaya-Kediri (1)

Mobil mini bus yang saya tumpangi itu menepi di salah satu rumah dalam kompleks perumahan di Surabaya. Terlihat di luar mobil seorang “mahmud abas” (mamah muda anak baru satu, red.) keluar pagar dan berjalan menuju mobil bersama seorang bocah laki-laki dan segambreng bawaannya. Iya, merekalah penumpang berikutnya setelah saya.

Dibukanya pintu mobil, kusambut kedua teman perjalanan dengan senyuman termanis yang bisa kukerahkan. Beruntung, mereka membalasnya jauh lebih manis. Seorang wanita muda nan cantik khas wanita Jawa serta seorang balita ganteng yang tak berwajah Jawa, melainkan impor”.

“Hallo, Mbak..”, sang penghuni baru menyapa duluan. “Let’s shake your hand ke Kakak, Noah”, ia pun tak luput meminta si ganteng kecil itu menjabat tanganku.

“Hallo, sayang.. what’s your name?”, balasku.

“Noah..”, pelan tapi cukup jelas anak kecil ganteng itu menyebutkan namanya. Tangan mungilnya pun tak segan menjabat tanganku.

“Hai, Noah, nice to meet you..”

“Nice to meet you too, Kakak”, kini si Ibu yang membalasnya.

Mbak Cantik, sebut saja begitu, rupanya adalah satu-satunya teman perjalanan saya menuju Pare, Kediri. Namun ia akan turun di Jombang. Ia bersama serta Noah, anaknya yang berumur 3 tahun kurang. Lupa saya kurangnya berapa bulan. Noah memang ganteng. Setelah ngobrol sepanjang perjalanan saya mafhum, Noah adalah buah hati hasil pernikahan Mbak Cantik dengan suaminya yang berkewarganegaraan Australia. Jadi, pantas kalau dia memang ganteng, pakai banget.

Mbak Cantik asli Jombang. Lahir dan besar di Jombang. Tidak pernah mengenyam bangku kuliah dan baru bisa berbicara bahasa Inggris saat kenal dengan suaminya. Wow!

Entah apa yang membuat Mbak Cantik seterbuka itu pada saya yang baru dikenalnya saat di mobil travel. Tapi apa yang ia ceritakan menurut saya sangat menarik. Ia mengaku berasal dari kampung dan keluarga yang sangat sederhana. Pergi merantau ke Surabaya selepas lulus SMA untuk mencari penghidupan. Awal perkenalan dengan suaminya saat ia menemani temannya yang aktif di salah satu organisasi surfing. Jujur, saat itu ia hanya berniat menemani temannya dan sama sekali tak berbicara sedikit pun karena memang dia tak bisa berbahasa Inggris. Namun jodoh berkata lain, suaminya mengalami love at the first sight padanya.

Ia pun menolak. Wong ra iso ngomong Inggris piye? Sedangkan suaminya pun tak bisa berbahasa Indonesia. Namun bagaimana lagi, suaminya terlanjur jatuh hati. “Yo kita perempuan, kalau dikejar terus dan dianya baik banget, lama-lama kita juga luluh yo Mbak”, begitu Mbak Cantik membela.

Kencan-kencan di awal mereka lalui tanpa banyak berkata. Untuk mengenal satu sama lain, ia banyak bertanya pada temannya bagaimana si suami dan begitu pun sebaliknya. Cinta, mendorongnya untuk belajar bahasa. From zero to like a native. Kemana pun tak luput dari kamus, hehe.. luar biasa! Saya bahkan kaget ketika ia mengatakan bahwa ia sebelumnya nol besar bahasa Inggris, tidak pernah ikut les apapun, dan memang hanya belajar di sekolah yang seadanya, tanpa praktik dan tanpa paham apa yg dipelajari. Tapi sekarang, ketika ia berbicara dengan Noah, saya seperti mendengar seorang native berbicara dengan anaknya.

Namun niat baik mereka tak selamanya mulus. Keluarga Mbak Cantik tidak menyetujui hubungan mereka. Wajar. Keluarganya yang sangat menjunjung adat, budaya, dan menurutnya tergolong konservatif. Entah berapa kali ia ditentang untuk putus, suaminya pun menyerahkan keputusan padanya, tapi Mbak Cantik sudah terlanjur jatuh hati. Suaminya laki-laki yang sangat sopan dan baik hati yang pernah ia temui. Walaupun sebenarnya saat itu ia pun takut, takut orang tua suaminya akan berlaku sama  seperti orang tuanya. Menolak hubungan mereka.

Sampai akhirnya kedua orang tua, kakak, beserta adik suaminya datang ke Indonesia. Mereka saat itu hanya bertanya, “Do you love him?”. Saat itu juga ia menangis. Ia tak menyangka hanya satu pertanyaan itu yang diajukan keluarga suaminya. Tak ada pertanyaan; berasal dari mana, bagaimana latar belakang, atau hal-hal lain yang mengarah pada penyadaran perbedaan diantara mereka.

“Begitulah orang luar ya, Mbak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa mereka seterbuka itu. Bisa menerima saya yang tidak berpendidikan, berasal dari keluarga sederhana, dan banyak sekali perbedaan diantara kami. Tapi selama saya dan suami bahagia, mereka mendukung”

To be continued..

Salam,

DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s