Berani Melanjutkan?

​Dua hari lalu untuk pertama kalinya saya keluar ‘kandang’ untuk jalan-jalan setelah hampir dua bulan ber’semedi’. Berkeliling menikmati kota kecil tempat saya lahir. Lama saya tidak pernah menikmati kota yang tengah tumbuh ini sedetail kemarin. Terlalu banyak waktu yang saya habiskan di tanah rantau. Saya sadar, saya telah melewati masa tumbuh kembang Kota Santri ini *bayi kalee.. 

Dalam langkah kaki di trotoar jalan utama Kota Tasik, Jalan KH Zainal Mustofa, pusat bisnisnya kota ini, saya mendapati dua orang anak seusia anak SD. Entah apa yang mereka lakukan. Saat saya dapati mereka, mereka tengah duduk di bahu jalan, di pinggiran trotoar. Hanya ada selembar kertas dan sebatang pensil diantara kedua anak itu yang mereka tatap lekat-lekat. Dari jarak sekitar dua meter saya berusaha mencuri dengar obrolan mereka, hehe. Entahlah, kedua anak itu membuat kekepoan saya meningkat drastis. Penasaran saja, pikirku.

A: “Jadina numana atuh desain imah urang teh?” (Jadinya yang mana dong desain rumah kita itu?)

B: “Nu ieu we, si C kan geus ngagamarkeun” (Yang ini saja, si C kan sudah gambarin)

A: “Geus ngajieun deuilah gambar nu anyar, da si C geus euweuh ieuh diteang indungna” (Udah bikin lagi saja gambarnya yang baru, kan si C udah gak ada ini disusulin ibunya)

B: “Keun, teu nanaon nu ieu ge, urang tuluykeun we, ieu ge da alus ieuh, panan urang teh sakelompok” (Biar, gak apa-apa yang ini juga, kita lanjutkan saja, ini juga bagus, kan kita ini satu kelompok)

A: “Ai kitu maneh teu boga kahayang kitu desainna ek kumaha? Panan maneh teh sok leuwih alus ngagambarna?” (Memangnya kamu gak punya keinginan mau gambar desain kayak gimana, gitu? Kan kamu biasanya lebih bagus menggambarnya?)

B: “Nya aya, tapi da ieu ge alus atuh, si C geus nyieun, urang tuluykeun. Ari alus mah kunaon kudu nyieun deui nu anyar kawas kahayang urang? Kapanan kelompokna lain urang duaan, tapi jeung si C. Urang tambahan we, ulah dipupusan nu geus dijieun ku si C” (Ya ada, tapi ini juga bagus kok, si C juga udah buat jadi kita lanjutin saja. Kalau memang ini juga bagus buat apa buat lagi seperti yang kita mau? Kan anggota kelompoknya bukan hanya kita berdua saja, ada C juga, kita tambahin saja, bukan menghapus yang udah si C buat)

Mendengar obrolan kedua bocah itu saya tertegun. B, yang dipercaya oleh si A memiliki kemampuan menggambar lebih bagus dari C, menolak untuk mengubah desain awal yang sudah dibuat si C. B tidak mau menghapus hasil desain C walaupun si A membujuknya dengan alasan bahwa desain C juga bagus, jadi tinggal ditambahkan saja. B punya kesempatan mengubah dari awal desain gambar itu karena si C sudah tidak ada disana dan ia pun memiliki kemampuan menggambar yang lebih baik, tapi ia tidak melakukannya, walaupun anggota kelompok lain (A) mendukungnya.

Terkadang, atau bahkan sering kali, kita memaksakan ide atau gagasan kita. Merasa kita lebih punya hak karena merasa lebih, apalagi jika ada dukungan dan pengiyaan dari orang lain. Tapi si A, anak yang saya temui di trotoar Jalan KH Zainal Mustofa itu, mengajarkan saya bagaimana legowo untuk menerima gagasan orang lain, padahal bisa saja gagasannya lebih baik dari gagasan orang lain tersebut, mengajarkan bagaimana meredam ego melanjutkan hasil pekerjaan orang lain, padahal dia sudah mendapat lampu hijau dan privilege dari teman kelompoknya untuk mengubah bahkan sepenuhnya menggunakan idenya.

Ah, saya jadi teringat kejadian-kejadian yang pernah saya lihat dan alami sendiri. Seringkali kita memaksakan kehendak, pendapat, aspirasi kita dalam kelompok. Bisa melalui perdebatan panjang nan alot, bahkan gesekan-gesekan kecil. Buat apa? Agar pendapat kita yang diterima. Atau ketika kita harus melanjutkan pekerjaan hasil orang lain, seringkali kita ingin mengubahnya dari awal, sesuai keinginan kita. Ah, alih-alih agar lebih bagus mungkin, ataukah ada pemaksaan ego yang terselubung?

Anak-anak memang seringkali mengajarkan kita banyak hal. Banyak sekali. Termasuk berlapang dada dan menghargai (hasil karya) orang lain.

Mengingat kisah dua bocah itu saya jadi kepikiran. Maukah mentri baru melanjutkan apa yang sudah baik yang dilakukan mentri lama? #Eh 🙊 ssttt.. Ini Cocoklogi, disambung-sambungin, mumpung berita reshuffle masih panas, hehe.. Ah, semoga yaa..

Salam,

DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s