Setahun Yang Lalu: Setengah Sumatra

​Tahun lalu kita berdua dongkol di bis, lalu diajak keliling Bukittinggi dini hari (udah kek mau sahur on the road 😆) sama abang ojek dan dibonceng 3 dgn 2 buah carier 55 L.

Sesaat sebelum bis datang

Entah berapa banyak penginapan yang kita datangi, tak satu pun tersedia kamar yang bisa menampung kita. Beruntung, ada warung sanjay dengan air berwarna kopi susunya 🙈. Alhamdulillaah berkah shalat shubuh, ada juga yg mau mungut kita, dikasih selimut yg hangat dan tentunya makan yang enak 😝

Trs seolah kita lupa dengan rasa capek dan apa yg terjadi selama perjalanan, kita memilih cekikikan dan menikmati kota tempat lahir Bung Hatta. Ngarai Sianok dengan petsi segelas berdua, Gua Jepang dengan ah, buah apa itu yang aneh? Aku lupa. Kemudian Jam Gadang icon landmark-nya Sumatra Barat dan shopping time di Pasar Ateuh.

1. Jam Gadang, bersama Gusra (PM IX Banggai) 2. Bioskop Tua di Bukittinggi 3. Buah Unik (yang lupa namanya) 4. Bersama Aulia di Pandai Sikek Fatimah Sayuthi 5. Bersama Orang tua Fajri di Great Wall-nya Ngarai Sianok Bukittinggi
 Gua Jepang (atas) dan Ngarai Sianok

Gua Jepang dan Ngarai Sianok (masih satu kawasan)

Hari kedua kita mengambil short course-nya budaya Minang di Istano Basa Pagaruyung sama si Uni yg malah seneng kita cerewet nanya, sampai kita pinter banget soal ke-Minang-an, haha, menikmati es -ah, lagi-lagi lupa namanya- dan kemudian berkunjung ke pusat songket Pandai Sikek yang keren banget dan sebandinglah yaa sama nominal yg ditawarkan. 

Di Istano Rajo Pagaruyuang 1. Mendengan short course Budaya Minang 2. Di depan bangunan utama 3. Istano Rajo Baso Pagaruyuang 4. Baju adati pengantin Minang lengkap dengan suntiang 5. Bersama Uda & Uni Minang

Esoknya alarm tubuhmu memberikan sinyal minta istirahat dan kesempatan itu kita manfaatkan untuk lebih mengenal si empunya rumah. 

Perjalanan (menuju Padang) dilanjutkan besoknya, kita sempet kesel juga sama travel 🙈 untuk menghadiri pernikahan sahabatku. Kita sangat excited dan terkaget-kaget menyaksikan tari piring secara live, yang ternyata setelah gerakan gemulai kemudian ditutup dengan atraksi semacam debus 🙊 menginjak-injak beling piring yang dipecahkan. Oiya, kita juga mempraktekan permainan KIM yang kita pelajari di Bukittinggi, ya? Sayang, kita hanya hampir menang. Ah, sedekat apapun hampir, ia tidak pernah jadi kenyataan, ya? 👈 nih, quotable! Catat! 😂

Lagi, petualangan kita berlanjut, dibumbui mau dikejar anjing dan nyasar di kawasan bangunan tua di Jembatan Siti Nurbaya. Hmm.. Saat itu pun kita sadar, panas dan gersangnya Lampung tak ada apa-apanya dibanding teriknya matahari Padang 🌞🌞

1. Kompleks bangunan tua di sekitar Jembatan Siti Nurbaya 2. Baralek Gadang Uthi & Dede 3. Di Atas Jembatan Siti Nurbaya

Tak hanya di Ranah Minang, kita pun mencicipi Tanah Wong Kito Galo. Ketawa dengerin ceritanya si Bapak Supir Taksi yang serba tahu, baik tentang Palembang sampai tentang Soneta. Berkeliling menikmati sejuknya hutan kota dengan leluasa, merasakan naik perahu saat penempatan seperti PM-PM perairan lainnya di sungai terpanjang se-Sumatra, Sungai Musi. Menjumpai jejak peradaban etnis Tionghoa di Pulau Kamaro, sampai adegan sedikit debat dengan para pengamen cilik yang seperti jamur sawit saat musimnya di pinggir Sungai Musi, di bawah Jembatan Ampera.

Menikmati Hutan Kota Putin Kayu, Palembang
1. Jembatan Ampera di malam hari 2. Anak-anak tepi Sungai Musi 3. Jalur Kapal Aliran Sungai Musi 4. Kampung Terapung di Pinggiran Sungai Musi
1. Ani memotret pinggiran Sungai Musi 2. Berdialog dengan Anak Jalanan 3. Jembatan Ampera di Siang Hari 4. Menara Pagoda di Pulau Kamaro 5. Kami bersama Carier

Menutup perjalanan, kita memilih moda kereta api untuk kembali ke Tanah Sai Bumi Ruwai Jurai, yang ternyata banyak berhentinya (kalau di Sumatra), haha.

Perjalanan yang menyenangkan bukan? Hahaha.. Semoga kamu pun bilang ‘iya’, kalau gak ‘iya’, kamu kudu ulangi lagi, hahaha..

Dari perjalanan itu kita tahu, di Tanah Sumatra Barat, tak akan pernah kita temui Alfamart dan Indomaret. Tak akan kita jumpai rumah makan Padang, karena semuanya nasi Padang, haha.. bahkan warung tegal pun rasanya rasa Padang.

Dari perjalanan itu, akhirnya kamu menyimpulkan, masih ada yang belum rusak alamnya di Sumatra, iya, rusak dengan perkebunan sawit atau karet, seperti di Lampung, Sumatra Selatan, dan Jambi, yang kita lewati. Karena di Sumatra Barat, kita masih banyak menemukan hamparan sawah dan selokan yang mengalirkan air yang jernih.

Dari perjalanan itu pun kita menemukan perbedaan transmigran Jawa di Sumatra Selatan dan di Lampung, cukuplah kita yang tahu, hehe..

Dan dari perjalanan itu akhirnya saya tahu, tahu alasan kenapa kamu mau diajak melakukan our short escape ini. Padahal harga tiket pesawat Padang-Palembang mahal beut. Kamu bilang, “Aku mau mengenal dan memahamimu lebih dalam”. 

*Sayang, lo cewek, coba cowok yang bilang! 😂😂😂😂

The last but not least, Thanks Nona Septiani Caturasih Suyono. Seorang yang bernama Jawa mentok tapi lebih bangga dengan Suku Sabunya. Seorang yang pertama kali saya temui di Jalan Galuh II No. 4, Kantor Gerakan Indonesia Mengajar. Semoga suatu hari kita bisa melakukan perjalanan-perjalanan lain, entah berdua lagi, atau kelak kita sudah sama-sama ‘berdua’ atau lebih 😆 dan tentunya jauh lebih amazing dari perjalanan setengah Sumatra setahun yang lalu. Gimana gak amazing,  coba sebutkan moda transportasi apa yang tidak kita gunakan? Bis, ojek, angkot, jalan kaki, delman, perahu, kereta api, sampai pesawat terbang yang mahal banget itu tiketnya, haha.. *tetep yaa..

See you when I see you, Nona! Happy anniversary of our a-half-Andalas Vacation 🎉🎉

Dua pasang kaki yang menapaki setengah Sumatra

Salam,

DC

#1week1writing

Advertisements

2 thoughts on “Setahun Yang Lalu: Setengah Sumatra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s