Cinta tapi Beda (Suku)

“Apa yang akan kamu lakukan jika orang tua pacarmu tidakmenyetujui hubunganmu karena kamu beda suku sama dia?”

Chat pertama yang masuk dari seorang teman lama yang kemudian diikuti oleh emoticon menangis yang banyaaaaakkkk banget. >> 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

Ia, teman saya itu, baru saja putus dengan pacarnya setelah lebih dari 2 tahun pacaran. Saya selalu ingat sekali bagaimana teman saya ini selalu bahagia dan bersemangat ketika menceritakan pacarnya ini. Iya, sosok pacarnya ini adalah sosok ideal baginya. Cerdas, penyayang, sopan, pengertian, good looking, sudah punya pekerjaan yang bisa diandalkan, ah pokoknya gak ada alasan buat teman saya meninggalkan pacarnya. Seperti oase di padang pasir. Dia yang sebelum-sebelumnya selalu disakiti, bahkan sampai diselingkuhi, kemudian bertemu dan menjalin hubungan dengan yang selama ini diidam-idamkan. Lalu kemudian harus berakhir karena tak ada restu dari pihak keluarga si pacar. 

I feel thaaaatttt! #eeh hehehe..

Ketika zaman masih abege dulu, ya sekitar semester 3, saya pun pernah menjalin hubungan dengan seseorang yang berbeda suku. Reaksi orang tuanya? Tidak merestui. Tapi mungkin karena kami juga dianggap masih bocah dan mungkin diyakini akan putus jua, jadinya penentangannya pun tidak begitu berarti, haha.. bahkan orang tuanya mengirim kakak pacar saya saat itu untuk mengenali bagaimana saya, dan akhirnya saya pun berteman dengan kakaknya, akrab, bisa mulai diterima, bahkan ketika kami putus (putusnya gak ada kaitan sama perbedaan suku dan restu ya), kakaknya pernah berusaha mendorong saya untuk balikan lagi. Tuh kan, jadi curhat! Maafkan >,<

Oke, saya tidak akan membeberkan lebih dalam bagaimana kisah teman saya ini. Saya akan mencoba menuangkan pemikiran saya untuk menjawab pertanyaan di awal tulisan ini. “Bagaimana jika orang tua tidak merestui hubungan karena perbedaan suku?

Tinggal di Indonesia yang manusianya majemuk, terdiri dari ratusan suku bangsa, tentu potensi bertemu dan nyaman dengan seseorang yang berasal dari suku berbeda itu besar sekali. Apakah jatuh cinta dan kemudian menikah dengan yang berbeda suku itu ‘haram’? Jika menilik pada ketentuan syarat dan rukun nikah (khususnya dalam tatanan Islam, kalau agama lain saya kurang paham), tidak ada suku bangsa. Itu artinya nikah akan sah walau berbeda suku. Bahkan Tuhan sendiri yang menciptakan manusia itu bersuku-suku agar bisa saling mengenal, bukan? Lalu secara undang-undang pernikahan? Saya sudah googling dan tidak menemukan syarat sesuku dalam UU Pernikahan di Indonesia. Tapi norma yang berlaku di tatanan masyarakat kita bukan hanya agama dan negara, ada adat yang (masih) mengikat di beberapa daerah. Ada beberapa orang tua yang masih menjunjung adat dan mencita-citakan anak-anaknya menikah dengan yang sesuku. Biar apa? Bisa jadi biar anaknya bisa menikah secara tata cara adat, bisa jadi agar anaknya punya kedudukan dalam adat, bisa jadi anak keturunannya mewarisi marga adat, atau karena orang tua udah paham betul bagaimana adatnya dalam pengasuhan atau kebiasaan di sukunya dan belum tahu atau terpapar ‘katanya’ tentang suku lain. As simple as that (tapi gak simpel juga sih ya? Hehe).

Beruntungnya, pertimbangan suku atau adat, bisa dikatakan jauh lebih fleksibel dibandingan ketentuan agama. Buktinya banyak kok pasangan yang menikah dengan perbedaan suku bangsa.

So, apa yang bisa diusahakan jika kebetulan Tuhan menganugrahkan perbedaan suku dengan pasangan?

Pastikan dulu pasangan mau berjuang gak? Kan yang akan menjalani nantinya berdua, masa berjuangnya sendirian? Hehe..

Kalau no. 1 jawabannya “Ayo”, lakukan pendekatan dari masing-masing ke orang tua masing-masing dulu. Dia atau kita yang tahu betul bagaimana orang tua masing-masing, kan? Kita bisa cerita bagaimana dia kesehariannya, bagaimana dia memperlakukan kita, ceritakan dia sebagai pribadi.

Perlahan, bisa dikenalkan si dia ke orang tua, ke keluarga,biarkan mereka menilai sendiri bagaimana si dia. Syukur-syukur pada tahap ini orang tua mulai ‘meluluh’ dan mau menerima dia.
Kalau orang tua tetap saja mempermasalahkan sukunya si dia? Hufh

Bicara dari hati ke hati. Bisa dilakukan saat suasana hati orang tua lagi oke. Bicara dengan suasana yang santai. Tanyakan kepada mereka bagaimana pandangan mereka tentang si dia, tentang sukunya si dia, dan pandangannya tentang apa yang akan terjadi kira-kira jika sukumu menikah dengan suku lain. Pada bagian ini kebesaran hati dan keluasan pikiran kita benar-benar diuji.

Kalau pada tahap ini pun orang tua masih keukeuh sureukeuh? Dia atau kita yang tahu betul bagaimana orang tua masing-masing. Apakah orang tua adalah tipe yang bisa diajak nego atau titahnya adalah sabda ratu? Kalau memang dia memiliki kualitas pribadi unggul (unggul? Bibit kalee 😜) tak ada salahnya untuk diperjuangkan, karena pernikahan yang legal dan halal tak mempersyaratkan suku bangsa, tapi jangan lupa, jangan sampai usaha meraih kebahagian kita melukai hati mereka.

Berdiskusilah dengan pasangan, sejauh apa akan berusaha dan sampai kapan. Pastikan yang berjuang tidak sendiri dan siapkan untuk hal apapun yang perlu diikhlaskan.

Selamat memperjuangkan apa yang perlu diperjuangkan dan mengikhlaskan apa yang harus diikhlaskan.

Salam,

DC

#1week1writing

Advertisements

3 thoughts on “Cinta tapi Beda (Suku)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s