Aci Tanpa ATM

Sore tadi, Aci, sebutanku untuk lelaki yang sudah seumuran negeri kita, Indonesia, kakekku, berkata pelan kepadaku, “Katanya, di kota sudah turun, Sunsun tadi bilang, mungkin buat pensiunan besok, besok deh dilihat”. Tentunya obrolannya saat itu full in Sundanese, hehe..

Kabar tentang gaji ke-13 dan 14 jadi obrolan hangat para PNS dan pensiunan saat ini. Aci, seorang pensiunan PNS Dinas P&K, atau Dinas Pendidikan saat ini, pun sedang menanti. Memang saat ini ia tak lagi ada tanggungan setelah Enin setahun lalu berpulang. Tapi mungkin ia ingin membeli sesuatu dari uangnya. Atau memberikan sesuatu untuk cucu-cucunya. Seperti saat saya masih kecil dulu. Atau membeli makanan favoritnya, mie ayam Borju (yang ngehits seantero Tasik) atau Soto yang di Jalan Cagak. Itu dilakukan sejak dulu, sejak Aci pensiun, sekitar tahun 2001 kalau tidak salah.

O, ya, setiap bulan Aci mengambil sendiri gajinya di BRI Cabang Tasikmalaya. Kantor cabang tingkat kota. Katanya, ini BRI pertama di kotaku. Obrolannya sore ini mengingatkanku pada waktu masih kuliah dulu. Saat itu saya sedang pulang, kebetulang pas tanggalnya, saya diajak ke BRI sana dengan mengendarai motor. Saat itu saya diminta sudah siap jam 6.30, biasanya ia akan pergi dari jam 6 atau lebih pagi lagi jika ia prediksi bank akan penuh. Katanya, biar dapat antrian kecil.

Sesampainya disana, ia meminta secarik kertas dari satpam penjaga BRI, dapat no 68. Disana pun sudah terlihat beberapa bapak-bapak seumurannya. Aci pun menyalami hampir separuhnya, mungkin yang ia kenal saja. Saya hanya memperhatikan dan sedikit dengar obrolan mereka. Beberapa ada yang menanyakanku. Aci menerima secarik kertas kecil bertuliskan nomor dari salah seorang yang tadi ngobrol bersamanya. Rupanya kertas itu kertas antrian juga dan temannya itu mengambilkannya.

“Dapat nomor 45, lumayanlah. Yang kita dapat nomor 68. Lama. Mereka datangnya dari Shubuh. Yang 45 ini paling jam 9-an”, ia mengatakannya kepadaku sambil memperlihatkan kertas pemberian dari temannya tadi.

Rupanya ruangan sebelah ini digunakan khusus untuk pengambilan gaji pensiunan PNS se-kota dan kabupaten Tasikmalaya. Saat itu saya pun baru tahu. Jam 8 petugas mulai memanggil antrian.

Tepat. Jam 9 lewat nomor antriannya dipanggil petugas. Aci segera beranjak ke loket yang memanggilnya. Tidak sampai 2 menit, ia sudah kembali. Mengajakku beranjak dan pamit kepada beberapa orang yang ia kenal.

“Kita beli dulu obat si Enin, terus mau beli soto atau mie ayam?”, tanyanya kepadaku.

“Soto aja”, jawabku singkat.

Saat itu kami membeli obat untuk Enin dan beberapa kebutuhan seperti minyak goreng, sabun, kecap, mie instan, dan camilan. Kemudian lanjut ke warung soto. Warung soto itu cukup ramai. Saat menunggu saya pun bertanya kepada Aci apa yang saya pikirkan dari tadi.

“Ci, emang gak bisa ya bikin ATM atau dipindah ke BRI yang deket rumah?”

Sejenak ia terdiam. Mengalihkan pandangannya ke arah jalan.

“Bukan tidak bisa, tapi pergaulan Aci ada di kota”, saya pun mengernyitkan dahi tak mengerti. Ia melirik dan tersenyum. “Aci dulu dinas saat kota dan kabupaten masih satu, Kabupaten Tasikmalaya. Gampang minta pindah ke Gobras (lokasi BRI cabang dekat rumah) atau Aci minta diajarkan pakai ATM, tapi Aci gak bakal tahu kabar teman-teman Aci”

“Kan, ada telepon..”, saya pun menyahut.

“Beda. Telepon itu kalau ingat. Kalau saat menunggu itu kita bisa ngobrol macam-macam. Tadi juga jadi keingetan, jadi ngobrolin si A, eh ternyata si A sudah meninggal. Teman-teman Aci ada telepon? Ada, tapi gak sempat mereka ngabarin ke Aci. Coba kalau Aci gak ke BRI, mungkin Aci gak bakal tahu. Tadi si B gak kelihatan, ternyata lagi sakit. Kalau dirawat di rumah sakit yang dekat atau rumahnya dekat, ya ditengokin, kalau jauh ya didoakan. Ya bisa jadi ajang reuni juga. Kalau diniatin reuni seperti reunimu sama teman SMA, ya buat angkatan Aci mah susah”

Saya tertegun mendengar penjelasannya. Saya pun tadi lihat bagaimana Aci bahagia bertemu teman-temannya. Mungkin memang bahagia bertemu, mungkin juga ditambah bahagia akan gajian, hehe.

Teknologi ATM memang lebih canggih, tapi menunggu berjam-jam diselingi obrolan kabar dengan teman lama lebih ia pilih.

Ah, memori itu mengingatkanku lagi. Saya sering keep in touch dengan beberapa teman via medsos atau layanan chatting, tapi memang interaksi langsung itu jauh lebih greget. Mungkin kita sering bilang di chat “Alhamdulillaah baik :)”, tapi sebenarnya tidak sedang baik. Atau saya yang sekarang suka online shopping karena setelah dihitung-hitung harganya sama saja dan lebih simpel, padahal mungkin saya akan menemukan interaksi-interaksi dengan penjual, atau bertemu dengan kawan lama yang jarang komunikasi atau hilang kontak.

Sometimes we have to disconnect, it’s not about battery life, it’s about real life.

Salam,
DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s