Buat Siapa?

Pagi itu kelas 1 dan 2 tidak ada yang mengajar. Saat itu, Bu Yuli, wali kelas kedua kelas itu berhalangan hadir. Jadilah hari itu saya meng-handle kedua kelas itu. Fakta mengagetkan, ah sebenarnya harusnya saya sudah tak kaget lagi, kelas 2 masih banyak sekali yang belum bisa membaca. Menulis? Masih acak adul.

Seorang anak yang paling menarik perhatian saya itu Benny namanya. Saya pernah mendengar memang kalau anak ini sering meminta perhatian lebih. Bu Yuli pun sering menegurnya. Banyak aduan dari teman-temannya karena digodain Benny. Ia sering menolak belajar juga, katanya.

“Benny, duduk dulu sebentar ya.. Temannya mau menulis, atau Benny berdirinya agak ke pinggir, biar tidak menghalangi pandangan teman-teman”, bujukku pada Benny. Entah harus berapa kali saya membujuk dan mengulangi rayuanku agar Benny mau duduk. Hmm.. Anak ini memang penguji kesabaran sekali, pikirku. Beruntung, dia akhirnya mau -entah memang sudah capek berdiri- duduk, tapi di kursi Fajar. -_-”

Saat waktu pulang tiba, ia langsung berlari. Menabrak teman lainnya. Hmm..

“Buuu.. Bu Dithaaaa.. Buuu..” Terdengar suara anak memanggilku. Saat kubuka pintu kamar, rupanya Fajar, tapi yang membuat saya sedikit kaget, ada Benny serta disampingnya. Saya pun tersenyum padanya. Dia sepertinya mengerti maksudku. “Aku gak les, Bu. Aku nemenin Fajar aja. Aku ra belajar yo, Bu..”

“Lah, nopo ra ikut belajar, Ben?”
“Aku kan kesini nemenin Fajar, Bu”
“Sekalian aja, belajar bareng Fajar”, bujukku.
“Nggak, ah, Bu. Aku liatin aja ya?”

Saya pun hanya menghela napas dan bersiap mengajar les Fajar. Tak lama, datang Mia. Terlihat Mia dan Fajar semangat belajar, sedangkan Benny hilir mudik melihat kedua temannya tengah asyik mengerjakan soal dari saya.

“Sini, Ben! Duduk samping Ibu”, panggilku.
Ngapa, Bu? Aku kan gak mau belajar”, jawabnya.
“Ih, siapa yang mau ngajak Benny belajar? Kan tadi Benny udah bilang ke Ibu kalau Benny gak mau belajar”
“Terus buat, Bu?”
“Duduk aja samping Ibu. Ibu mau ngobrol-ngobrol sama Benny”

Ia pun akhirnya mau duduk di sampingku. Saya pun menyambutnya dengan senyum termanis *kalau tidak lupa itu udah manis maksimal*. Ia pun membalas senyum saya malu-malu.

Saat ia terduduk, sejenak saya diamkan sampai saya membuka obrolan kami. “Benny sudah bisa membaca?”. Tak ada jawaban. Hanya sebuah gelengan kepala. “Udah tahu huruf?” Ia kembali menggeleng. Kemudian disusul dengan sebuah pernyataan, “Aku gak mau belajar, Bu”.

Saya pun tersenyum lagi mendapati kembali kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Perlu kata-kata tepat untuk merespons jawabannya. Butuh satu hela napas untuk menjawab kalimatnya. “Kita gak akan belajar, kita bermain aja ya, Ben?”

“Main apa, Bu?”

“Main mengenal bentuk”

“Bentuk apa, Bu?”, tanyanya lagi.

Saya pun langsung menuliskan sebuah bentuk huruf, huruf A.

“Ini bentuk buat belajar, Bu..”, protesnya.

“Ini namanya huruf, Ben..”

“Tapi aku gak bisa, Bu..”

“Belum bisa..”

“Buat siapa aku bisa, Bu?”, tanyanya mendongakkan kepala.

“Buat apa mungkin, Ben, ya? Ya biar Benny pinter, bisa baca, nanti tahu banyak hal”

“Nggak, Bu. Buat siapa aku bisa? Wong aku wis ra duwe buk’e..” Ia mencoba mengklarifikasi jawabannya.

Saya pun tertegun mendengar jawaban Benny. “Buat siapa?”. Sudah beberapa bulan saya di sekolahnya tapi saya baru tahu kalau anak yang ada di sebelah saya ternyata sudah tak beribu. Kemana saja saya? Kutatap lekat matanya.

“Ayahku ngareng -ngareng adalah membuat arang di ladang, bisa berhari-hari, tidur di gubuk darurat yang khusus dibuat selama membuat arang-, adekku wis digowo bibiku”, ia kembali bercerita.

Rupanya itu maksud dari jawaban “buat siapa?”. Apakah ia merasa sendirian? Apakah ini jawaban mengapa Benny di sekolah selalu mencari perhatian? Kuhela napas panjang. Kugali lagi cerita tentangnya, biar saya dapatkan jawaban dari pertanyaan dalam hati langsung dari orangnya. Jadi ayahnya pulang saat pagi atau siang hari menyiapkannya makan kemudian kembali lagi ke ladang. Tapi ini tidak setiap hari, hanya ketika musim ngareng saja begitu. Sehari-hari ia tinggal berdua bersama ayahnya.

“Ayahmu kan masih ada, Ben. Dia hanya sedang bekerja. Coba, menurut Benny, buat apa ayah bekerja?”, tanyaku.

Kepalanya kembali menggeleng. Pertanyaan itu akhirnya kujawab sendiri. “Ayah bekerja buat Benny. Buat sangu Benny, makan Benny, beli buku, tas, pulpen, sepatu, iya kan?” Kepalanya kali ini mengangguk pelan. Terlihat ia sedang mengingat sesuatu. “Nah, coba Benny ingat-ingat lagi, buat apa ayah beli baju, buku, pulpen buat Benny?”

“Sekolah..”, pelan sekali ia menjawab. Saya hampir tak mendengar. Tapi untung, fokusku sedang terpusat pada Benny. Walaupun sinyal rendah, saya masih bisa menangkapnya, hehe.. Saya pun tersenyum mendengar jawabannya.

“Sekolah buat apa, Ben?”, lagi, saya tanyakan lagi pertanyaan ini.

“Tapi, aku gak bisa, Bu..” Jawabannya sama, seolah memang ia sudah tahu arah pertanyaan saya.

“Benny mau dengerin Ibu?”, tanyaku lekat menatap matanya. Anggukan kecil pun kembali terlihat.

“Dengerin Ibu ya, Benny bukan gak bisa, tapi belum bisa. Percaya sama Ibu, pelan-pelan juga Benny bisa. Kita kenalan sama hurufnya dikit-dikit aja. Sekarang coba Benny bayangkan. Tutup mata Benny..” Ia pun mengikuti ucapan saya. Menutup mata. “Bayangkan Benny sudah lancar membaca!”, pelan tapi pasti, ada segurat senyum menyungging. Beberapa detik saya biarkan ia dengan senyumnya. “Seneng, Ben?”, tak sabar saya bertanya emosi yang dia rasakan. Matanya kembali terbuka. Anggukan itu kembali ia berikan. Kali ini dengan senyum yang lebih manis.

Pertanyaan saya yang terakhir mungkin memang membuyarkan mimpinya. Mimpi ketika ia sudah lancar membaca. Entah apa yang ia impikan jika ia bisa membaca. Biarlah, biar Benny saja yang tahu. Tapi kamu memang harus bangun, Ben. Bangun dan membuka mata untuk kamu berjuang mewujudkan apa yang kamu bayangkan saat memejamkan mata. Jika memang kamu sudah tidak lagi menemukan untuk siapa kamu bisa membaca, tapi setidaknya kamu sudah menemukan alasan untuk apa. Untuk agar kamu bisa tersenyum sebahagia tadi ya, Ben?

image

Salam rindu untuk Benny,

DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s