Komitmen Itu Menyeramkan

Pertemuan saya 3 hari ini bersama partners in crime dari kuliah setelah entah berapa tahun gak ketemu kembali membawa oleh-oleh. Oleh-olehnya bukan oleh-oleh biasa. Ah, selalu, ngobrol-ngobrol cantik bareng mereka selalu meninggalkan jejak manis dalam ingatan. Apalagi mereka sekarang udah lebih matang, hihii..

Inah yang sekarang udah resmi menyandang gelar psikolog, semakin bijak saja dalam memandang suatu hal. Gisep dengan berbagai pengalamannya, tak kalah wise nya dalam menjalani hidup, oiya, dia juga sudah berhijab sekarang, makin nice saja. Dan Nisa, seorang guru preschool semakin stay cool dan keibuan. Saya? Semoga ada secercah perubahan positif pula pada diri ini.

Obrolan bersama mereka memang selalu renyah. Obrolan berat pun selalu dibumbui celoteh konyol dan gelak tawa. Kali itu kami membahas komitmen. Rupanya Nisa sedang dikenalin sama Gisep dengan temannya. Katanya sih, cowok yang dikenalin itu tertarik sama Nisa gegara lihat foto Nisa di profile picture WhatsApp. Yang saya lihat sih, Nisa tetap stay cool nanggapin tuh cowok. Malah cowoknya yang suka galau dengan sikap Nisa. Hahaha..

Gisep sebagai perantara suka update gimana tuh cowok ke Nisa. Sepertinya cowo itu terlihat serius dan usaha. Nisa yang suka Jepang dan musik metal, membuat si cowok usaha buat nyari tahu, haha.. Ternyata, dibalik cool nya Nisa, dia khawatir. Apa yang dia khawatirkan? Dia khawatir cowok itu beneran serius, secara dia gak pernah dideketin dan diusahain seusaha cowok ini, haha..

Kenapa Nisa harus khawatir ada yang ‘nyeriusin’ dia? Ya, karena kalau ada yang serius, secara hitung-hitungan manusia artinya dekat dengan yang mau komitmen.

Komitmen.
Satu kata yang terdiri dari 7 huruf *defini macam apa ini* Kata KBBI sih komitmen itu perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak. Kalau dilihat dari kata-kata penyusunnya, ada janji atau perjanjian dan juga terikat atau keterikatan. Orang bilang, janji itu utang, harus dibayar, wajib, tuntutannya sampai setelah kematian. Dan terikat atau keterikatan? Coba ikatkan tali di tangan atau kaki, sehingga kaki atau tangan kita memiliki keterikatan satu sama lain. Gimana? Gak nyaman, kan?

Analogi tadi sepertinya ngeri kali lah.. Iya, saat itu kami memang membayangkan komitmen itu sebagai sesuatu yang menyeramkan. Kita yang tadinya single ladies yang bebas, pertanggungannya hanya pada Tuhan, diri, dan orang tua, kemudian membayangkan akan ada seseorang asing yang jadi partner pertanggungan. Ya, teman-teman saya ini memang tercatat baru baru 1-2 kali pacaran (komitmen tingkat paling ecek-ecek), bahkan Nisa belum pernah. Belum lagi banyaknya contoh yang kami lihat, bahwa pacaran memang sangat jauh berbeda dengan komitmen dalam pernikahan. Banyak peran baru ketika kita memutuskan menikah, istri, menantu, ipar, bahkan ibu, langsung kita sandang. Untuk satu gelar istri saja, rasanya banyak sekali kewajibannya. Meredam ego bahwa bukan lagi aku-dan-kamu tetapi jadi kita pun itu PR sendiri. Ditambah lagi jika ternyata pasangan yang Tuhan kirimkan itu adalah orang baru yanh datang langsung serius, kemudian dalam jangka waktu singkat dia sudah berubah jadi orang terdekat kita, berbagi hidup, berbagi pikiran, berbagi kasur #eh, berbagi semua hal. Sounds scaried, yes?

Tapi kalau kita berdalih belum siap dengan semua itu, siapa yang akan menjamin 5 atau 10 tahun lagi kita siap? Terlebih kalau yang ‘nyeriusin’ ini dibalik ketikasempurnaannya memang tidak punya cukup alasan untuk kita tolak.

Apa kita harus memaksakan diri buat komitmen?

Dalam obrolan itu, Inah cerita apa yang disampaikan dosennya, “Komitmen memang menyeramkan. Kita jangan komitmen dengan manusia, tapi komitmenlah dengan Pemilik manusia”.

Yes, satu-satunya cara buat siap dengan ikatan yang ‘memaksa’ kita buat komitmen, ya kita jangan komitmen dengan orang. Orang itu dinamis. Siapa yang akan jamin kalau orang yang tengah cinta mati ke kita hari ini akan cinta mati juga esok hari, tahun depan, atau 50 tahun lagi? Bahkan Yunie Sara dan Raffi Ahmad udah buktiin, kan? *Hahaha.. Intermezzo* Faktor X-nya terlalu banyak yang ga bisa kita kontrol. Sesempurna apapun manusia, pasti ada celah yang punya potensi untuk kita kecewa.

Gimana caranya komitmen sama Pemilik manusia? Pasrah.

Di akhir pertemuan saya dengan Inah, semesta memberikan kesempatan untuk saya ngobrol lebih lama karena delay. Saya cerita tentang kehidupan saya. Tentang hati tentunya, hehe.. Sudah beberapa kali saya mencoba serius dan komitmen dengan seseorang, bahkan ketika semua seakan sudah terkontrol, semua buyar. Saya semakin sadar, saya komitmen pada hal yang salah. Kontrol saya bahwa semua akan sesuai rencana masih terlalu tinggi. Pasrah saya masih minus.

“Tapi lo udah banyak berubah loh, Dit. Sadar gak? Lo gak sengoyo dulu, tingkatin lagi yaa pasrahnya”
Bukan tidak boleh untuk struggle dalam berusaha, tapi bawa serta bahwa hasil bukan dari kita, ada Tangan Penguasa Alam yang bekerja.

Thank you, Inah, Gisep, dan Nisa.

image
Dari kiri ke kanan: Nisa, saya, Inah, & Gisep

You are awesome. 💜💛💚💙❤

Salam,
DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s