Perjalanan

Sejak kecil saya sangat senang dengan perjalanan menggunakan transportasi umum mulai dari angkot sampai bis kelas best in class yang seat-nya udah kayak kursi pijat refleksi, pesawat, kereta, sampai ojek. Dan siapa sangka, kenikmatan naik transportasi umum itu menginspirasi adik sepupu saya yang masih kelas 4 SD, ya, dia pengen banget naik bis Budim*n! Hahaha..

Dulu, saya bahkan ingin masuk SMP di pusat kota karena saya ingin melakukan perjalanan naik angkot ke sekolah dan baru terwujud di SMA. Ya, bagi saya perjalanan ke sekolah naik angkot mengasyikan, apalagi duduk di bangku yang bisa melihat ke segala arah (bangku kenek yang ada di belakang kursi sopir), saya bisa melihat penumpang lain dengan beragam ekspresinya. Dan naik angkot ke sekolah membuat saya ingin naik level, naik bis saat kuliah, hahaha.. Bandung, jadi pilihan.

Tasik-Bandung memang hanya memakan waktu 3 jam perjalanan, tapi untuk ke-18 cucu dari nenek-kakek dari pihak mama dan ke-14 cucu dari pihak ayah, hanya saya yang sekolah sejauh itu. Iya, kalau menurut orang, orang Sunda itu betah di imah (betah di rumah) alias jarang banget ngerantau.

Bahkan saya disebut anomali di keluarga, hahaa.. Bahkan mereka mempertanyakan kenapa saya senang sekali melakukan perjalanan (tapi sebenernya mereka nanyanya “naon sih resepna kaditu kadieu? Meunding di imah, betah, teu capek” *translate pakai google saja ya, hehe) tapiii whatever lah yaa.. Saya menjelaskan pun bagaimana serunya, mungkin mereka juga sulit paham, saya sih senyumin aja.. 🙂

Hal yang saya sukai dari perjalanan adalah banyaknya kisah, kasih, dan beragam manusia dengan kompleksitasitasnya saya temui. Pernah saya duduk bersebelahan dengan seorang ibu asisten rumah tangga di Jakarta yang berkisah tentang perjuangan sebagai single parent yang trauma dengan laki-laki tapi berhasil tidak menularkan kebenciannya terhadap laki-laki pada anak gadisnya.

Pernah saya duduk bersebelahan sama Bapak yang mengaku sebagai ‘buruh rakyat’ (alhamdulillaah saya dibayari) yang melakukan perjalanan malam dari Jakarta karena rindunya pada Sang Guru. Ia bercerita, dunia yang sedang ia jalani adalah dunia yang rentan dengan godaan, itu sebabnya perjalanan rutin menemui Sang Guru ia lakukan untuk menjaga godaan tersebut.

Atau saat mbak-mbak driver ojek online curhat jiwa raga mengeluhkan tentang hidupnya sepanjang jalan. Mungkin dia hanya butuh kuping untuk siap mendengarkan keluhannya. Ending nya ternyata dia sendiri yang menyimpulkan ‘harusnya’ dia bagaimana. Apa yang dia katakan kepada saya yang saat itu tidak keberatan mendengarkan curhatannya? Kalimat singkat saja, “doakan saya ya Mbak..”

Pernah saya melihat sendiri bagaimana binar semangat, excited, dan bahagia karena akan melepas rindu dari seorang ayah yang akan menengok anaknya yang sedang mondok. Beliau cerita, mondok adalah cita-citanya sejak kecil yang belum kesampaian, alhamdulillaah anaknya mau mondok.

Saat perjalanan sendiri ke desa penempatan, di sebelah saya duduk seorang wanita muda yang terisak karena suaminya memilih kembali dengan mantan istrinya. Disitu saya ingat, Dosen Konseling saya pernah mengingatkan untuk mahasiswa Psikologi sedia tissue setiap saat, and it works! Tissue guna, cyiiin..

Dalam perjalanan pun saya menemukan bahwa banyak sekali orang Sunda yang berkeliaran dalam perjalanan saya. Itu artinya saya bukan anomali, dong? Saya selalu merasa senang ketika di tanah yang bukan Tanah Priangan ada orang-orang yang berbicara Bahasa Sunda. Rasanya seperti nemu saudara, haha..

Intinya perjalanan selalu menawarkan berbagai pelajaran, tentang arti obat rindu, tentang memburu yang dituju, tentang kekuatan yang dikumpulkan untuk kehidupan baru, atau bahkan tentang usaha lari dari rasa sendu. Ya, perjalanan juga gambaran dari kehidupan. Ada tempat yang kita tuju dan ada tempat yang disebut asal dan tempat kembali. Iya, perjalanan memang bukan sekadar menjalani hidup yang berjalan, tapi bagaimana mengambil pelajaran dari hidup-hidup yang dijalani.

Salam,
DC

#1week1writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s