Menikah itu Cinta atau Cinta itu Menikah?

Menikah itu cinta atau cinta itu menikah? Hahaha.. Judulnya baper banget kalau kata anak kekinian mah. Ngomongin tentang cinta memang tiada habisnya, caileh.. Tapi seriusan, tulisan saya kali ini ingin membahas tentang cinta, walaupun bukan pujangga cinta atau orang yang ahli dalam urusan ini, boro-boro ahli, gagal mulu, #eh.. tapi kita coba bahas yaa..

Tulisan ini bermula dari beberapa hari yang lalu saat saya menemukan posting-an album yang berisi animasi di timeline Facebook, bagaimana cinta diungkapkan dengan tindakan sederhana. Salah satu contoh animasinya seperti dibawah ini..

image
Gambarnya bikin baper :p


Well, melihat animasi-animasi ini muncul pertanyaan dari otak saya, jadi menikah itu cinta atau cinta itu menikah? Looohh.. kok jadi ke menikah? Hampir semua animasi itu menggambarkan bagaimana tindakan sederhana yang biasa dilakukan diantara anggota keluarga, termasuk membangun keluarga, bukan? Hehe..

Otak saya kembali mengingat salah satu materi saat kuliah dulu. Iya, seingat saya dulu waktu kuliah ada materi tentang cinta. Seriusan loh, ada teorinya, hehe.. Googling dan alhamdulillaah nemu. Namanya Triangular Theory of Love dari Stenberg (Kalau ingin tahu lebih dalam bisa dicari di Mbah Gugel, yaa..), untuk ke depannya kita panggil Sternberg dengan sebutan Om Sternberg-biar lebih akrab -___-

Om Sternberg mengatakan bahwa cinta itu memiliki 3 komponen, passion, intimacy, dan commitment. Passion ini muncul karena dorongan yang berasal dri ketertarikan fisik, dan ini bisa terlihat kalau kita merasa deg-deg-ser kalau ketemu sama yang si cinta (ngikutin Kang Emil :p), atau kebutuhan lain seperti ‘harga diri’ atau gengsi, serta dukungan lingkungan. Misalnya, seseorang yang jatuh cinta karena pasangannya ini cantik atau ganteng, kaya, atau anak seseorang yang ternama. Bahkan pada cinta dengan komponen ini ketertarikan secara seksual ada disini.

Komponen cinta yang kedua adalah intimacy, dimana perasaan dominan dari komponen ini adalah rasa nyaman, saling menghormati, selalu ada kapanpun untuk yang dicintai, saling memahami, dan saling memberi support emosional. Pokoknya ada rasa nyaman dengan yang dicinta. Nah, biasanya orang-orang mengartikan cinta sejati ini ya seperti cinta dengan komponen intimacy ini nih, wow..

And the last component is comitment! Menurut Om Sternberg, ketika seseorang memutuskan untuk memilih si A menjadi yang dicintainya, the one and only, itulah commitment. Masalah waktu? Tergantung, bisa short-term, bisa juga long-term. Jadi jadian aja pun bisa dikatakan commitment? Yes, menurut teori ini yaa (selama dia ga punya yang lain, haha), terus menikah adalah sebuah bentuk legitimasi dari commitment.

Oiya, Om Sternberg kan menyebut teori ini sebagai “Triangular Theory of Love” ya, karena dia menggambarkan cinta dan macem-macemnya dalam bentuk segitiga seperti ini:

image
The Triangular Theory of Love

Dari gambar ilustrasi di atas, lahir kombinasi-kombinasi komponen cinta. Ada yang namanya Liking, dimana totally diisi sama komponen intimacy. Ada dong pasti orang yang nyamaaaan banget sama seseorang, cerita apapun ke orang itu, saling support, menerima apapun kondisinya, tapi dia gak ada rasa deg-degan dan inilah yang biasa kita sebut sebagai persahabatan. Ya, bener-bener sahabat yaa.. yang gak ada keinginan untuk lebih atau yang menyimpan rasa, #uhuk! Ya secara kan, banyak perasaan bermodus sahabat :p

Nah, kalau Infatuated ini biasa orang sebut dengan “love at the first sight”. Daya tarik fisik sangat kuat disini, iya dong.. hanya ada satu komponen disini, komponen passion. Biasanya faktor psikofisiologis muncul, detak jantung lebih cepat atau mata yang tak mau berkedip pengennya tuh liat si dia terus, hehe.. Atau bisa sampai terangsang secara seksual, karena faktor fisiologis dominan sekali, termasuk hormonal.

Dari komponen commitment garis keras disebutnya Empty Love. Saya sendiri gak paham kenapa disebut “empty love”, padahal kan ada komponen commitment sangat dominan. Biasanya empty love ini ada pada orang-orang yang memutuskan untuk menikah karena dijodohkan.

Ada yang pernah jatuh cinta? Ada yang pernah merasa nyaman sama orang, pengen segalanya diceritain sama dia, ceritanya tentang dia terus, pengen ketemu terus, udah ketemu tapi gerogi, deg-degan, tapi pengennya lihat mukanya terus? Nah, ini dia kombinasi dari komponen intimacy dan passion. Romantic Love. Orang yang pacaran tapi belum siap menikah biasanya ada pada cinta jenis ini.

Jika komponen intimacy dan commitment bergabung, maka akan muncul namanya Companionate Love. Sering dong nemu yang tadinya sahabatan, udah deket banget, kemudian memutuskan untuk menikah? Apakah memang salah satu atau dua dari keduanya sebenarnya menyimpan rasa pada masing-masing? Bisa jadi. Atau mungkin keduanya menyadari bahwa mereka sudah saling membutuhkan, sudah saling nyaman, gak ada yang ngerti dirinya selain si dia, dan akhirnya memutuskan untuk hidup bersama tanpa sebelumnya ada ketertarikan secara fisik. Atau pasangan suami istri yang  sudah tidak memiliki ketertarikan secara fisik lagi dan tetap bersama. Nah, ini karena komponen intimacy dan commitment-lah yang membuat pernikahan langgeng.

Next, kombinasi antara komponen passion dan commitment. Seseorang yang memutuskan bersama (menikah) dengan seseorang dimana seseorang itu tertarik karena daya tarik fisik.

Last and the best, Consummate Love. Dimana setiap komponen ada, passion, intimacy, serta commitment. Sebuah bentuk cinta yang diidamkan semua orang :* Bisa jadi bentuk Consummate Love ini adalah manifestasi dari bentuk-bentuk cinta lainnya. Seseorang yang menikah karena dijodohkan, yang tadinya tidak ada ketertarikan secara fisik maupun emosional, pada akhirnya mengalami cinta Consummate Love karena seringnya bertemu, berinteraksi, dan adanya kemauan untuk tetap mempertahankan pernikahan, seperti pepatah Jawa “tresno njalaran soko kulino”. Atau pasangan yang bersama karena awalnya hanya nyaman (Liking), eh pada akhirnya menemukan sisi menarik dari pasangannya, bahkan ada yang bilang “bukan cantik yang membuat cinta, tapi cinta yang membuat cantik” #eaaa..

Sebagai tambahan yang bisa saya tarik kesimpulan, faktor afeksi kuat dalam komponen intimacy, faktor kognisi kuat dalam komponen  commitment, dan faktor motivation kuat dalam komponen passion.

Terakhir, segala bentuk cinta kata Om Sternberg tadi bukanlah bentuk stagnan yang tidak bisa diubah, justru karena kita manusia, dinamis, maka segala kemungkinan akan mungkin terjadi. Kalau katanya sih yaa.. “Attaining consummate love can be analogous in at least one respect to meeting one’s target in a weight-reduction program: Reaching the goal is often easier than maintaining it. The attainment of consummate love is no guarantee that it will last. Indeed, its loss is sometimes analogous to the gain of weight after a weight-reduction program: One is often not aware of the loss of the goal until it is far gone.” Kayak program diet, katanya. Ada yang pernah?

Jadi, cinta itu menikah atau menikah itu cinta? Silakan jawab dalam hati sendiri (:

Salam,
DC

#1week1writing

Advertisements

One thought on “Menikah itu Cinta atau Cinta itu Menikah?

  1. Cinta itu menikah atau menikah itu cinta? Menurut gw, cinta itu rasa. Bentuknya bisa ke manusia, makhluk hidup lainnya, atau benda.

    Barangkali, konsep triangular of love itu ngga melulu bisa diterapkan di perkara pasangan. Bisa jadi, di semua perkara.

    Just my two cent 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s