Sikap dan Homoseksual

Assalamu’alaykum.

Baru saja saya kembali dikagetkan dengan sebuah berita di timeline akun media sosial. Seorang artis X menjadi tersangka pencab*lan seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun. Artis X ini adalah laki-laki. Itu artinya artis X ini….. hmm..

image

Sumber foto: thejakartapos.com

Mendapati berita ini saya yakin isu mengenai homoseksual akan terus memanas. Entah memang jumlahnya semakin menyeruak atau memang dari dulu sudah banyak tetapi bedanya zaman sekarang banyak media yang gencar memberitakan  dan banyak pelakunya berasal dari kalangan public figure.

Berbagai opini bermunculan, kita seolah digiring media untuk mengikuti arus berita. Ya, seperti saya ini yang ikut arus dan akhirnya mengeluarkan opini dalam blog pribadi. Sekarang yang lagi gencar diberitakan ya LGBT, dimana di dalamnya ada homoseksual (baik itu gay atau lesbian). Khalayak seakan dibagi ke dalam 3 golongan, pro, kontra, dan “gak-mau-tahu”. Golongan “gak-mau-tahu”, biarlah, karena saya juga gak mau tahu, hehe.. Yang pro akan homoseksual mengusung bendera HAM (Hak Asasi Manusia) dan yang kontra biasanya berdalihkan moral, kesusilaan, dan agama. Dan saya, secara nurani harus-mengatakan-kalau-saya-kontra, pada perilakunya, bukan pada person-nya.

Mengamati dialog panjang tentang LGBT, terutama homoseksual, saya pribadi yang memiliki akal seiprit (baca: tidak banyak tahu dan akalnya cetek), hehe, muncul pertanyaan, untuk yang pro, yang pro disini mengenai kebebasan dan anti diskriminasi untuk LGBT, apa yang sedang mereka perjuangkan? Kebebasan seperti apa? Bebas menikah? Terus catatan pernikahannya untuk apa? Biar dikatakan sudah couple gitu? Atau di KTP bisa ada keterangan KAWIN? Bisa mengadopsi anak? Terus anak adopsinya bagaimana? Apakah mereka akan diajarkan mengidentifikasi bahwa ayah itu bisa laki-laki atau perempuan, begitu juga dengan sosok ibu? Atau mereka tidak bisa menjadi orang tua asuh yang memang berniat membantu itu anak?

Ah, akal saya memang segini adanya.

Terus menolak diskriminasi seperti apa? Kalau konsep tidak dibedakan mengacu pada lahan berkarya, saya sangat mendukung. Saya pribadi pernah menemukan orang-orang dengan orientasi seksual sejenis memiliki kemampuan yang luar biasa. Terus diskriminatif bagaimana? Mereka tidak boleh sekolah? Negara setahu saya tidak melarang LGBT bersekolah. Tidak boleh bekerja? Kalau mereka qualified rasanya tidak ada yang larang. Tidak boleh mengurus administrasi kependudukan seperti KTP, SIM, dll? Ada yang melarang mereka beribadah? Rasanya agama manapun menginginkan mereka beribadah sepertinya. Atau terbebas dari bullying? Siapa pun bisa terkena bullying, bukan hanya LGBT atau lebih spesifiknya homoseksual yang mengalami bullying. O, atau mereka tidak mau disebut ‘penyimpangan’?

Hmm, untuk ke depannya saya akan lebih membahas homoseksual (gay dan lesbian), karena prolognya tentang kasus artis X, hehe..

Back to masalah ‘penyimpangan’. Memang, sejak DSM (Diagnostic & Statistical Manual of Mental Disorders), sebuah manual handbook untuk para ahli jiwa yang disusun APA (American Psychological Association), versi ke-III sudah menghapus homoseksual dari daftar mental disorder dan memasukannya ke dalam salah satu orientasi seksual, lantas membuat kita menjadi membenarkan perilakunya? Perilaku yang saya maksud adalah aktivitas seksual yang mereka lakukan. Saya pribadi berpendapat tidak begitu. Statistik itu hanya masalah angka. Jika pengambilan data dilakukan pada populasi dimana didominasi dengan suatu tendensi tertentu, tentulah sampel yang keluar ya sampel dengan tendensi tersebut. Maksudnya, setahu saya, DSM disusun berdasarkan diagnosis terhadap sampel tertentu. Kalau saya tidak salah ingat, alasan kenapa homoseksual itu dihapus dari daftar penyimpangan karena dari sampel homoseksual yang diperoleh, katanya homoseksual tidak menunjukkan gejala apapun terkait dengan gangguan psikologis maupun mental. Lantas apakah mereka tidak pernah merasa terganggu? Gangguan atau ketidaknyamanan saat awal-awal menyadari kalau mereka berbeda (ukurannya (lagi-lagi) jumlah) dengan orientasi seksual umumnya (heteroseksual), itu adalah hal yang wajar (katanya). Tapi kabar lainnya yang beredar saat penghapusan itu adalah,banyak ahli APA memiliki orientasi homoseksual, so? Banyak kepentingan yaa.. Hehe..

Lalu bagaimana saya menyikapi?

Saya menjadi teringat obrolan dengan beberapa teman (berlatar belakang Psikologi) beberapa tahun lalu, ketika masih mahasiswa.

Teman 1: “Gue kalau entar jadi psikolog kayaknya gak bisa nangani homoseksual deh..”

Teman 2: “Kenapa? Lo takut gak bisa objektif?”

Teman 1: “Iya, gue pasti bawa-bawa agama”

Saya: “Memang kenapa kalau bawa-bawa agama? Bukankah kita memang ada dengan berbagai identitas yang nempel, termasuk sebagai makhluk ber-Tuhan, ya?”

Teman 1: “Iya, secara agama gue pasti akan ‘menggiring’ mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Tapi secara acuan DSM (lagi-lagi DSM, hehe..) tidak ada yang tidak benar..”

Teman 2: “Berartikan kalau dia datang ke elu (sebagai psikolog), berarti dia merasa ada yang ‘aneh’ atau lebih tepatnya merasa terganggu, bukan sih?”

Obrolan kami sempat terhenti sejenak. Sepertinya saat itu kami sama-sama sedang berpikir, hehe..

Saya: “Lalu apa  yang bisa dilakukan?”

Teman 2: “Refer ke psikolog lain,hehehehee..”

Saya: “Selain itu?”

Teman 1: “Membantunya untuk accept dengan kondisinya dan bagaimana ia bisa terus optimal dalam hidupnya”

Saya: “Daaaannn.. *mikir* gak usah bawa-bawa dosa deh, dosa urusan masing-masing, mungkin membantunya mendapat insight untuk tidak berbuat ‘sesuatu’, apa ya? Ah setidaknya mengasah empatinya terhadap harapan orang lain (terutama para orang tua) demi memuaskan diri sendiri”

Teman 2: “Membantu menahan diri kali ya? Regulasi ‘dorongan’, hehe.. karena gue punya opini, kejahatan seksual, apapunlah istilahnya, korbannya kemungkinan besar akan mencari korban lainnya”

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s