Mia dan Nova, Persahabatan Beda ‘Bahasa’

Seperti jika mereka menuju rumahku dengan berboncengan sepeda. Gowesan sepeda itu selalu diiringi gelak tawa. Hanya mereka yang paham apa yang mereka tertawakan.

Sering masing-masing dari mereka mengadu kepadaku. Mia mengadu tentang Nova yang menurutnya nakal, begitu pun sebaliknya. Tapi ketika saya mau mendamaikan, mereka sudah saling berbagi tawa lagi.

Advertisements

“Bu Itaaaaaa..”, setiap pagi selalu ada teriakan itu dari mulut bocah lugu bernama Mia. Mia Meliawati namanya, namun dirinya sendiri  menyebut namanya Mia Mati. Entahlah, aku belum tahu apa sebutan ketidakmampuan mengucapkan artikulasi dengan jelas itu. Mia Meliawati menjadi Mia Mati. Bu Ditha menjadi Bu Ita, kadang Bu Nita. Pak Angga menjadi Naga. Pancasila menjadi Macang Silat. Dan banyak lagi kata yang tidak diucapkan dengan jelas. Berhitung? Dia bisa berhitung 1-10 saja rasanya saya bahagia. Ah, terserahlah. Bagi saya, anak ini spesial untukku. Dia bersama sahabat karibnya, Nova, sering kali mengganggu tidur siang saya sekaligus paling sering membuat saya tertawa.

Continue reading “Mia dan Nova, Persahabatan Beda ‘Bahasa’”