Batas

Aku tahu, setiap tahun, setidaknya setiap ‘Idul Fithri, kamu selalu mengirimiku sebuah pesan pertanyaan kabar, ucapan Selamat Hari Raya dan permohonan maaf. Entahlah, apakah kamu copy-paste dan mengedit bagian namanya, atau memang kamu mengetiknya langsung untukku. Walaupun sekali pun aku tidak pernah membalas, bukan berarti aku tidak mengucapkan terima kasih dan juga memaafkanmu. Tidak.

Aku pun tahu, ketika dulu kita saling intens berkomunikasi, sering menghabiskan waktu bersama hanya sekedar bercerita kegiatan sehari-hari, atau berkeluh kesah mengenai beratnya kuliah, aku pasti banyak berbuat salah padamu. Hey, aku minta maaf. Iya, aku minta maaf bukan hanya karena aku tidak pernah membalas pesan-pesanmu, tapi untuk semua kesalahanku.

Kita sama-sama tahu, kamu sudah memiliki kehidupan baru yang harus kamu hormati. Aku percaya, kamu tidak akan pernah mengulangi kesalahan ‘bodoh’ lagi. Aku yakin, maksudmu masih tetap keep in touch walaupun setahun sekali juga bukan untuk itu,aku tahu kamu hanya ingin menjaga silaturahim. Dulu aku mengenalmu demikian.

Aku minta maaf. Iya, minta maaf atas apa yang terjadi padaku. Memori tentang gelak tawa, tentang air hujan dan banjir di jalanan Kota Bandung, tentang mimpi masing-masing, tentang diskusi bala-bala, tentang jadwal makan, dan tentang jam tanganmu yang sangat detail menit per menitnya, ternyata masih tersimpan rapi. Tapi kamu jangan berpikir macam-macam, ya? (maafkan aku meniru gayamu). Aku sudah pernah jatuh cinta lagi dan aku bahagia.

Kebahagiaanku sekarang rasanya tidak adil jika harus aku bandingkan saat bahagia bersamamu. Aku bahagia saat bersamamu, aku bahagia saat ketika aku jatuh cinta lagi, dan aku bahagia memilikimu di masa lalu tanpa aku jadikan kebahagiaan itu pengganggu kebahagiaanku sekarang. Semua memori yang tersimpan rapi itu,yang selalu membuat aku tersenyum sendiri saat memori itu menari indah dalam kepala, adalah hal yang harus aku hormati. Itu caraku bersahabat dengan masa lalu. Itu caraku menjaga silaturahimnya.

Caraku demikian, itu urusanku, bukan sebuah masalah selama itu tidak mengganggu siapapun. Ini batasku.

Aku, bahkan mungkin siapapun, sedih terhadap apa yang hilang, tapi pasti ada pelajaran baik yang bisa didapat. Masa lalu bukan untuk diperdebatkan. Itu sudah teratur dengan indah. Aku sekarang adalah pribadi yang sedang terus berusaha menerima semuanya. Bahagia terhadap apapun yang dialami. Tersenyum dengan segala kenangan manis dalam memori. Aku bersyuk ur pernah bersamamu, tapi itu dulu, di masa lalu. Masa depanku bukan kamu, sudah ada batas jelas. Aku hanya membawa memori tentangmu, bukan karena aku tidak mau melupakan, tapi ternyata memang tidak bisa. Aku tahu, kamu pasti paham tentang itu. (:

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s