Terima-Kasih

Kadang kala apa yang kita dapati di luar membuat kita kembali berpikir apa yang ada di dalam. Hadeuh, belum apa-apa sudah abstrak -_-. Okay, jadi ketika di siang hari yang panas, dimana saya sedang sangat ingin facial di sebuah salon di Unit 2 (pusat kota 3 kabupaten,Tulang Bawang,Tulang Bawang Barat,dan Mesuji,-bahkan Way Kanan-), saya mendapatkan sebuah pesan singkat dari salah seorang teman kuliah saya (A). Isinya berupa permintaan tolong untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan salah satu teman lain yang juga teman kuliah (B), namun kebetulan berbeda keyakinan dengan kami. Mengagetkan memang, beruntung masker di wajah saya tidak pecah :p

Berikut salah satu screenshot yang si A kirimkan dari si B.

Screenshot.jpg

Pertanyaan dan pernyataan dari si B itu berhasil dengan sukses membuat saya banyak berpikir kembali. Pertanyaan yang juga berisi pernyataan jujur dari seorang berkeyakinan lain. Yang saya highlight dari pernyataan si B adanya persepsi ajaran Islam, ah mungkin maksudnya ummat Islam banyak yang beribadah karena mengejar pahala atau menghindari siksa. Jika boleh saya menyederhanakan bahasanya, mungkinkah ia mempersepsi bahwa ajaran Islam menekankan adanya konsep reward and punishment? Hmm, sejujurnya saya kesulitan menerjemahkan bahasanya yang lebih halus. Jadi kami, orang Islam, melakukan segala ibadah atau segala amal, karena ini diwajibkan, karena ini mendapat pahala, dan menjauhi hal yang dilarang karena dilarang dan mendapat dosa. Maka, tergiringlah sebuah opini ajarannya mengusung konsep ‘ganjaran’ sehingga membuat kita, kami, beribadah tidak tulus. Jika saya hanya baca sekilas, tentu ada rasa tersinggung, tapi alhamdulillaah-nya saya kembali berpikir, mengapa seorang si B (yang mungkin mewakili pandangan penganut agama lain) bisa berpersepsi demikian.

Teringat sebuah teori psikologi sosial, S-O-R-(F), stimulus-organisme-respons-(feedback). Kembali kepada pandangan B, mengapa ia sampai berpersepsi demikian? Saya mengenal B sebagai pribadi yang kritis dan terbuka. Jika pandangan B merupakan feedback buat saya (mungkin bahkan ummat Islam), sedangkan pandangan yang terbentuk adalah respons dari apa yang B lihat, dengar, dan rasakan, kemudian saya mengenal B sebagai pribadi (dalam teori disebut organisme) yang kritis dan terbuka, berarti stimulus yang kita berikan (disengaja atau tidak) mungkin memang mengarah pada perilaku yang tergambar dari pandangan B? Wallaahu ‘alam..

Saat dimana ketika kita menutup mata, rileks, adalah saat yang tepat untuk refleksi, apalagi dengan masker di wajah, hehe.. Saat itu saya merenungi, bukankah memang Allaah menjanjikan pahala, bahkan surga, untuk hamba-Nya yang beribadah, dan mengganjar siksa untuk mereka yang ingkar. Muncul satu pertanyaan, apakah itu salah? Ah,  rasanya terlalu sombong saya sebagai manusia mengatakan apa yang sudah Allaah tetapkan sebagai hal yang salah. Tidak, Dialah yang Maha Tahu atas apa yang terjadi di dunia ini. Pasti ada sebab dibalik apa yang terjadi. Walaupun memang saya menyadari banyak hal yang saya lakukan semata-mata karena ini wajib, ini untuk mengumpulkan amal, ini gak boleh karena ini dilarang, dapat dosa, nanti tidak akan masuk surga, dan masuk neraka. Dalam memori segera mengalun sebuah lagu yang menjawab pertanyaan itu, “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya?” (:

Allaah berulang-ulang mengabarkan kabar gembira untuk hamba-Nya berupa limpahan kenikmatan terutama surga. Allaah juga memberikan ancaman berupa siksa yang amat pedih berupa neraka. Sekali lagi, salah? Izinkan saya berpendapat, tidak. Justru Allaah Maha Mengetahui. Ia yang memberikan ilmu kepada kita bahwa ternyata memang manusia dalam melakukan sesuatu butuh adanya sesuatu yang memotivasi. Baik itu motivasi eksternal maupun internal. Dan fitrah manusia ingin menikmati nikmat-nikmat dan menghindari berbagai hal yang menyakitkan.

Terus bagaimana? Apakah beribadah demi mengejar pahala dan menghindari siksa itu salah? Menurut saya tidak. Bukankah psikologi pun sudah menemukan bahwa tidak semua orang luput dari eksternal motivasi dan tidak semua orang mampu langsung pada tahap memiliki internal motivasi? Menurut saya ini masalah konsep dasar, atau apa ya istilahnya? 😀

O, iya, menurut B, dalam konsep ajaran agamanya dikatakan, “Bukan karena berbuat baik maka kita diselamatkan, tetapi karena diselamatkan maka kita berbuat baik”. Ia pun menjelaskan bahwa konsep tersebut berarti bahwa segala perbuatan baik dilakukan bukan untuk mencari dan mengumpulkan pahala, tetapi sebagai bentuk syukur. Hmm.. saya tidak berniat untuk mendebat ajarannya, “Untukmu agamamu, untukku agamaku”. Saya mencoba mencerna kalimat B ya, mungkin dia belum tahu bahwa ajaran Islam juga punya pendekatan melalui bersyukur. Bukankah berulang-ulang Allaah berfirman “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”. Bukankah ini suatu pendekatan ajaran yang mempercayai bahwa manusia bisa beribadah atau beramal baik tidak dengan iming-iming apa yang akan didapat? Dan dengan mengingat apa yang sudah Allaah berikan. Ini tahapan yang memerlukan refleksi, loh, hmm.. mungkin bisa dikatakan ini internal motivasi.

Jujur, apa yang saya dapati melalui B membuat saya menjadi tersadarkan lagi dengan apa yang saya jumpai di penempatan ini. Beberapa kali saya mengikuti pengajian disini, yang di-highlight apa? Dosa. Haram. Neraka. Surga. Pahala. Yang terjadi? Anak-anak pun tahu tidak shalat nanti akan dibakar di neraka. Yang terjadi? Masih banyak anak-anakku yang susah sekali diajak shalat. Bahkan saat Ramadhan banyak rumah yang melakukan aktivitas makan minum di siang hari. Berjamaah. Sementara setiap hari pula dikoar-koar dosa dan balasan meninggalkan ibadah puasa. Hmm, tapi juga terlalu mentah jika saya pun katakan bahwa apa yang terjadi pada anak-anak itu akibat mendapat ajaran dengan pendekatan surga-neraka. Saya lupa kalau manusia itu unik dengan segala kompleksitasnya dan terbentuk dari kekompleksan apa yang dialami, bukan? Besar kemungkinan itu hanya salah satu sebab dan dalam tulisan ini saya ingin membahasnya.

So, apakah itu dampak dari dakwah yang ‘melulu’ (maaf, saya katakan melulu) menekankan surga dan neraka. Bukankah Allaah punya banyak cara?

Dalam contoh lain, semoga bisa menjembatani, anak-anak didik saya ketika saya bertanya mengapa mereka bisa melakukan hal manis dan berbuat baik (memberikan bunga, buah, dll) kepada saya, mereka menjawab, karena Ibu baik, maka aku harus baik juga. Heiii.. anak-anak pun ternyata tahu konsep bersyukur, konsep terim


a kasih. Lah, bedanya sama pahala? Menurut saya, konsep pahala itu berbuat baik dulu, kemudian kebaikan akan datang, padahal kebaikan itu sudah ada jauh sebelum kita mengenal berbuat baik, bukan? Ini memang mungkin banyak orang menganggapnya sudah pada tahap ‘dewa’, tapi bisa dicoba.

Ah, rasanya renungan ini menjadi inspirasi kelak. Bukan berarti konsep reward-punishment tidak baik atau efektif. Tidak. Jelas tidak. Wong Allaah juga dalam firman-Nya mengabarkan kabar baik mengenai surga dan ancaman tentang neraka. Tapi Allaah juga mengajak hamba-Nya melalui syukur, bukan? Mengenalkan anak-anak mengenai Tuhan melalui konsep bersyukur atau berterima kasih bisa jadi alternatif, yakni dengan mengenalkan-Nya bukan hanya semata-mata Dia sebagai ‘penyedia’ surga dan neraka, yang memang surga dan neraka masih sangat abstrak dalam kognitif anak-anak, tapi segala ibadah yang dilakukan semata-mata sebagai ungkapan terima kasih kepada-Nya, Sang Maha Pemberi, Pengasih, dan Penyayang  yang tiada berbatas. Terima-kasih. Soal apakah itu tulus atau tidak, rasanya itu saya tidak ingin berpemdapat, hehe.. Terima kasih!

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s