Menjaganya :)

Jeng, jeeeng.. “Fotonya kok gitu amat?”, komentarku pada salah seorang teman laki-laki ketika melihat fotonya bersama siswinya di kelas.
Dia hanya tertawa dan membalasnya dengan komentar, “Cantik, ya?”
“Iya, cantik, tapi gak perlu gayanya seperti itu, kan?”, balasku lagi.
Lagi, dia tertawa, “Kata pacarku, kayaknya dia suka sama aku, hahaa.. masa iya?”
Aku hanya menimpalinya dengan tatapan mengintimidasi, haha..

Di hari yang lain, seorang teman lain bercerita tentang siswinya kelas VI. Betapa malangnya anak itu. Ia sudah tak berayah dan ibu. Neneknya pun sudah tua dan dialah yang merawat. Suatu hari ia ulang tahun dan temanku ini memberikan surprise dan memberikan kado untuk anak itu.

Spontan aku bertanya, “Kamu ngasih surprise-nya ngajak teman-temannya?”

“Nggak, aku sendiri.” Aku tak berkomentar.

“Kenapa ya, dia kayaknya terlihat nyari perhatian..”

Aku hanya meresponsnya dengan, “Hmm..”

“Mungkin dia menganggapku ayahnya kali ya?”

“Semoga..”, jawabku singkat.

Lain lagi dengan kisah teman perempuanku. Suatu hari ia diantar murid laki-lakinya kelas VI ke suatu tempat. Seperti biasa, ia selalu memegang pundak yang memboncengnya.

“Bu, jangan pegang pundak aku..”, pinta siswanya.

“Kenapa?”, tanya teman aku.

“Gak apa-apa, Bu, merinding aja, Bu”, jawab si anak pelan.

Hmm, merinding. Apakah ada hantu? 😀

Cerita lainnya dari teman perempuanku yang lain. Ia bercerita bahwa ada seorang remaja laki-laki berkebutuhan khusus, -memiliki kemampuan daya nalar, sosialisasi, dan daya tangkap yang masih jauh dari kemampuan remaja umumnya-, selalu datang ke rumah hostfam-nya untuk belajar. Remaja itu putus sekolah karena sampai bertahun-tahun ia tidak bisa menulis dan membaca, bahkan membedakan huruf pun tidak. Menurut cerita temanku, ia seperti menghadapi anak balita, bahkan warna pun tak tahu. Ia pun mmengajarinya sama seperti ia mengajari anak TK nol kecil. Mendengar ceritanya, aku hanya berpesan, “Kalau bisa hindari kontak fisik, sentuhan ya, hehe..”
Setelah beberapa minggu ia mengajari murid ‘spesial’-nya itu, tiba-tiba aku mendapatkan chat dari temanku itu.

Dith, aku takut kalau si X ini beneran suka sama aku ya

Aku hanya tersenyum membacanya, dan membalasnya singkat dengan sebuah pertanyaan, “Kenapa memangnya?”

Akhirnya ia bercerita bahwa si X ini sebenarnya usianya seusia dengan temanku, dan ibu hostfam-nya pun berkomentar si X ini suka pada temanku itu. Rupanya temanku ini memperlakukan si X seperti anak TK ketika mengajarinya, karena ia pikir jiwanya si X masih kanak-kanak.
Yes, akalnya memang masih berada di ‘zona’ anak-anak, bahkan mungkin balita. Tapi secara biologis, ia tetap tumbuh, terlihat ia berkumis, hehe..

Terus maksud tulisan ini?
Well, ini sebagai ‘rambu-rambu’ buatku untuk menjaga muridku. Murid yang aku hadapi memang semuanya siswa SD, namun aku harus ingat tahapan perkembangannya tidak sama, ada kelas kecil yang berada pada tahap perkembangan early dan middle childhood, serta kelas besar di tahap perkembangan late childhood atau bahkan remaja –terlebih di daerah-. Jika aku mungkin dengan santainya merangkul siswa laki-laki kelas 1, maka hal itu harus aku jaga untuk tidak melakukannya pada siswa laki-laki kelas 6. Bukan membeda-beda perlakuan, justru inilah bentuk keadilan, untuk ‘menjaga’ mereka, muridku yang tengah pubersitas.

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s