Batuk dan Rindu

Memasuki bulan ketiga aku dititipi batuk yang tiada henti. Sakitnya tuh disini (sambil nunjuk dada). Yes, batuk yang hampir nyaris 2 bulan ini aku ‘piara’. Bukan tidak mau aku ‘menyapihnya’, segala usaha sudah kulakukan. Mulai dari berobat dengan cara sendiri membeli obat batuk warung di Indomaret dan Alfamart, meminum obat tradisional racikan Ibu hostfam, berobat ke bidan, dokter umum, puskesmas, sampai akhirnya ke dokter spesialis paru dan dilakukan foto rontgen, si batuk itu akhirnya hilang dengan diagnosis all is well, karena udara kotor.

Hmm.. selama hampir 2 bulan itu bagaimana rasanya? Sakit, bro. Kalau sudah batuk, kadang aku susah menghentikannya, sampai berhenti sendiri karena kecapekan. Sering juga aku coba tahan, terlebih jika sedang dalam forum. Takut mengganggu. Alhasil, semakin aku tahan, semakin sakit rasanya, dan semakin keras suaranya.

Sekarang, alhamdulillaah batuk itu sudah say good bye. Tapi sakit yang lain menyerang. Yes, sakit rindu namanya. Haha.. Memasuki bulan keenam, sudah 6 purnama (kalau pakai istilahnya Cinta AADC) juga terlewati. Banyak orang-orang di kehidupanku yang telah aku tinggalkan sementara. Ada rasa berbeda, yang dulunya dengan mudah kutemui untuk melepas rindu, sekarang tak semudah itu. Jarak Tulang Bawang Barat dengan pulau Jawa mungkin tak sejauh jarak teman-teman lain, tapi tetap saja jauh.
Mengidap yang namanya rindu ini rasanya tak jauh beda dengan batuk. Jika levelnya masih rendah, masih bisa dialihkan dengan hal lain, tapi jika sudah kronis? Perlu penanganan ahlinya. Siapa? Yang dirindu, hehe.. Beberapa kali ditahan, takut mengganggu yang dirindu. Efeknya? Sakit, bro..

Namun menurutku, tak mengapa rindu itu diutarakan, setidaknya melalui udara.

Ah, rasanya makin berantakan kata-kataku ini. Entahlah, mencari benang merah antara batuk dan rindu seperti mengungkapkan rindu itu sendiri, hehe.. Intinya, batuk dan rindu rasanya sama-sama sakit bila terlalu lama ditahan. Bedanya? Kadang rindu mempunyai obat sendiri melalui semesta.
Ketika rindu sedang datang, sebuah pesan tiba-tiba seperti pertanyaan, “Apa kabar dirimu disana?”, menjadi obat paling mujarab.

Ketika rindu sedang menjangkit, sebuah percakapan dalam mimpi bersamanya menjadi penawar tak dinyana.

Inilah semesta. Menjadikan rindu itu berbalas. Ah, sering kali semesta begitu romantis memang.
Untuk orang-orang yang aku rindu, aku rindu.

Bumi Ragem Sai Mangi Wawai, 11 Juni 2015

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s