Bapak, Rantau, dan Pulang

Siang itu, aku bersama keenam rekan Pengajar Muda dan 3 TBBC Officer ditemani seorang guru SDN 02 Agung Jaya, Pak Lisna, menyusuri jalanan kampung, masuk ke jalan setapak diantara kebun-kebun karet milik warga, kemudian masuk ke perkebunan sawit yang biasanya milik sebuah perusahaan, dan akhirnya berhenti di sebuah pemakaman Kampung Agung Jaya,Way Kenanga.
Kami hendak takziah kelima siswi SDN 02 Agung Jaya yang meninggal Jumat siang karena tenggelam di bendungan. Karena kami tidak tahu dimana rumah kelima anak tersebut, akhirnya kami mengunjungi rumah guru yang kami kenal, Pak Lisna. Terlihat raut kesedihan dari Pak Lisna. Jelas, ia kehilangan lima sekaligus muridnya secara mendadak. Ia bercerita bagaimana kelima alhamarhumah itu semasa hidupnya dan bagaimana kronologis tragedi maut itu terjadi. Sampai akhirnya kami pun diantar Pak Lisna ziarah ke makam kelima siswinya.

Ketika memasuki kawasan pemakaman, dari kejauhan terlihat sederet 5 makam yang masih bertabur kembang dan bernisankan kayu. Lemas rasanya aku melihat 5 makam baru sekaligus. Mataku terpejam beberapa detik, terbayang juga sebuah gundukan tanah lain yang sama persis dengan kelima gundukan tanah di hadapanku. Kubayangkan makam seorang laki-laki tua yang selalu tersenyum setiap kali aku berkunjung ke rumahnya. Bapak.
Pikirku, kuburan Bapak juga mungkin seperti ini, masih berupa gundukan tanah merah, mulai kering karena beberapa hari hujan tak turun dan matahari yang memaparkan panas yang menyengat beberapa hari ini.
Sosok itu seolah hadir, mengantarku pada mozaik memori bersamanya. Obrolan santai kami tentang makna kehidupan dan kematian.

Aku masih ingat betul bagaimana ia mengingatkanku tentang kematian. Menghiburku saat Almarhumah Anjung berpulang.

“Nta, hirup teh ceuk Bapak mah ibarat ngumbara. Sasaha ge nu ngumbara mun mulang ka lembur pasti bungah mun di pangumbaraan berhasil. Nu kumaha nu berhasil teh? Ceuk Bapak mah nu tara julid ka batur, nu ngajaga salatna, nu beresih hatena. Ceuk Nta, Anyung kumaha? Ceuk Bapak mah si jenat budak bageur, da mun urang hanya apal kumaha eta jelema, tingali we jeng saha nyobatna. Bapak apal kumaha incu Bapak, in syaa Allaah moal jauh sobatna ge. Nta teu kudu susah hate, Anyung pasti mulangna bari bungah..” (1)

Demikianlah ia mengajari konsep kehidupan sebagai sebuah perantauan, mengartikan kehidupan setelah kematian adalah kehidupan baru di kampung halaman, dan memaknakan kematian itu adalah sebuah perjalanan pulang ke kampung halaman.

Di obrolan terakhir dengannya Bapak bertanya,
“Nta,hidep pan mangtaun-taun pernah ngumbara jauh nepika Jakarta, kumaha tah rasana mun ek mulang ka lembur? Bungah atau sedih?” (2)

Aku pun tertawa kecil mendengar pertanyaan Bapak dan menceritakan apa yang aku rasakan.

“Nya bungah atuh, Pak, pan ek pendak jeung nu di bumi..” (3)

“Enya ge Bapak ngumbarana kur sajauh Cijambu-Cibuih, eta ge kusabab masantren, mun mulang teh sok bungah mun Bapak beres setoran, lulus ujian pondok, tapi Bapak sok era tur sedih mun Bapak mulang tapi Bapak can hasil namatkeun hiji kitab” (4)

Aku terdiam dan menunggu kelanjutan dari kata-kata Bapak.
“Sabab pernah ngarasakeun kumaha teu betahna mulang bari teu meukeul setoran ka Emak, jadina Bapak sok tara waka mulang samemeh boga beukeul caritaeun pondok ka Emak.Kanyeri nu dipaparin Gusti jang Bapak meureun eta teh pepeling jang Bapak yen beukeul Bapak can cukup. Sakit ieu meureun waktu tambahan jang Bapak ngumpulkeun deui beukeul meh teu sangsara di jalan. Meh neupika lembur nudipikaharep. Mun Bapak geus neupi waktuna, mudah-mudahan Bapak bungah kudu mulang, lain kapaksa mulang, nya?” (5)

Aku hanya terdiam dan menatap bulu matanya yang panjang, pipinya yang penuh kerutan, pecinya yang telah usang, dan senyumnya yang teduh.

Sekarang, Bapak sudah berpulang. Aku memang tidak berkesempatan melihat kepulangannya. Tapi semoga Bapak pulang dengan bahagia dan tersenyum sama seperti ia tersenyum dalam mimpiku.

Ya, hidup itu memang sama dengan perantauan, ada yang merantau dekat dan hanya ke desa sebelah, tapi ada juga yang sampai berbeda benua. Ada yang sebentar, ada juga yang sampai bertahun-tahun. Kelima siswa yang belia dan Bapakku yang telah sepuh. Hal yang pasti, perantauan kehidupan ini pasti akan pulang kampung.
Selamat berpulang, Vita, Femi, Tia,Yuli, dan Tika.
Selamat berpulang, Bapak.

Tulang Bawang Barat, 25 Mei 2015

Translate:

(1) Nta,hidup itu menurut Bapak ibarat merantau. Siapa pun yang merantau, jika pulang kampung pasti bahagia jika di perantauan sukses. Yang seperti apa yang berhasilitu? Menurut Bapak dia yang tak pernah jahat sama orang, yang menjaga shalatnya, dan yang bersih hatinya. Menurut Nta, Anyung gimana? Menurut Bapak, almarhumah anak yang baik, gimana kita bisa tahu orang itu baik, kita bisa lihat siapa teman dekatnya. Bapak  tahu bagaimana cucu Bapak, in syaa Allaah temannya pun gak akan jauh berbeda. Nta gak perlu bersusah hati, Anyung pasti pulang dengan bahagia.

(2) Nta, kamu kan bertahun-tahun merantau jauh sampai Jakarta, gimana rasanya kalau pulang kampung? Bahagiakah atau sedih?

(3) Ya,bahagia dong Pak,kan mau ketemu orang rumah

(4) Walaupun Bapak merantau hanya sejauh Cijambu-Cibuih, itujuga karena pesantren, kalau pulang itu suka bahagia kalau dipesantrennya beres setoran, lulus ujian pondok, tapi Bapak suka malu dan sedih kalau Bapak pulang sebelum menamatkan sebuah kitab.

(5) Karena pernah merasakan bagaimana tidak nyamannya pulang kampung tapi gak bawa setoran (hafalan) buat Emak, jadinya Bapak suka menunda kepulangan sebelum punya bekal cerita (membanggakan) di pondok buat Emak. Sakit yang Allaah kasih buat Bapak mungkin sebagai teguran buat Bapak kalau bekal Bapak untuk pulang belum cukup.  Sakit ini mungkin jadi waktu tambahan buat Bapak mengumpulkan lagi bekal biar tidak sengsara di jalan. Kalau memang sudah waktunya tiba, semoga Bapak bahagia pulang, bukan terpaksa harus pulang, ya?

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s