Sebuah Perayaan untuk Aris

Jika sebagian banyak orang mengartikan anak luar biasa itu adalah anak yang menjuarai berbagai lomba seperti olimpiade, tapi buatku Aris adalah salah satu anak luar biasa. Dia pernah menjuarai olimpiade? Sayangnya belum. Bisa membaca lancar satu paragraf saja baru terjadi 12 Maret 2015.Saya hafal sekali tanggal itu.

Sebulan pertama aku mengajar di sekolahnya, ia masih belum bisa membaca. Sudah mengeja, terbata-bata, masih banyak yang salah pula. Beberapa kali kuajak ia untuk belajar tambahan di rumah, bahkan sempat kutawarkan belajar di rumahnya. Tapi dia tetap meneng wae. Sampai akhirnya di bulan kedua ia menghampiriku.

Continue reading “Sebuah Perayaan untuk Aris”

Menjaganya :)

Jeng, jeeeng.. “Fotonya kok gitu amat?”, komentarku pada salah seorang teman laki-laki ketika melihat fotonya bersama siswinya di kelas.
Dia hanya tertawa dan membalasnya dengan komentar, “Cantik, ya?”
“Iya, cantik, tapi gak perlu gayanya seperti itu, kan?”, balasku lagi.
Lagi, dia tertawa, “Kata pacarku, kayaknya dia suka sama aku, hahaa.. masa iya?”
Aku hanya menimpalinya dengan tatapan mengintimidasi, haha..

Di hari yang lain, seorang teman lain bercerita tentang siswinya kelas VI. Betapa malangnya anak itu. Ia sudah tak berayah dan ibu. Neneknya pun sudah tua dan dialah yang merawat. Suatu hari ia ulang tahun dan temanku ini memberikan surprise dan memberikan kado untuk anak itu.

Continue reading “Menjaganya :)”

Batuk dan Rindu

Memasuki bulan ketiga aku dititipi batuk yang tiada henti. Sakitnya tuh disini (sambil nunjuk dada). Yes, batuk yang hampir nyaris 2 bulan ini aku ‘piara’. Bukan tidak mau aku ‘menyapihnya’, segala usaha sudah kulakukan. Mulai dari berobat dengan cara sendiri membeli obat batuk warung di Indomaret dan Alfamart, meminum obat tradisional racikan Ibu hostfam, berobat ke bidan, dokter umum, puskesmas, sampai akhirnya ke dokter spesialis paru dan dilakukan foto rontgen, si batuk itu akhirnya hilang dengan diagnosis all is well, karena udara kotor.

Continue reading “Batuk dan Rindu”

Bapak, Rantau, dan Pulang

Siang itu, aku bersama keenam rekan Pengajar Muda dan 3 TBBC Officer ditemani seorang guru SDN 02 Agung Jaya, Pak Lisna, menyusuri jalanan kampung, masuk ke jalan setapak diantara kebun-kebun karet milik warga, kemudian masuk ke perkebunan sawit yang biasanya milik sebuah perusahaan, dan akhirnya berhenti di sebuah pemakaman Kampung Agung Jaya,Way Kenanga.
Kami hendak takziah kelima siswi SDN 02 Agung Jaya yang meninggal Jumat siang karena tenggelam di bendungan. Karena kami tidak tahu dimana rumah kelima anak tersebut, akhirnya kami mengunjungi rumah guru yang kami kenal, Pak Lisna. Terlihat raut kesedihan dari Pak Lisna. Jelas, ia kehilangan lima sekaligus muridnya secara mendadak. Ia bercerita bagaimana kelima alhamarhumah itu semasa hidupnya dan bagaimana kronologis tragedi maut itu terjadi. Sampai akhirnya kami pun diantar Pak Lisna ziarah ke makam kelima siswinya.

Continue reading “Bapak, Rantau, dan Pulang”