Dia Jauh Lebih Kuat

Sore itu langit tak menampakkan birunya. Awan kelabu menyelimuti bumi Purwakarta. Sebuah mobil Honda CR-V terparkir di depan rumah yang bertuliskan I-Phone di depannya. Rumah itu menjadi tempat kami, para Calon Pengajar Muda (CPM) IX, selama hampir 6 minggu ini mendapatkan materi pembekalan. CR-V itu milik seorang pria bertubuh mungil, namun berwawasan besar. Bapak Hikmat Hardono, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar.

Kehadiran Pak HH, biasa kami sebut, cukup di luar dugaan kami. Kedatangan orang-orang dari Galuh (sebutan untuk para officer GIM yang berkantor di Jalan Galuh II No. 4) biasanya selalu ada kabarnya terlebih dahulu. Kehadiran mereka ke Camp Pelatihan Pengajar Muda di Purwakarta selalu terkait dengan materi pelatihan yang akan diberikan. Orang Galuh biasa mengisi materi untuk kami. Namun kehadiran Pak HH hari itu berbeda. Tidak ada informasi sebelumnya mengenai perubahan jadwal refleksi atau apapun.

Selesai istirahat shalat Ashar di Barak, kami segera kembali ke rumah I-Phone untuk menikmati coffee break. Sekilas dari sela pintu yang tertutup rapat samar-samar terlihat orang yang akhir-akhir ini sering menemuiku di barak.

Saat itu adalah jadwalnya sesi penulisan blog pengajar muda. Pak HH menemui kami yang telah siap mengikuti sesi. Ada yang lain dari ekspresi yang tampak dari raut mukanya. Ia tidak biasanya menampilkan senyum seperti itu. Senyum yang berusaha menyembunyikan keberatan hati.

“Hidup itu ibarat garis yang menghubungkan niat baik dengan cita-cita. Garis itu tidak selamanya harus garis lurus, mungkin bisa jadi berbelok-belok, yang pasti niat baik itu pasti akan terhubung dengan cita-cita, bagaimana bentuk garis penghubungnya, kadang kita tidak pernah tahu”, begitu kira-kira Pak HH mengawali perkataannya.

Jujur saja, saya merasa ada firasat yang kurang mengenakan dari rangkaian kata-kata yang saya dengar dari Pak HH. Saya berusaha menetralkan semua prasangka buruk. Belum sempat saya berpikir panjang lebar, Pak HH kembali melanjutkan. “Teman kita, Fatika harus kami putuskan penugasannya sebagai Pengajar Muda karena pertimbangan kesehatan. Tapi percayalah, niat baiknya akan tetap bertemu dengan cita-cita luhurnya”

Sahabat kami, saudara yang Allaah pertemukan melalui cita-cita yang sama melalui Gerakan Indonesia Mengajar, harus pulang terlebih dahulu dan tidak melanjutkan penugasan. Ia harus pulang di Jumat minggu keenam pelatihan.

Pihak Indonesia Mengajar tentunya telah mempertimbangkan matang-matang mengenai keputusan ini berdasarkan rekomendasikan para ahli. Kondisi kesehatan Fatika mungkin memang tidak memungkinkan untuk ia melanjutkan perannya sebagai Pengajar Muda.

Sore itu, suasana yang tadinya ramai seketika hening. Perlahan mulai terdengar isak tangis teman-teman. Apa yang terjadi benar-benar tidak pernah kami duga.

Fatika, gadis mungil yang berasal dari Solo itu berdiri di depan kami. Ia segera membalikkan badannya. Terlihat tangannya mengusap air mata di wajah. Masih ada semburat merah di pipi. Ia menarik napas panjang. “Ingatlah teman-teman, bahwa ada seseorang yang ingin berada disini..”, satu kalimat itu akhirnya terlontar dari bibirnya.

Saya tak lagi bisa melihat sosok Fatika. Teman-teman sudah mengerubungi dan memeluknya. Badannya yang kecil terhalang badan teman-teman yang lebih besar. Saya tertunduk. Saya menangis. Rasanya ada rasa tidak ikhlas gadis yang selalu bertanya, “Mbak Dith, sudah ma’em?” itu tidak akan ada lagi di Camp. Ada rasa sesak mengikatku, sosok yang meminjamiku ikat rambut akan melanjutkan pembelajarannya di luar Camp Pelatihan.

Dalam kekalutan itu saya melihat Fatika dengan senyumnya. Fatika yang sering kami duga ‘lemah’ ternyata jauh lebih kuat, bahkan sangat kuat. Ia bisa tersenyum semanis itu. Ia bisa tersenyum menguatkan teman-teman yang menangisinya. Fatika, gadis bertubuh kecil tetapi memiliki semangat dan daya juang yang besar itu akhirnya harus pulang. Namun, semangat dan cita-citanya akan kami simpan dan kami bawa. Bukan hanya ke Halmahera Selatan yang awalnya menjadi daerah penempatannya, tetapi ke setiap penjuru penempatan Pengajar Muda IX. Termasuk kesini, ke Tulang Bawang Barat, Lampung, tempat saya ‘menyedekahkan’ waktu setahun saya. Semangat dan daya juang yang Fatika miliki akan terus saya ikat dengan semangat dan perjuanganku, seperti ikat rambutnya yang terus mengikat rambutku.

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s