Ngambek ala-ala Sinetron

Di bulan kedua ini akhirnya tingkat toleransiku terhadap ‘kekacauan’ anak-anak kikis juga. Pasukan Bintang, kelas 3 yang banyak aku ajar tingkahnya sangat membuatku pusing. Sebenarnya ini adalah makanan sehari-hariku. Mereka memang terbiasa aktif. Berlari kesana kemari dan mengoceh tak henti.

Pasukan Bintang adalah 14 anak kelas 3 tempat saya mengajar, SDN 02 Margomulyo, Kab. Tulang Bawang Barat. Mereka sangat senang dan antusias ketika saya memberikan nilai dengan tanda bintang. Aneh, mungkin ya, hehe..

Hari itu mereka sulit sekali saya atur. Diajak bermain games, masih saja asyik dengan dunianya. Ditambah lagi beberapa anak ‘spesial’ yang ada di kelas itu membuat saya cukup kewalahan. Sampai suatu ketika saya akhirnyanya berdiri juga. Menepukkan tangan beberapa kali untuk mengambil perhatian mereka. Tetap. Mereka asyik saja, hanya beberapa saja yang mengindahkanku dan berusaha menegur temannya kemudian terjadilah keributan kembali.

“Sepertinya kalian sedang tidak mau belajar sama Ibu, ya? Kalau begitu, kalian cari saja guru lain yang mau mengajar kalian. Ibu tidak mau mengajar kalian jika kalian tetap saja seperti ini, ribut!”

Aku pun berlalu meninggalkan ruangan kelas pengap tadi. Sedikit saja aku menoleh ke belakang, kulihat mereka seketika hening. Melongo melihat sikapku yang memilih pergi sebelum jam pelajaran habis.

Hari itu 2 orang guru berhalangan hadir, kontan ada 3 kelas yang harus bergantian diajar oleh guru lain. Aku pun memutuskan untuk masuk ke kelas 2 yang saat itu tengah diajar Bu Hevi.

“Biar saya saja, Bu, yang mengajar kelas 2”, mintaku pada Bu Hevi.

“Ya wis, saya titip ke sampeyan ya, saya masuk lagi kelas 4″, jawab Bu Hevi.

Aku pun mengajar di kelas 2. Aku mengajarkan mereka lagu-lagu Matematika yang aku dapatkan saat Pelatihan. Terlihat beberapa anak kelas 3 mengintip dari jendela. Aku pura-pura tak melihatnya. Padahal sebenarnya aku sudah tak tahan untuk tertawa. Hahaa,,

Saat jam menunjukkan angka jam 12 aku pun memulangkan anak kelas 2, ketika aku keluar, kulihat beberapa anak kelas 3 ragu-ragu berjalan mendekatiku. Kocak mereka. Maju, kemudian mundur lagi. Sampai akhirnya ada yang berani mendekat kepadaku.

“Bu, nanti les?”, tanya Aziz pelan.

Aku hanya menggeleng pelan dan segera meluruskan pandanganku. Rasanya aku tidak tega, tapi entah kenapa aku masih ingin mengisengi anak-anakku. Hahaa..

Esoknya, jadwalku masih bersama para Pasukan Bintang. Seharian. Guru-guru lain tak tahu apa yang terjadi antara aku dan Pasukan Bintang kemarin. Tak mungkin juga aku cerita, haha.. Aku pun memutuskan untuk masuk ke kelas itu, tapi tidak untuk mengajar mereka. Ah, untuk sikapku ini memang tidak patut ditiru, guru macam apa aku? Tapi maafkanlah, aku benar-benar sedang ingin mengisengi mereka, hehe..

Aku hanya duduk saja di kursi. TAk ada perintah berdoa, tak ada sapaan untuk mereka. Mereka pun mulai terlihat gusar, saling tunjuk apa yang harus dilakukan dan siapa komandan hari itu. Khusus kelasku memang selalu ditunjuk komandan per hari. Tapi hari itu tidak. Aku diam seribu bahasa. Aku hanya ingin melihat inisiatif mereka, hehe.. Sampai akhirnya ada seorang anak, Wafa namanya, berinisiatif memimpin teman-temannya berdoa. Selesai berdoa, mereka kembali bingung dengan sikap diamku. Kulihat tak ada yang berani bertanya kepadaku. Mereka cukup mengerti kalau gurunya sedang ‘ngambek’, hehe..

Kulihat anak-anak hari itu manis sekali. Jarang sekali ada yang berlarian atau naik ke atas meja. Tenang. Hanya beberapa saja ke meja temannya untuk berbisik, entah membisikkan apa, aku tak tahu, namun segera kembali lagi ke mejanya. Tiba-tiba, dengan malu dan sedikit takut Wafa maju menemui mejaku, dan meletakkan selembar kertas yang sudah kumal yang ia remas-remas. Aku hanya menatapnya sekilas, dan ia kembali menuju mejanya. Tak lama, beberapa anak lain mengikuti jejak Wafa.

Hahaha.. ternyata mereka menulis surat untukku!

Kubaca satu per satu tulisan tangan mereka, sampai aku tak kuat menahan senyum dan tawa. Melihatku, akhirnya mereka bersorak, “Yeee, akhirnya Ibu senyum juga!!”

“Sudah, Bu, Ibu sudahan marahnya, Ibu cantik kalau senyum..”, kata Sri.

Haha.. mereka ini.. Aku pun malu sendiri.

Surat dari RikoSurat dari Nova

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s