Idealisme, Kondisi, dan Empati

Pagi itu saya sangat bersemangat pergi ke sekolah. Senin itu akan menjadi Senin pertama setelah entah sekian lama sekolah saya tidak pernah melaksanakan upacara bendera. Sesampainya di sekolah sudah banyak anak-anak yang datang. Mereka langsung mengerubungi dan menyalami saya.

“Bu, hari ini upacara ya, Bu?”, tanya seorang anak kepadaku.

“Iya, hari ini kita upacara”, jawabku sambil tersenyum.

Saya lihat mereka pun begitu antusias. Ini mungkin akan menjadi kali pertama mereka upacara. Terlihat saat hari Sabtu, saat saya latih mereka, mereka masih sangat asing dengan upacara. Bahkan banyak yang tidak hafal lagu Indonesia Raya. Saya langsung bergegas menuju tiang bendera, memastikan tiang siap mengibarkan sang merah putih.

Jeng, jeeeeng.. Tali tiang bendera hilang. Sengaja memang saya turunkan bendera yang sudah bertahun-tahun itu dari tiang. Bendera yang sudah tidak berwarna merah-putih lagi, melainkan krem-merah muda, dan di ujung bendera sudah sobek-sobek. Memprihatinkan.

Upacara kembali gagal dilaksanakan di Margomulyo.

Rasanya semangatku turun dan jatuh bebas. Terlebih hari ini saya tidak ada jadwal mengajar. Saya hanya ditugasi mengajar Matematika dan IPA di kelas III, dan selebihnya Penjaskes di seluruh kelas, serta Bahasa Inggris untuk kelas IV-VI.

Saat semua guru masuk ke kelas masing-masing, saya menjadi ‘kuncen’ kantor. Kepala sekolah sudah raib entah kemana sejak pukul 08.00 WIB. Sesekali kulihat ponsel, kulihat laptop, dan kulihat sekeliling ruangan kantor guru. Membosankan.

Pukul 09.00 WIB para guru sudah kembali ke ruang guru. Beberapa kali kulihat jam tangan. Meyakinkan kalau saat itu memang masih jam 09.00.

“Bu, istirahatnya jam berapa?”, tanyaku pada salah seorang guru.

“Jam 09.00, Bu..”

Saya pun mengangguk-angguk. Saya yakin, masih belum genap satu jam anak-anak belajar. Hmm, sudah mulainya telat, istirahat cepat, gumamku dalam hati.

Kuputuskan untuk keluar menghirup udara. Ku berkeliling sekolah, melihat dan mengabadikan beberapa aktivitas anak-anak ketika jam istirahat dengan kamera ponselku. Sampai di depan kelas III, kulihat seorang anak sedang menulis di mejanya. Kuhampiri ia dan duduk di sebelahnya.

“Lagi menulis apa?”

“Itu Bu, nulis yang di papan..”

Kulihat ia menulis. Kuperhatikan caranya menulis. Ia menulis satu huruf kemudian melihat lagi ke depan.

“Sudah bisa baca?”

Ia hanya tersenyum malu dan mengangguk ragu. Aku yakin sekali ia belum bisa baca.

“Sekarang waktunya istirahat, istirahatlah..”

Lagi, ia hanya tersenyum.

“Ibu pergi lagi, ya..”, pamitku pada anak itu.

Langkahku kulanjutkan ke depan kelas V dan VI. Ruangan kosong. Anak-anak berada di luar kelas semua. Diantara dua kelas itu, kulihat mereka berlarian di lapangan. Pikiran saya pun ikut belarian bersama mereka. Berkejaran antara idealisme dan kondisi yang saya temukan disini. Antara seharusnya dan realitanya.

“Bu, Ibu namanya siapa?”

Pertanyaan itu membuyarkan lamunanku. Saya pun menoleh ke arah suara itu. Anak yang tadi di kelas III. Saya hanya tersenyum.

“Coba baca, ini tulisannya apa?” tanyaku sambil menunjukkan tulisan di rompi Pengajar Muda.

“Apa, Bu?”, tanyanya kembali.

“Iya, ini dibacanya apa? Ini nama Ibu”

Terlihat kepalanya menggeleng-geleng pelan dan menunduk. Sesaat ia langsung mendongak dan berbicara berbisik pada seseorang. Seseorang yang sepertinya beradadi belakang saya. Kutengok ke arah orang itu. Ada seorang gadis yang berjilbab kuning dan mengenakan seragam putih merah yang sudah kekecilan. Jika dilihat dari sosoknya, gadis itu sudah seharusnya mengenakan seragam SMP.

“Bu Ditha, Sarti..” ucap gadis itu kepada anak di kelas III tadi. Rupanya nama anak itu adalah Sarti. Sekilas kuarahkan pandangan kepada dua siswa tersebut. Wajah mereka mirip.

“Sarti adikmu, Rin?” tanyaku pada Rini.

Aku sudah mengenal Rini. Ia adalah murid kelas VI. Ia memang seharusnya sudah kelas VIII. Itu saja yang kutahu.

“Iya, Bu..” jawab Rini.

“Sarti belum bisa baca ya, Rin?”

“Iya, Bu..”

Sarti hanya melihat obrolan kami berdua. Sesekali pandangannya menujuku dan tersenyum.

“Sarti, kamu mau belajar baca sama Ibu?”

Sarti hanya tertunduk. Aku yakin dia sebenarnya mau.

“Kalau begitu, nanti sepulang sekolah kamu datang ke rumah Ibu, yaa..”

Kali ini responsnya menggeleng. Keningku mengernyit. Pandangannya terarah pada Rini, kakaknya. Mataku pun seperti diantarkannya menuju Rini.

“Bu, maaf, kemarin saya tidak bisa datang kerumah Ibu, saya sebenarnya mau banget belajar baca dan baca Qur’an sama Ibu, tapi rumah kami jauh, Bu.. di SP 5 sana..”, Rini menjelaskan kondisi mereka.

“Oo, dekat rumah Pak Duto?”, tanyaku kembali.

“Kesananya lagi, Bu. Ke arah pasar..”

Hmm, jauh memang perjalanan Sarti dan Rini ini menuju sekolah.

“Saya juga suka sakit, Bu.. Sakit ini..” ia menunjukkan bagian pinggangnya, “Kata tetangga saya ini ginjal, kata bidan juga katanya gitu..”

“Sudah periksa?”

“Sudah sama bidan, Bu.. Kalau ke dokter jauh, saya juga gak ada kendaraan, perlu ongkos juga. Kalau bangun tidur itu suka sakiiiiit banget, Bu. Makanya saya suka gak sekolah karena sakitnya sakit banget, jangankan jalan, bangun saja saya gak kuat..”

Rini pun menceritakan rasa sakitnya. Kemudian keluarganya. Ia merupakan anak kedelapan dari sepuluh bersaudara. Sarti ini memiliki adik paling kecil, baru masuk MI yang dekat dengan rumah mereka. Ibunya merupakan single parent. Ayahnya meninggal ketika Rini kelas IV. Kecelakaan. Truk yang ditumpanginya memuat singkong dan ia berada di atas truk. Truk tersebut terguling dan seluruh singkong mengubur ayah Rini.

“Ibu saya hanya dikasih uang satu juta, Bu.. dan disuruh menandatangi surat, saya tidak tahu isinya apa, Ibu juga tidak tahu, karena Ibu gak bisa baca, saya juga belum bisa saat itu.. Rasanya kalau ingat kejadian itu saya ingin marah, Bu.. Masa nyawa ayah saya dibayar uang? Bosnya kayak gak mau tanggung jawab, Bu..” lanjut Rini. Kulihat matanya berkaca-kaca.

“Saya itu ingin segera lulus, Bu.. Saya mau bantu Ibu dan bekerja, kakak-kakak saya juga hanya bisa bantu kalau ada. Kami hanya kuli. Pada tidak bisa baca. Saya juga hanya bisa mengeja. Tapi syukurlah, dibanding tidak bisa sama sekali. Kami tidak punya biaya untuk hidup sehari-hari pun. Kalau kakak saya mengirim uang, 50 ribu kami harus kasih ke tetangga, karena dia yang ambil ke Unit 2, ya untuk biaya bensin. Ini aja buku, Pak Duto yang bayarin, Buu..”

Beberapa kali saya hanya bisa menatap matanya. Lagi, saya hanya bisa menarik napas. Yang baru saja saya dengar bukanlah kisah di sinetron. It’s reality. Logikaku berbicara, “Harusnya kamu kuatkan tekad untuk sekolah, Rin..“. Tapi itu idealisme saya. Kondisinya tidak semudah yang seharusnya otak saya pikirkan. Disini, idealisme dalam pikiran harus terbentur dengan kondisi yang ada. Kondisi-kondisi tersebut mungkin harus memaksa saya untuk mengubah idealisme menjadi empati.

Sarti dan Rini hanyalah salah satu cerminan kondisi yang ada. Belum lagi dengan guru-guru honorer yang idealnya datang tepat waktu, tetapi terpaksa terlambat karena harus menderes karet terlebih dahulu guna membantu dapurnya untuk tetap berasap.

Entahlah, apakah idealisme itu harus saya kubur dan saya ubah jadi empati atau bagaimana. Yang saya tahu sekarang, saya hanya perlu melebarkan telinga untuk mendengar lebih banyak. Yang saya tahu sekarang, saya hanya perlu menajamkan mata untuk melihat lebih dalam. Dan yang saya tahu sekarang, saya hanya perlu memperluas hati untuk berempati.

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s