Idealisme, Kondisi, dan Empati

Pagi itu saya sangat bersemangat pergi ke sekolah. Senin itu akan menjadi Senin pertama setelah entah sekian lama sekolah saya tidak pernah melaksanakan upacara bendera. Sesampainya di sekolah sudah banyak anak-anak yang datang. Mereka langsung mengerubungi dan menyalami saya.

“Bu, hari ini upacara ya, Bu?”, tanya seorang anak kepadaku.

“Iya, hari ini kita upacara”, jawabku sambil tersenyum.

Continue reading “Idealisme, Kondisi, dan Empati”

Bersuara Tanpa Suara

Ina, Pengajar Muda (PM) VII yang akan purna tugas mengajak saya ke sekolah. Saat itu anak-anak masih libur semester, namun anak-anak dimintanya untuk masuk sehari itu. Sebelumnya ia telah mengatakan kepada anak-anak bahwa ia akan pulang dan akan ada guru baru yang akan menggantikannya.

Hari itu, matahari di Bumi Ragem Sai Mangi Wawai terlihat malu-malu. Udara Desa Margodadi pun hangat. Di lapangan hijau dengan rumput yang tumbuh liar, sudah banyak anak-anak berlarian. Bermain-main tanpa beban. Segera mereka mengerubungi kami dan menyalami.

Continue reading “Bersuara Tanpa Suara”

Jalan Tanah Merah dan Foto Presiden

Sayang sekali saya lupa men-charge laptop semalam. Belum sampai satu jam laptop sudah mati. Baterainya habis. Kulihat layar ponsel, sepi. Beberapa layanan chatting yang bisa kuakses di desa ini tidak ada notification. Mau browsing pun jaringannya tak mampu. Kulihat ke sekeliling. Hanya ada dua buah foto terpajang di dinding tepat di depanku. Foto bupati dan wakil bupati Kabupaten Tulang Bawang Barat, tempatku ‘menyedekahkan’ waktu setahunku. Bicara soal dua foto itu, saya jadi teringat obrolan saya dengan seorang guru di sekolah.

Continue reading “Jalan Tanah Merah dan Foto Presiden”