Saya (belum) Berjuang, Saya (baru) Belajar

Setelah hampir satu bulan lebih ber-chit-chat ria di grup Whatsapp dengan para sahabat baru yang mayoritas belum pernah bertatap muka, banyak hal yang saya dapatkan. Banyak hal yang sementara bisa saya simpulkan. Walaupun interaksi kami baru sebatas interaksi virtual, tapi banyak sekali hal yang saya dapatkan dari mereka. Dari obrolan kami yang ngaler-ngidul, mulai dari obrolan sehari-hari yang bermanfaat seperti menu dan asupan nutrisi yang sehat, cerita pengalaman travelling, sharing dari berbagai bidang disiplin ilmu, sampai membahas jengkol, kopi, GLBT, birokrasi, konsep perkalian, sampai bagaimana meningkatkan ekonomi kreatif. Super sekali, bukan?

Awalnya saya cukup minder, kok bisa ya saya berada dalam grup itu? Walaupun dari obrolan di grup dapat saya simpulkan bahwa mereka ‘gila’, tapi tak dapat dipungkiri bahwa kepedulian, perjuangan, dan cita-cita mereka pun ‘gila’. Lagi, saya bertanya, entah kepada siapa, mungkin kepada Allaah yang menakdirkan saya berada dalam lingkaran mereka, atau kepada pihak Rekrutmen Indonesia Mengajar yang telah memberikan kepercayaan dan amanah besar ini kepada saya. Apakah saya termasuk Pengajar Muda ‘kocokan’ -istilah ini saya ambil dari salah satu teman sesama Calon Pengajar Muda-? I don’t know, karena yang saya rasa kapasitas saya dibanding teman-teman baru saya ini masih jauh tertinggal, tapi satu yang pasti, kondisi dan kesempatan ini mengingatkan saya bahwa banyak hal yang bisa saya pelajari melalui mereka saya.

Saya belajar bagaimana solidaritas dan kepekaan satu sama lain saat ada seorang dari kami belum juga melakukan medical check-up. Setelah dicari tahu mengapa, akhirnya kami tahu bahwa ia kesulitan melakukan medical check-up karena ia tengah berada di kampung halaman dimana tidak ada klinik laboratorium yang memiliki fasilitas yang mendukung, sehingga mengharuskan ia melakukan medical check-up sendiri dan nanti di-reimburse oleh pihak Indonesia Mengajar, namun jika ia tidak bisa medical check-up sendiri ia diharuskan ke kota lain untuk medical check-up di klinik yang ditunjuk Indonesia Mengajar. Dan masalahnya adalah ia baru saja lulus dan tidak memiliki ongkos untuk pergi medical check-up ke kota yang ditunjuk, karena kota tersebut cukup jauh dari kampung halamannya, memakan waktu perjalanan sekitar 18 jam perjalanan darat. Well, disini saya lihat bagaimana teman-teman ini bergerak cepat dan saling mengoordinasi bagaimana caranya agar si teman ini bisa melakukan medical check-up. Walaupun pada akhirnya teman ini menolak bantuan kami, tapi saya pun begitu terharu bagaimana teman-teman yang belum dikenal begitu semangat saling membantu satu sama lain. Disini saya belajar, belajar mengenai solidaritas yang sangat tinggi dan kepekaan terhadap setiap anggota keluarga.

Saya belajar bagaimana mereka ‘mau’ berjuang untuk bangsanya ke tempat pelosok yang jauh dari kenyamanan yang ditawarkan ibu kota. Tidak sedikit teman-teman yang terpilih merupakan anak muda yang ada dalam zona yang sangat nyaman. Mereka yang jauh-jauh sampai kuliah di luar negeri mungkin akan dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan bergengsi yang menawarkan salary yang lebih dari cukup, atau mereka yang sudah berada di posisi yang oke di perusahaan oke pula mau meninggalkan itu semua hanya untuk mengajar SD di daerah pelosok yang minim fasilitas. Saya jadi bertanya, kalau posisi mereka saya yang tempati, mungkin saya akan berpikir ulang, entah apakah saya akan tetap lanjut atau tidak.

Saya belajar mengenai keikhlasan. Ikhlas karena ketika segala usaha telah dikerahkan kemudian pada akhirnya mereka harus menyerah karena orang tuanya lebih membutuhkan untuk ia rawat. Ya, salah satu dari kami harus melepas perjuangannya menjadi Pengajar Muda, setelah ia berhasil menyisihkan 7949 pelamar lain, untuk merawat orang tua yang tengah stroke. Insyaa Allaah baginya surga, aamiin.. Saya belajar keikhlasan dari teman yang akhirnya pun gagal berangkat karena terbentrok izin, baik dari orang tua maupun atasannya.

Saya belajar dari apa yang dihadapi teman-teman saya bagaimana perjuangannya untuk menjadi seorang Pengajar Muda. Saya kemudian bercermin kembali, rasanya perjuangan saya tidak seberapa, ah, mungkin memang saya belum berjuang. Untuk medical check-up saya hanya tinggal menaiki bus TransJakarta, kemudian selesai. Untuk posisi di pekerjaan, saya hanya baru sebatas staff biasa, gaji biasa saja, dan mungkin rasanya tidak perlu qualifikasi tinggi dan persaingan super hebat untuk berada di posisi saya. Untuk urusan dengan atasan, saya tidak perlu berdebat dengan atasan untuk memutuskan resign dari pekerjaan. Untuk urusan dengan orang tua, saya pun tidak perlu beradu argumen untuk meminta izin dari mereka dan Alhamdulillaah mereka pun sehat walafiat. Perjuangan saya masih belum seberapa dibandingkan teman-teman lain. Ya, saya ternyata mungkin belum berjuang, saya baru belajar, belajar tentang perjuangan untuk berjuang mengatasnamakan bangsa bersama para pejuang yang baru saya temui dalam awal perjuangan ini.

Salam.

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s