Email Cinta untuk Belajar Cinta

Di pagi buta, di saat teman-teman satu kos saya masih lelap dalam mimpinya, saya terbangun. Hati saya saat itu memang sedang kurang nyaman. Penasaran, deg-degan, takut dengan apa yang akan terjadi, sampai takut saya merasakan kekecewaan. Ya, sebenarnya hal ini tidak lain dan tidak bukan berkaitan dengan proses yang tengah saya jalanin.

Proses menjadi seorang Pengajar Muda. Seperti yang pernah saya tulis dulu, saya sedang mengikuti seleksi Pengajar Muda Indonesia Mengajar Angkatan IX. Alhamdulillaah, tahap II yang berupa Direct Assessment sudah berhasil saya lalui dan saya dinyatakan lolos untuk mengikuti tahapan selanjutnya, tahap III Medical Check-up.

Medical Check-up pun saya jalani, walaupun sebenarnya ngeri-ngeri juga, sih.. Gimana gak ngeri, kita akan mengecek apakah badan kita oke atau ternyata tanpa kita sadari there’s something wrong with me. Ditambah lagi sebelumnya saya belum pernah medcek. Tes yang saya jalani saat itu tes urine dan darah (dibagian ini saya tidak berani melihat bagaimana jarum suntik itu masuk ke urat saya, ngeri broo.. jarumnya gede, hehe..), EKG (rekam jantung), mata (buta warna dan penglihatan), pemeriksaan dokter umum (lebih banyak anamnesa), foto X-ray, auditory, dan respiratory. Selain jarum suntik tadi, saya juga ngeri ketika X-ray takut ternyata ada bercak gitu hasil fotonya di paru-paru saya, atau apalah, secara sekarang udara kotor banget ya..

Seminggu berlalu, belum juga ada kabar. Khawatir, cemas, deg-degan, campur aduk. Ditambah lagi ada beberapa teman-teman yang sudah mendapatkan kabar bahwa mereka dinyatakan lolos sebagai Pengajar Muda. Awalnya mungkin merasa agak tenang, karena teman tersebut melakukan medical check-up bukan di Jakarta, tapi pas malamnya ada 2 orang lagi yang mengabarkan kalau mereka pun sudah dikirimi email pemberitahuan bahwa mereka lolos. Dan yang membuat saya tambah gusar karena mereka berdua itu medceknya di hari yang sama dengan saya. Obrolan di grup whatsapp sudah mulai ramai, sudah mulai saling menguatkan untuk tetap menunggu. Ah, tapi hati saya jujur saja deg-degan, karena jika saya dinyatakan tidak lolos berarti kondisi saya tidak sehat dan fit.

Akhirnya saya memilih mematikan internet data dan tidur.

Keesokannya, saya bangun jauh lebih cepat. Bisa dikatakan pagi buta. Saat teman-teman di kosan masih lelap dalam tidurnya. Udara Jakarta saat itu pun masih terasa dingin. Perasaan deg-degan dan tidak nyaman semalam masih saja ada. Saya bersimpuh di atas sejadah biru saya. Setelah shalat tahajjud, hajat, istikharah, dan witir, saya memohon kepada Sang Maha Pengatur untuk memberikan ketenangan untuk saya. Apapun kondisinya. Jika saya dinyatakan lolos, maka saya mohon agar saya tidak terbawa euphoria dan jika pada akhirnya saya harus mendapati bahwa badan saya kurang fit, maka saya pun harus tenang dan menerima semuanya dengan ikhlas.

Ya, Dia memang Maha Pembolak-balik hati, tak sulit untuk-Nya membalikan hati saya kepada kondisi yang lebih tenang. Alhamdulillaah..

Sampai siang kondisi saya sudah tenang. Sepertinya tahapan denial, anger, bargainning, dan depression tidak saya alami, saya langsung ada pada tahap acceptance. Menerima apapun yang terjadi. Sudah tidak peduli lagi bagaimana obrolan teman-teman sesama calon Pengajar Muda di grup whatsapp. Sampai akhirnya sekitar pukul setengah 3 sore, ada email masuk dari Tim Rekrutmen Indonesia Mengajar dan isinya:

IMG-20140820-WA0008Alhamdulillaah.. saya dinyatakan terpilih menjadi Pengajar Muda Angkatan IX, itu artinya pula saya sehat walafiat dan fit untuk bisa bertahan di daerah pelosok. Entah berapa kali saya mengucap syukur dan bershalawat untuk Nabi. Ini benar-benar melebihi ekspektasi saya dari awal.

Email sore itu memang email cinta untuk saya, karena dengan email itu Allaah tunjukkan kepada saya untuk belajar cinta. Belajar cinta dengan anak-anak pedalaman sana yang sering kali terlupakan pemerintah kita hak pendidikannya. Belajar cinta dari masyarakat pelosok yang sering tersisihkan karena belum mengikuti perkembangan zaman, namun dari situlah mungkin saya akan belajar tentang kesederhanaan, tentang ketulusan, dan tentang kearifan lokal yang mereka junjung. Dan email itu memang email cinta, bahwa cinta itu memberi, bahwa cinta itu menginspirasi, bahwa cinta itu waktu, bahwa cinta itu pengorbanan. Semoga saya dan teman-teman laskar Pengajar Muda IX bisa belajar banyak tentang cinta, bisa menorehkan cinta selama pengabdian dan bisa kembali menebarkan cinta walaupun kami telah kembali pada dunia yang sebelumnya kami jalani.

Mari belajar cinta!

Salam.

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s