Lihat Segalanya Lebih Dekat

Judulnya sama kayak lagu favorit saya zaman masih bocah. Lagunya Sherina tuh, di film Petualangan Sherina. Entah berapa kali saya muterin CD bajakannya, hehe.. Kira-kira gini nih lirik bagian reff-nya yang saya sukai:

“Mengapa bintang bersinar, mengapa air mengalir, mengapa dunia berputar, lihat segalannya lebih dekat, dan kau akan mengertiii..~”

Yes, bagian ujungnya itu yeeeesss banget, “lihat segalanya lebih dekat dan kau akan mengerti”. Ketika kita melihat sesuatu lebih dekat, mencoba melihat dari perspektif lain, biasanya nih yaa, biasanya kita akan menemukan sebuah pemahaman baru. Yes, I did it. Sebenarnya saya ingin mengangkat masalah yang tengah dialami seorang artis ibu kota, tapi sebelumnya saya ingin sharing kenapa saya akhirnya mengambil judul lagunya Sherina untuk judul tulisan saya ini.

Dulu saya suka membandingkan mahasiswa dimana tempat saya bekerja saat ini dengan mahasiswa Bandung (lebih tepatnya zaman saya kuliah). Saya melihat atau lebih ekstremnya menilai kalau mahasiswa ‘disini’ kok malas kalau disuruh nyari dana usaha event. Saya, bersama salah satu rekan kerja yang kebetulan kuliah di Bandung juga, pernah menyarankan anak-anak untuk danus itu dengan cara jualan atau ngamen di luar kampus, persis kayak yang sering dilakukan mahasiswa Bandung.

Atau dulu saya juga pernah bertanya ketika melihat beberapa kali sekumpulan siswa SMA atau SMP di Jakarta yang di seragamnya tidak ada logo sekolah. Secara saya kan dari daerah ya, logo sekolah itu identitas, bisa juga dikatakan pride!

Tapi setelah saya ngobrol lebih dalam, nyari tahu lebih dalam, memahami lebih dalam, saya mengerti. Mahasiswa-mahasiswa ‘disini’ mayoritas etnis Tionghoa, minoritas. Terlebih sejak kejadian Reformasi 1998, bisa dikatakan keamanan dan keselamatan mereka masih belum dikatakan aman, karena setuju atau tidak diskriminasi masih cukup nyata di negara kita. Well, kita balik lagi ke topik. Ya, saya mengerti, akan sangat bahaya sekali jika para mahasiswa itu turun ke jalan sama seperti yang dilakukan mahasiswa Bandung. Ditambah lagi bro sist, disini Jakarta, tingkat premanisitas (bener gak ya istilahnya? hehe..) dan kriminalitasnya lebih tinggi, malah mungkin jauh lebih tinggi dibanding Bandung!

Terus, nyambung sama kenapa di Jakarta jarang banget kita nemuin seragam yang berlogo sekolah ya karena Jakarta rawan banget sama namanya tawuran. Kalau sudah ada dendam sekolah, ya mereka gak akan lihat siapa, tapi anak sekolah mana. Sebenarnya mungkin orang lain pada sudah tahu ya soal ini, tapi jujur, saya baru tahu, hehe..

Anyway, kita kembali kepada tujuan awal saya mencoba menuangkan pendapat mengenai kasus yang dialami seorang mantan artis cilik, Marshanda. Siapa sih yang gak kenal Marshanda? Terlebih buat para anak-anak di tahun awal 2000-an. Ia pertama kali booming sejak kemunculannya di sinetron Bidadari. Ia berperan sebagai seorang gadis piatu yang tinggal bersama ayah kandung dan ibu tirinya. Ia sering mendapat penyiksaan dan perlakuan kasar. Jujur, saat itu saya melihat tokoh yang diperankan Marshanda ini ‘dewa’ banget, hehe..

Peran itu cukup melekat dalam pikiran pemirsa dan kerap dianggap itu adalah Marshanda sendiri (maksudnya kebaikannya). Masyarakat menilai Marshanda sebagai sosok yang mungkin nyaris sempurna. Cantik dan multi-talented. Namun apa yang terjadi di tahun 2009? Ia mengejutkan fansnya dengan mengunggah sebuah video penuh umpatan kepada teman-temannya di masa kecil.

Ia didiagnosa memiliki gangguan Bipolar, yaitu suatu kondisi gangguan mood, bisa saja saat itu ia merasa bahagia sekali dan bisa tiba-tiba sedih yang sedihnya sedih banget, atau sering juga disebut Manic-Depressive.

Kondisi itu membuat Marshanda menjadi tidak stabil emosinya. Masyarakat banyak yang menyayangkan apa yang dilakukannya saat itu. Kemudian ia kembali lagi bangkit, berhijab, menikah, memiliki anak yang lucu, dan menjadi motivator. Masyarakat kembali memujanya. Namun apa yang terjadi? Tahun ini ia kembali mencengangkan publik dengan gugutan cerainya dan puncaknya ia berkonflik dengan ibu dan membuka jilbab.

Apa yang terjadi (lagi) di masyarakat? Tidak sedikit masyarakat yang mencap dia ‘sakit’, anak durhaka, atau hal negatif lain. Tapi apakah kita tahu mengapa dia bisa ‘begitu’? Tapi apakah kita tahu mengapa ia bisa melakukan sesuatu seperti ‘itu’? Butuh usaha untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi.

Ada seorang teman yang memiliki gangguan mood yang sama dengan Marshanda, ditambah lagi ia juga mengidap epilepsi. Ia mengatakan bahwa seorang pengidap bipolar mengalami perasaan bahwa tak ada yang mengerti dirinya selain diri dia sendiri, ia merasa hampir semua orang memandang sinis dirinya, menganggapnya aneh, rasanya (katanya) seperti dicampakkan dunia, kasarnya seperti terjadi pergulatan sengit “Me VS WORLD”.

Lantas, apa yang dibutuhkan orang dengan gangguan seperti itu? Selain penanganan secara medis (psikiatris), sangat diperlakukan psychologycal treatment. Psychologycal treatment yang seperti apa? Terlebih yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Siapa? Keluarga. Apa yang bisa dilakukan keluarga? Memberikan perhatian super duper luar biasa, terlebih ketika ia ‘merasa’ bahwa dunia sedang memusuhinya. Pelukan yang lembut, rangkulan, ciuman, belaian, dan perlindungan dari setiap hal yang dianggapnya sebagai ancaman. Siapa yang mengancam? Dunia. Orang luar yang mengancam kenyamannya.

Dalam kasusnya Marshanda ini, media mungkin bisa diasosiasikan sebagai ‘dunia yang mengancam’. Blow up yang dilakukan media terhadap apa yang dialami Marshanda. Suka tidak suka, media kita masih suka tendensius, kadang tidak jarang memojokkan.

Jika merunut lagi kepada masa lalunya (yang banyak diangkat oleh infotainment dan yang sering ia ceritakan ketika menjadi motivator), orang tuanya bercerai saat ia usia 7 tahun, kemudian ibunya harus bekerja kembali dan menghidupi ia dan kedua adiknya. Sebagai seorang anak seusia itu, tentunya akan banyak meminta perhatian, namun saat itu ia menceritakan bahwa ibunya begitu capek dan sering marah-marah. Dan menurut ceritanya pula (bisa dicari di Youtube), ia merasa tersakiti, tertolak. Kemudian ia menjadi artis, ia menjadi tumpuan untuk keluarganya, di usianya yang masih belia, ia kehilangan masa kecilnya, kehilangan masa bermain dengan teman sebayanya, dan dituntut untuk selalu tampil sempurna.

Pengalaman-pengalaman masa kecil inilah yang sebenarnya akar dari segala akar yang dialami Marshanda saat ini. Ia kehilangan kasih sayang dan perhatian, padahal menurut Karen Horney, seorang ilmuwan sosial-psikoanalis, kebutuhan dasar seseorang adalah kebutuhan untuk dicintai dan diperhatikan unconditional. Kebutuhan itu tidak terpenuhi, perceraian orang tua dan kondisi pasca cerai membuatnya semakin ‘terbuang’. Usahanya untuk ‘lari’ kepada teman sebaya pun tertolak. Ia semakin merasa ‘sendiri’.

Lingkaran SetanKetika ia menjalani dunia keartisannya, tuntutan fans terhadapnya begitu besar, setiap gerak-geriknya selalu disorot. Ia dituntut untuk selalu tampil sempurna, mungkin diharapkan seperti tokoh Lala dalam sinetron yang pertama kali melambungkan namanya. Kecintaan para fans pun terhadapnya dirasa sebagai cinta yang bersyarat, padahal sebagai manusia ia memiliki kebutuhan untuk dicintai tanpa syarat. Ketika ia merasa frustasi, keluarga yang dicintainya kembali menguatkan untuk tetap survive menjalani kehidupan selebritasnya, mungkin yang saya lihat alasannya karena ia adalah tulang punggung keluarga. Lagi, di rumah pun ia tak mendapati uncoditional loved.

Ia semakin merasa jarak antara dia dengan dunia semakin jauh. Ia merasa duel Me VS World semakin sengit. Ia semakin merasa tidak ada orang yang mengerti dirinya, termasuk keluarganya.  Ketika dunia menyorotinya dan hanya ingin pemberitaan tentangnya, ada sosok Ben yang setia disampingnya, sampai akhirnya ia bangkit, ternyata masih ada yang mencintainya tanpa syarat. Namun setelah ia melayangkan gugatan cerai terhadap Ben, suaminya, ia kembali seolah ingin menampakkan siapa dirinya kepada dunia. Banyak gebrakan yang ia buat, termasuk keputusan untuk membuka jilbab dan secara terang-terangan membuka aib yang terjadi dalam keluarganya (bisa dilihat di tayangan Just Alvin di Youtube).

Jadi, kasus konflik Marshanda dengan ibunya, konflik Marshanda dengan suaminya, dan kasus Marshanda dengan jilbabnya, jika kita lebih telaah dan lihat lebih dekat sebenarnya seperti fenomena gunung es. Inti masalahnya dimana? Mungkin saya harus katakan ada di trauma masa kecil, ada di bagian lack of affection, atau di kegagalan attachment ibu dan anak. Kasus yang sekarang tidak akan terlepas dengan apa yang dialami di masa lalu. Mungkin saat ini ada sesuatu yang menjadi pencetus sehingga luka lama kembali menyembul dan pengalaman yang menyakitkan yang dahulu direpresi kembali mengganggu, yang membuatnya harus kembali memusuhi dunia.

The last but not least, kita tidak bisa menilai ia sebagai seorang yang tidak bisa komitmen dengan jilbabnya, tidak bisa menilai ia sebagai seorang anak durhaka yang berkonflik dengan ibunya, atau seorang istri yang nusyuz. Ini adalah masalah rasa lelah yang terekspresikan. Ini adalah ekspresi karena kekecewaan karena kebutuhan dasar untuk dicintai secara tanpa syarat. Terakhir, sebelum menutup tulisan ini, saya kembali mengutip lirik di lagu Sherina,

“… Lihat segalanya lebih dekat dan kau bisa menilai lebih bijaksana..~”

Semoga kita bisa belajar dari pengalaman seseorang, siapa pun dia, dan kita bisa menjadi lebih bijaksana.

Salam.

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s