Agama? Hapus Sajaaa…

Wacana mengenai penghapusan kolom agama dalam KTP beberapa minggu lalu kembali menghangat, sejak rame digembor-gemborkan kubu salah satu capres. Timbul pertanyaan dalam benak saya, “memang kenapa sih kolom agama harus dihapus di KTP? memang sebegitu mengganggu kah keterangan agama?”.

Beberapa pendapat muncul, beberapa diantaranya karena pengalaman-pengalaman yang dialami. Ada yang ditolak kerja gara-gara ia berbeda agamanya, ada yang dipersulit birokrasinya, dan berbagai perilaku diskriminasi lainnya. Ini yang pro terhadap penghapusan kolom agama. Berbeda dengan orang-orang yang selama ini bisa hidup berdampingan dengan damai bersama para pemeluk agama lain. Toh, mereka yang kontra merasa tidak bermasalah dengan adanya keterangan agama dalam kartu identitas.

Setiap orang terbentuk dari pengalaman dan penghayatan masing-masing. Semua pro dan kontra tak ada yang salah. Pengalaman dan penghayatan itu membentuk “self”. Self, dalam pembahasan psikologi (saya mengambil definisi dari Carl Rogers) didefinisikan sebagai sebuah konstruk mengenai bagaimana sesorang melihat dirinya sendiri. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, individu Indonesia melihat bagaimana ia melihat dirinya sulit sekali dipisahkan dari agama. Walaupun bukan negara yang berbasis agama, tapi Pancasila sebagai dasar negara memuat sila pertamanya adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Banyak sekali orang yang menginterpretasikan definisi “ketuhanan” bukan berarti beragama, karena pada kenyataannya ada orang-orang yang mengaku bahwa mereka ber-Tuhan, tapi tidak beragama.

Dalam pandangan saya, ketika kita ber-Tuhan, atau mengakui adanya Tuhan, tentunya kepercayaan kita akan terimplementasi pada suatu perilaku atau lebih jauhnya muncul dalam bentuk ritual peribadatan, apapun konteks agamanya. Ketika ritual itu terimplementasi, menurut saya disitulah agama berdiri.

Kembali kepada masalah konsep “self” dalam masyarakat Indonesia yang saya katakan sulit sekali dipisah dari agama, hal ini terlihat dari proses penanaman nilai dan moral yang dilakukan pendidik, atau ketika penanganan masalah atau treatment psikologi, pendekatan melalui agama cukup efektif.

Resiliansi pasca bencana dilakukan menggunakan pendekatan agama. Penanaman nilai-nilai pada anak dilakukan menggunakan pendekatan agama. Sampai persuasi kepada masyarakat pun pendekatan agama dan tokoh agama sangat efektif dilakukan di Indonesia. Contoh nyatanya nih yang baru-baru ini terjadi apa yang dilakukan para calon presiden, para capres sibuk mendatangi ulama dan pesantren-pesantren. Alasannya? Karena agama adalah hal paling esensial dalam tatanan bangsa Indonesia.

Agama, bukan hanya digunakan dan diaplikasikan bukan hanya ketika kita hidup, namun sampai mati pun agama akan kita bawa, bahkan dalam kepercayaan setiap agama di Indonesia percaya akan adanya kehidupan yang akan dijalani manusia setelah mati. Kita, sebagai manusia, ketika ada manusia lain meninggal dunia, akan ada perlakukan yang kita lakukan kepada jenazah, bukan hanya dikubur tanah kemudian ditinggalkan. Perlakuan terhadap mayat ini umumnya berbeda untuk setiap kepercayaan agama dan sebagai ummat beragama, tentunya kita ketika mati ingin diperlakukan sesuai dengan tata cara agama kita. Beruntung jika kita mati di tengah keluarga kita, bagaimana jika kita mati di tanah rantau dan kartu identitas kita tidak ada keterangan agama?

Lalu bagaimana dengan atribut keagamaan yang sering dikenakan masyarakat Indonesia? Logikanya, kalau keterangan agama saja yang tidak setiap waktu nampak (karena berada dalam KTP yang biasanya disimpan di dalam dompet) dihapus, apa kabar dengan atribut keagamaan yang dipakai umat beragama di Indonesia, seperti jilbab, kopiah, atau kalung salib? Kalau begitu, diskriminatif yang bermula dari administratif mungkin hilang, tapi hak kebebasan beragama bagaimana? 🙂

Ini hanya sebuah pemikiran dan perenungan saya pribadi sih, hehehe.. Pro dan kontra saya serahkan kembali kepada pribadi masing-masing.

Terakhir, niat baik  untuk penghapusan diskriminasi karena agama saya setuju dan dukung sepenuhnya, tapi caranya menghapus kolom agama di KTP sepertinya bukan solusi (menurut saya), keterangan agama mungkin terhapus, tapi apakah diskriminasi akan ikut terhapus? 🙂

Itu PR kita semua. Sebagai warga negara. Sebagai individu.

Salam.

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s