Sehari Bersama Dalam Satu Misi

DA PM Angkatan IX 17062014

Hari itu, 17 Juni 2014, menjadi tanggal yang cukup spesial untukku. Tanggal itu Allaah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang luar biasa yang memiliki visi dan misi yang sama, mengambil peran dalam mencerdaskan anak bangsa. Hari itu, saya mengikuti Direct Assesment calon pengajar muda angkatan IX.

Pengalaman ini sungguh hal yang luar biasa untukku, sampai-sampai malamnya saya gelisah dengan apa yang akan terjadi besok, saya takut kesiangan hadir di tempat pelaksanaan, saya takut tidak maksimal dalam berusaha, ah rasanya ini melebihi perasaan yang muncul saat saya akan menjalani sidang skripsi. Dan jam tidur pun berubah, nyaris jam 12 malam.

Akhirnya, saya pun bertemu dengan hari yang telah membuatku gelisah, 17 Juni 2014. Allaah mempermudah setiap langkahku, semuanya tiada yang terlambat, bahkan saya sudah siap ketika jam masih menunjukkan pukul 05.30 pagi, padahal Direct Assesment dimulai pukul 07.30.  Jalanan Jakarta pagi itu masih cukup lengang. Tak perlu banyak waktu saya habiskan di jalanan.

Kulirik jam di pergelangan tanganku, masih pukul 06.00, saya sudah berada di Halte Polda, halte terdekat dengan gerbang SCBD, sebuah kompleks bisnis di kawasan Jalan Sudirman. Halte itu masih cukup lengang, belum banyak orang yang turun di halte itu, saya pun memutuskan untuk duduk sejenak dan menikmati sarapan pagiku dengan sepotong roti keju. Alhamdulillaah rejeki pagi untuk bahan energi sebelum makan siang.

15 menit sudah kulewatkan duduk di bangku halte, rasanya sudah waktunya saya beranjak menuju tempat tes. Bingung. Saya tidak tahu harus kemana, SCBD begitu luas, ada banyak gedung di kawasan tersebut, ditambah saya tidak familiar dengan kawasan itu, baru sekali saya sebenarnya kesana, sekitar 2 tahun yang lalu. Beberapa saat saya berpikir, akhirnya saya putuskan untuk menggunakan jasa Abang Ojek, hehe..

Dan, ya, ternyata gedung tempat saya melaksanakan Direct Assesment, Gedung The Energy, jauh dari gerbang utama SCBD, rasanya pilihan naik ojek itu adalah pilihan paling tepat. Turun dari ojek, saya menjumpai seorang wanita berjilbab yang juga baru saja turun dari motor pengantarnya. Ia membawa map, sama sepertiku. Pikirku, ia pasti sesama peserta Direct Assesment. Saya pun menunggunya, ia sadar itu. Segera ia tersenyum padaku dan bertanya, “Mau Direct Assesment Juga, ya?”, benar dugaanku, segera saya pun mengangguk.

Kami pun memutuskan menuju ke lantai 22 bersama. Saya cukup takjub dengan sistem lift di gedung itu, hehe.. maklum “katro” :p Tiba di lobby lantai tersebut, kami disambut dengan banner Indonesia Mengajar dan para calon pengajar muda yang sama-sama megikuti Direct Assesment hari itu. Mereka terlihat sudah cukup akrab walaupun pastinya baru beberapa menit berkenalan. Kami pun memutuskan untuk gabung dan berkenalan dengan teman-teman baru yang satu visi. Ada Ruth yang telah bekerja di perusahaan asing, Stiko di Unilever, Fanny dari Bengkulu, dan banyak lagi. Begitulah berkumpul dengan orang-orang positif. Orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama dengan saya. Anak-anak idealis yang memilih untuk berbuat. Ah, Alhamdulillaahi rabbil ‘alamiin. Thanks Ya Allaah for everything You gave to me.

Tepat pukul 07.15, kami diminta untuk melakukan registrasi ulang dan menyerahkan setiap persyaratan yang diminta sebelum tes, setelah itu kami dipersilakan menuju ruang 5 untuk mengikuti briefing pelaksanaan tes dan gambaran Indonesia Mengajar secara umum. Pak Susilo namanya, kepala tim Rekrutmen dan Pembinaan Pengajar Muda (istilah sebenarnya bukan ini, tapi maaf, saya lupa, hehe..). Setelah Pak Susilo selesai menyampaikan gambaran seleksi hari itu dan penjelasan umum mengenai Indonesia Mengajar, kami diminta untuk mengisi tes psikotes, tes PAPI namanya.

Oiya, seleksi Direct Assesment ini merupakan tahap kedua dari seleksi Pengajar Muda. Tahap pertama berupa seleksi essay yang kita submit. Dari informasi Pak Susilo, ada 8001 aplikasi yang masuk di gelombang ini, dan yang terjaring hanya sekitar 222 aplikasi. Wow, Alhamdulillaah.. saya berada dalam segelintir orang itu. Sungguh Allaah Maha Baik. Dalam tahap ini, calon Pengajar Muda akan dihadapkan pada serangkaian tes, psikotes, self-presentation, Focus Group Discussion (FGD), interview, dan simulasi mengajar. Semuanya dilaksanakan hari itu juga, seharian.

Selesai mengisi PAPI, kami diminta untuk mengisi lembar analisa untuk bahan FGD nanti. Masalahnya seputar masalah yang kelak kita temui di lapangan ketika menjadi Pengajar Muda. Kita diminta membuat prioritas mana yang paling penting dan urgent untuk dilaksanakan. Kita pun diminta untuk menggambarkan atau menuliskan alur berpikir kita. Waktu yang diberikan hanya sekitar 30 menit. Kemudian, kami dibagi dalam 3 kelompok. Kebetulan, peserta yang hadir hari itu sekitar 20-22 orang. Saya masuk dalam kelompok 1, saya, Prada (HI, UGM), Fitri (Pend. Biologi, UNJ), Ditta (Ekonomi, UI), Wido (Geografi, UI), Anggi (Akuntansi, IPB), Lia (Manajemen, IPB), dan Ria (Hukum, Unpad).

Setiap kelompok masuk ke dalam setiap ruang kelas yang telah ditentukan. Kami diminta untuk maju mempresentasikan diri sendiri. Ada 2 orang assessor yang menilai kelompok saya. Fitri mengajukan diri sebagai persenter pertama. Fitri, gadis manis berkerudung lebar, pembawaannya yang supel, ceriwis, dan aktif dalam memajukan lingkungannya. Kami hanya diberikan waktu 7 menit dalam presentasi diri, itu termasuk jika ada teman yang bertanya. Selesai Fitri, ia dipersilakan untuk menunjuk siapa pun, namun Fitri memilih untuk mempersilakan siapa yang ingin maju, Ria pun mengangkat tangan. Ria, berasal dari sebuah kabupaten kecil di pinggiran Danau Toba (Ah, lagi-lagi saya lupa namanya), motivasinya menjadi pengajar muda adalah karena cita-citanya menjadi Kriminolog anak dan bekerja di KPAI. Setelah Ria selesai memperkenalkan dirinya, kini saatnya ia menunjuk salah seorang dari kami, kecuali Fitri. Tak dinyana, ia menunjukku. Sejenak aku hela napas. Rasanya masih belum tahu bagian mana yang harus aku ceritakan dalam hidupku pada teman-teman baruku ini. Ah, show must go on. Cerita pun mengalir begitu saja, tentang perjuangan dan tentang motivasiku mengikuti program ini, entahlah bagaimana ceritaku itu. Next, kni giliranku menunjuk, namun ada seseorang yang mengangkat-angkat tangan, Anggi. Anggi, gadis berbadan subur dan berpenampilan seperti profesional saat itu, bercerita tentang perjuangannya, tentang ibunya yang pernah menjadi TKW, ia sungguh inspiratif. Setelah Anggi, majulah Ditta, gadis menarik yang bercerita dengan gaya orang ketiga. Ia menceritakan bahwa si dia (baca: dirinya sendiri) merupakan anak yang biasa-biasa saja, bahkan, orang tuanya pun meragukan kemampuannya bisa masuk universitas terbaik di Indonesia, dan menurut saya, dia tidak biasa-biasa saja, tapi luar biasa. Setelah Ditta, saatnya Lia yang menunjukkan dirinya, dia bekerja di sebuah perusahaan NGO, dia banyak mempunyai pengalaman dengan kondisi sekolah-sekolah di daerah. Dia punya banyak bekal untuk kelak. Tinggal dua laki-laki yang ada di kelompok kami yang belum maju, Prada dan Wido. Prada maju lebih dulu, ia pernah bekerja di DPR, ah saya pun lupa di bagian apa, hanya yang saya tangkap, dia mengawasi anggaran dan RUU yang sedang dibahas oleh para anggota dewan yang terhormat, ia pun bercerita mengenai adiknya yang bisa kuliah sampai Singapur. Motivasinya adalah agar banyak anak-anak di daerah seperti adiknya, Subhanallaah.. and the last but not least, saatnya Wido. Dia sekarang tengah menekuni usaha dalam bidang pengembangan sumber daya manusia bersama para temannya. Ia hampir sama dengan Ditta, pernah diragukan kemampuannya, tapi dia buktikan bahwa dia mampu masuk ke Universitas Indonesia.

Seusai self-presentation, kelompok kami menuju Aula untuk interview. Interview yang dilakukan cukup lama sekitar 45-60 menit. Apa yang ditanyakan tidak jauh dari apa yang ditanyakan dalam essay aplikasi yang kita kirim, ada beberapa yang diimproviasi. Ah, saya sempat lupa apa yang saya tulis, hehe..

Keluar dari ruang aula, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Tak terasa, serangkaian kegiatan yang cukup padat rasanya cepat sekali memakan waktu. Saya pun menuju lobby tempat kami tadi menunggu. Sudah banyak teman-teman lain yang tengah menyantap makan siang yang disediakan panitia. Saya pun mengambil satu, lapar banget, hehe.. Selesai makan, saya pun melanjutkan mendirikan shalat dhuhur, meminta keberkahan dan kelancaran untuk hari ini dan hari-hari berikutnya.

Kegiatan dilanjtkan kembali sekitar pukul 13.30. Saatnya psikotes grafis. Psikotes ini tidak jauh-jauh beda dengan psikotes yang biasa dilakukan pada seleksi di perusahaan-perusahaan. Selanjutnya adalah simulasi mengajar. Disinilah puncak dari segala puncak, menurut saya, hehe..Oiya, sebelumnya saya sudah menyiapkan bahan ajar, sederhana sih, saya hanya menggambar proses pertumbuhan yang terjadi antara manusia, binatang dan tumbuhan. Kebetulan saya mendapat materi IPA kelas III, etntang ciri-ciri pertumbuhan pada tumbuhan. Begitu pun dengan teman-teman saya, persiapannya tentunya jauh lebih keren. Lebih total. Tapi apa yang terjadi? dalam kelas ada skenario yang harus dilakukan. Setiap calon pengajar yang akan mengajar, ia diminta keluar dulu, dan kami sisanya diminta untuk acting sesuai skenario yang disiapkan para assesor. Jangan tanya bagaimana, semua mendadak gila, hahaha.. dan apa yang etrjadi sungguh ekstrem.

Rangkaian demi rangkaian tes telah saya ikuti, kami pun diminta berkumpul dengan formasi yang sama saat briefing. Kami, sudah benar-benar cair, bercanda membahas di tes simulasi mengajar. Ada salah seorang yang berinisiatif untuk meminta setiap peserta menuliskan nomor telepon, biar kami tidak putus silaturahim. Sungguh, saya lagi-lagi bertakbir, Allaah begitu baik kepada saya, memperkenankan saya ada dalam kelompok orang-orang luar biasa. Anak muda yang hebat dalam hal akademik, banyak yang sudah merintis karier di perusahaan-perusahaan multinasional dan mau meninggalkan zona nyamannya untuk melaksanakan misi mencerdaskan anak bangsa di pelosok negeri.

Thanks Allaah.

Salam.

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s