Undefined Title

Pagi ini salah satu teman saya datang ke kosan sebelum ia bekerja. Kami sepakat untuk menghadiri akad dan pernikahan salah satu sahabat kami sejak kuliah, Yani. Kami memang bukan berasal dari jurusan yang sama, namun Allaah mempertemukan kami melalui program beasiswa yang saya dapat di jenjang S1. Namun kebetulan, sahabat saya yang akan menikah ini, Yani, berasal dari SMA yang sama, kami sudah saling kenal dekat karena pernah tergabung dalam satu komunitas yang sama, Chemistry Science Club.

Awalnya kami (saya dan teman yang datang ke kosan tadi pagi), membicakan mengenai rencana keberangkatan kami, kapan kami berangkat, dan kapan rencana kembali ke Jakarta. Kebetulan pesta pernikahan Yani ini akan berlangsung di kota kelahiran saya, Tasikmalaya. Namun, obrolan kami pun mulai ngaler-ngidul sampai akhirnya ia membicarakan rencana pernikahan orang lain. Ya, teman saya, Irma namanya, mengatakan bahwa Si A akan menikah juga Sabtu minggu ini. Hah? Rasanya ekspresi itu tak kuasa saya sembunyikan. Ya, saya kaget sekali si A akan menikah dalam waktu dekat. Saya tidak tahu mengapa saya masih kaget dan ada perasaan tidak nyaman. Jujur, saya pun sebenarnya bingung menjelaskan apa sebenarnya yang saya rasa.

Si A ini, tak lain dan tak bukan adalah orang yang pernah dekat dengan saya. Si A adalah sosok yang cukup sempurna untuk saya. Apa yang saya idamkan dari seorang lawan jenis ada dalam diri Si A. Ia sosok yang cerdas, tegas, disiplin, dan menurut saya (banyak orang yang mengiyakan juga) kalau dia juga cukup menarik secara fisik. Secara spiritual, menurut saya pun dia cukup baik, secara dia berasal dari daerah yang berasal dari daerah dengan keislaman yang cukup kental. O,iya, dia juga kebetulan teman seperjuangan kami, salah satu penerima beasiswa yang sama untuk jurusan Pendidikan Dokter. Cukup perfect untuk saya.

Kami dekat sejak awal semester 3. Kami sering menghabiskan waktu bersama. Saya banyak belajar dari dia. Pengetahuannya yang luas, disiplinnya pada waktu, komitmennya pada janji, dan ketegasannya. Menjadi orang yang pernah dekat denganya membuat saya pun mendapatkan kesempatan mengenali setiap hal negatif, seperti suka sekali mengomentari hal yang menurut dia kurang tepat, terlalu kaku pada waktu, dan pada orang. Namun apa yang saya alami itu cukuplah membuat saya menertawakan apa yang dia lakukan. Pernah suatu waktu kami janji untuk pergi bersama, ia menjemput saya di asrama. Seperti biasanya, ia pasti mengabari bahwa ia akan berangkat dari tempat kosannya dan setiba di parkiran asrama ia pun kembali mengabariku. Saya pun membalasnya, “Ok”. Segera saya bersiap dan berjalan menuju parkiran. Tanpa diduga, ada beberapa teman sesama penghuni asarama di ruang tempat TV. Mereka menyapaku dan menanyakan sesuatu. Tak mungkin saya tidak menjawabnya. Setiba di parkiran, ia sudah berada di atas motornya, seperti biasa ia tengah asyik memainkan ponsel. Tak dinyana, ia sedang melototi fungsi stopwatch. Dia mengatakan bahwa saya seharusnya bisa menempuh waktu sekian menit dari kamar sampai parkiran, tapi saya lebih lama 2 menit sekian. What? Rasanya antara kesal, heran, aneh, sampai pengen ketawa dengan apa yang dilakukannya. Tapi itulah dia.

Sekarang, terhitung beberapa hari lagi ia akan menjadi suami dari orang lain. Sebenarnya di sisi lain ada rasa syukur dan turut bahagia, akhirnya ia menemukan wanita yang bisa memahami dia jauh dibanding saya memahaminya, namun entah mengapa ada rasa yang saya pun tidak mengerti, entah itu cemburu atau bagaimana.

Terlepas dari segala hal negatif tentang dia, dia pun memiliki sesuatu yang saya sering harapkan. Bahkan, jauh sejak saya bertemu dengannya. Sampai sahabat saya di SMA (kebetulan ia mengambil jurusan keperawatan), tanpa sengaja bertemu dengannya, saat itu saya belum mengenalkan mereka, bahkan memperlihatkan fotonya pun belum. Namun anehnya, ketika sahabat saya melihatnya karena sama-sama praktek di rumah sakit yang sama, bisa mengenali dan mengira bahwa dialah si A. Sahabat saya langsung mengirimkan SMS dan menanyakan apakah si A sedang berada di rumah sakit tersebut atau tidak. Tanpa bertanya jauh, saya langsung menanyakan posisi si A, dan si A jawab bahwa ia sedang berada di rumah sakit yang sahabat saya bilang dan langsung mem-forward jawabannya kepada sahabat saya. Sahabat saya langsung telepon dan ia terdengar senang karena insting dia tepat. Katanya, ia melihat si A persis dengan sosok yang selama ini saya idamkan.

Hari ini saya serasa ditampar lagi, diingatkan kembali bahwa apa yang menurut kita terbaik untuk kita belum tentu menurut-Nya juga terbaik. Atau apa yang menurut penilaian kita baik, baik pula untuk kita. Jika dia memang baik, mungkin saya tidak sebaik dia sehingga saya pantas untuknya. Atau memang saat itu apa yang saya jalani dengannya bukan jalan yang baik sehingga Allaah tak menakdirkan kami berujung baik. Ah, Allaah memang begitu baik, kembali lagi dan tak henti mengingatkanku untuk kembali memperbaiki diri. 🙂

Untuk Yani dan untuk A, barakallahulaka wabaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khair. Semoga kalian bahagia dengan keluarga yang akan dibangun masing-masing. Ah, saya kembali ingat, Yani adalah orang pertama yang sadar kalau saya saat itu tengah jatuh cinta kepadanya. Ia dari sejak awal sudah mengingatkan dengan memberikan headset-nya untuk mendengarkan sebuah lagu cantik dari Edcoustic, Nantikanku di Batas Waktu. Ya sudahlah, kali ini saya hanya bermohon pada Pemilik Cinta Sejati, semoga Dia mengampuni khilafku dan membangunkanku cinta di bawah naungan Cinta-Nya. Aamiin. 😉Selamat Merayakan Cinta

Salam.

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s