Yes, I’m fallin in love!

Sebelumnya, saya tidah pernah mendengar Program Indonesia Mengajar, padahal ini sudah berjalan sejak 2010. Ah, kemana saja saya selama ini? Baru sejak tahun 2013 saya mengenalnya dan saya langsung jatuh cinta. Cepat sekali rasanya saya jatuh cinta, padahal saya bukanlah tipe yang mudah suka apalagi cinta. Entahlah.

Sore itu, Kak Cecil, salah satu teman sekantorku, yang juga relawan di Indonesia Mengajar memberikan sebuah brosur. Brosur sebuah acara, Festival Gerakan Indonesia Mengajar namanya. Hanya sekilas saja saya melihat brosur itu. Sekilas juga saya melihat donasinya Rp 45.000,00 lumayan buat 3 kali makan. Tapi semakin saya biarkan brosur itu, rasanya brosur itu semakin tersenyum manis. Perlahan tapi pasti, tangan ini mengambil juga brosur yang tadi kubiarkan tergeletak. Kubaca benar-benar. Tanpa pikir panjang, kubuka websitenya dan saya pun mendaftarkan diri untuk turut serta kerja bakti. Rasanya otak itung-itunganku sekejap pergi.

Hari itu pun tiba. Hari dimana saya harus melaksanakan kerja bakti. Saya bersama beberapa teman dari kantor menuju Ancol. Sudah banyak sekali orang yang mengantri untuk masuk ke gedung tempat kerja bakti dilaksanakan. Jujur saja, saya sepenuhnya saya belum mengerti apa yang hendak saya lakukan, kerja bakti seperti apa yang akan saya kerjakan disana. Saya lihat, semua orang disana berwajah ceria, semua antusias. Orang tua, remaja, lansia, anak-anak, bahkan ada orang dengan kursi roda turut serta. Hati saya bergetar, program apa ini? Kenapa setiap orang di gedung itu sebegitunya? Entah karena begitu banyaknya energi positif, saya seperti tak habis tenaga. Satu wahana ke wahana lain saya jajaki. Saya hampir lupa dengan jadwal makan siang! Disana pun saya bertemu dengan pendiri program ini, Bapak Anies Baswedan.

O, ya Allaah.. saya bersyukur untuk hari itu. Saya pernah berada dalam kumpulan orang-orang yang peduli akan pendidikan. Seolah saya bisa merasakan semangat adik-adik dan para pengajar yang berjuang di pelosok negeri ini. Hari itu saya belum bisa memberikan apa-apa, saya hanya bisa memberikan waktu saya seharian untuk sama-sama kerja bakti membuat sarana pembelajaran. Yang saya lakukan hari itu hanya memerankan tokoh Si Kodi yang pantang menyerah. Yang saya lakukan hari itu hanyalah menulis sepucuk surat untuk pengajar disana dan mengatakan terima kasih atas dedikasi mereka. Yang saya lakukan hanyalah merangkum dan menuliskan kembali dengan semenarik mungkin dalam sebuah kartu pembelajaran. Tak banyak memang yang saya lakukan, justeru hanya biasa-biasa. Ya, yang saya lakukan hanya sederhana, dan semoga hal sederhana yang saya lakukan dekat dengan ketulusan dan mampu membuka pintu hati, itu saja dalam benakku.

Bulan lalu, tepat 7 bulan setelah Festival Gerakan Indonesia Mengajar itu saya ikuti. Entah mengapa hati ini masih tersangkut disana. Saya seperti sedang jatuh cinta. Saya masih menunggu balasan surat semangat yang saya kirim. Tidak jarang saya mengecek di Youtube adakah video dongeng yang saya buat itu diunggah. Sampai akhirnya, saya menemukan sebuah informasi mengenai pendaftaran Kelas Inspirasi. Saya pun baru tahu ada program lainnya dari Indonesia Mengajar. Program yang dikhususkan untuk para profesional yang mau berbagi mengenai profesi mereka dengan para siswa SD. Saat itu, tanpa pikir panjang, saya kembali mendaftarkan diri. Ada rasa ragu awalnya, apakah orang seperti aku, yang masih minim karya mampu menjadi inspirator? Ah, ya sudahlah, semoga Allaah memberikan saya kesempatan untuk belajar lebih, karena dengan mengajar, sejatinya saya sedang belajar lagi, karena murid pertama yang saya ajar adalah diri saya sendiri.

Hari yang dinanti pun datang jua. Saya harus bercerita mengenai apa yang saya kerjakan sehari-hari dan mengenai jurusan yang saya tempuh di depan anak-anak SD. Disini saya benar-benar banyak belajar. Disini saya sadar, mengajar anak SD itu tidaklah mudah. Saya belajar bagaimana menguasai kelas, saya belajar bagaimana menerjemahkan setiap kata agar dapat dimengerti oleh anak-anak kelas 1 dan bagaimana saya menyampaikan kepada siswa kelas 6. Saya mungkin terbisa berbicara dan mem-briefing para mahasiswa dengan IPK di atas rata-rata, ternyata itu bukan prestasi. Disinilah saya benar-benar diuji. Pengalaman sehari itu benar-benar mengajarkan saya banyak hal dan kacaunya, membuat saya benar-benar jatuh cinta dengan dunia pendidikan.

Saya rindu dengan pelukan dari anak-anak yang saya ajari sehari. Rasanya kalimat Ari (salah satu murid yang saya ajar), “Kapan-kapan main lagi ya ke sekolah Ari..”, terngiang-ngiang di telinga saya. Ketika saya menutup mata, saya membayangkan berada di masa 10-15 tahun yang akan datang. Dari SD yang saya datangi akan lahir para ilmuwan baru. Dari sekolah yang saya buatkan kartupedia, akan lahir para profesional cerdas. Ah, rasanya senang sekali. Beginilah cinta, selalu ada harapan. Dan cinta ini pulalah yang membuat saya memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai Pengajar Muda Angkatan IX. Semoga ada untuk saya kesempatan untuk saya belajar lebih banyak lagi di belahan bumi Allaah lain. Semoga cinta ini Allaah ridhai untuk bertemu dan merasakan cinta di tempat yang dicinta. Ya Allaah, saya jatuh cinta, perkenankanlah cintaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s