Pilpres = Bercermin

2014, yeah! Untuk para penggila bola tahun ini adalah tahun yang ditunggu-tunggu setelah 4 tahun lamanya. Pada tahun ini perhelatan akbar sepak bola dunia dilaksanakan. Para pecinta bola akan disuguhi permainan cantik dan taktik brilian para pemain dunia, namun untuk Bangsa Indonesia, tahun ini bukan hanya tahunnya bola, tahun ini pun tahun penentu masa depan bangsa untuk 5 tahun ke depan. Indonesia, sebagai negara penganut sistem demokrasi akan menyelenggarakan pesta akbar lima tahunan, Pemilu (Pemilihan Umum). Bulan April lalu rakyat Indonesia telah memilih para wakil rakyat untuk duduk di Parlemen, dan nanti bulan Juli, rakyat kembali disodorkan 2 pilihan kandidat presiden.

Seperti telah dilansir KPU, pemenang legislatif adalah partai PDIP, disusul oleh Partai Golkar dan Partai Gerindra. Namun berhubung para partai pemenang pemilu hanya memperoleh suara di bawah 20%, maka semua partai pemenang tidak dapat mengusung langsung kandidat calon presidennya, dan mengharuskan untuk berkoalisi dengan partai lain. And then, terdeklarasikanlah dua orang kandidat calon presiden dari dua kubu, Prabowo- Hatta Rajasa dari kubu Gerindra, PAN, PKS, PPP, Golkar, dan PBB; serta Jokowi-Jusuf Kalla dari PDIP, Nasdem, PKB, Hanura dan PKPI, sedangkan Partai Demokrat masih betah dengan status netralnya.

Perang statement dari kedua kubu pendukung sudah ramai di berbagai media sebelum pencalonan resmi. Bukan hanya itu, black campaign pun gencar dilakukan, semua sama, ingin mendapat perhatian rakyat dengan membuka aib lawan. Saya, sebagai penonton, setiap hari disuguhi dengan posting atau shared yang diposting para pengguna jejaring sosial. Semua pro dan kontra menyisipkan alasannya.

Wajar, jika para pedagang kecil di Kota Solo yang pernah diundang Jokowi ke Balai Kota akan mendukung Jokowi habis-habisan. Tak ada yang salah jika para tawanan di Timor Timur yang dibebaskan oleh Prabowo akan mendukung sepenuhnya pasangan Prabowo-Hatta. Bukan hal mengejutkan jika para ibu dan orang tua para aktivis yang hilang saat reformasi akan sangat menolak Prabowo maju. Bukan hal yang salah juga jika para aktivis yang bersemangat menegakkan hukum Islam di Indonesia serempak menolak pencapresan Jokowi yang diusung partai yang menolak penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya.  Tak bisa disalahkan jika warga DKI yang menanti realisasi janji Jokowi untuk mengabdi 5 tahun jadi gubernur enggan memilihnya untuk menjadi presiden. Tidaklah salah juga jika para pemuda yang berbahasa Inggris tidak rela presidennya kelak tidak mampu berkomunikasi di ajang internasional. Atau pihak terdiskriminasi saat orde baru merasa was-was jika Prabowo yang maju karena dikhawatirkan membawa misi orde baru. Bukan pula hal yang salah jika rakyat yang susah payah bekerja dan hanya mendapatkan penghasilan Rp 10.000,- per hari akan jengah dengan tidak memihak pada Prabowo yang mempunyai kuda-kuda mahal dan hidup dalam kemewahan. Dan hak mereka pula yang akan lebih mendukung Jokowi yang berwajah ndeso dan berpenampilan sangat sederhana.

Semua tak ada yang salah. Semua punya perspektif masing-masing. Semua punya pandangan dan penilaian sendiri terhadap para calon presiden. Yang kita pilih kelak hanyalah manusia biasa yang tak dimakshum seperti Nabi. Yang kita pilih nanti hanyalah manusia biasa dan bukan malaikat yang tidak pernah salah. Prabowo dengan background militernya yang sering dikaitkan dengan kasus pelanggaran HAM. Jokowi dengan track-record-nya yang belum menepati janji sebagai gubernur DKI. Mereka manusia biasa yang tertempa segala pengalaman dan penilaian manusia yang sulit untuk.benar-benar objektif, termasuk saya yang sering kali ikut menilai setiap calon. Mungkin inilah saatnya untuk saya, untuk kita, bercermin. Kita tidak lupa, bukan, dengan statement “Pemimpin adalah cerminan dari yang dipimpin” atau “Rakyat adalah gambaran bagaimana pemimpinnya”, jadi kalau akhlak kita (sebagai rakyat) belumlah baik, jangan salahkan bagaimana para pemimpin kita, kalau perilaku kita belum juga baik,jangan harapkan pemimpin idaman.

Saya disini hanya rakyat biasa, tak ada jabatan apapun, dan tak ada kaitan apapun dengan partai apapun, tak ada niatan untuk menjatuhkan atau mengangkat capres siapapun, saya disini hanya menuangkan opini. Tanggal 9 Juli masih ada sekitar sebulan lagi setelah posting ini saya tulis, masih ada kesempatan untuk kita berbenah diri, karena perbaikan bangsa ini bukan hanya tanggung jawab pemimpinnya, tapi termasuk kita yang dipimpin. 😉

Salam.

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s