My Great Decision

Banyak orang berpendapat bahwa memilih jurusan di universitas sama dengan menentukan masa depan. Ya, jurusan yang kita pilih bisa mengantarkan kita pada profesi yang akan kita jalani kelak, walaupun memang banyak sekali orang yang berprofesi tidak sesuai dengan apa yang ia pelajari di bangku kuliah. Menurut saya, bisa jadi lebih dari itu. Mengapa?

Karena apa yang kita pelajari dan dengan siapa kita memepelajari dapat membentuk bagaimana karakter kita, bagaimana cara pandang kita terhadap sesuatu.

Sebagai alumnus Psikologi, saya merasakan betul bagaimana ilmu dan teori yang saya pelajari membentuk saya sekarang dan membentuk cara pandang saya, walaupun tidak bisa tidak untuk dipungkiri, pendidikan dan pengalaman kita di rumah sangat-sangat berperan besar. Jujur, psikologi bukanlah pilihan saya awalnya. Kasarnya, kondisilah yang memutuskan, hehe..

Sejak kecil, saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang psikolog atau menggeluti di bidang psikologi. Jangankan demikian, tahu psikologi saja saya tidak. Sama halnya dengan anak-anak di daerah umumnya, cita-cita yang sering menancap di kepala adalah menjadi seorang dokter. Sampai akhir kelas XII cita-cita saya tetap sama, ingin menjadi seorang dokter, terlebih wafatnya sahabat dari kecil yang juga bercita-cita menjadi dokter semakin menguatkan saya untuk meraih cita-cita itu. Sampai suatu hari, saya harus tersadar dengan penelusuran saya di internet betapa mahalnya biaya pendidikan di kedokteran. Saya hanya bisa menarik napas panjang, membayangkan bagaimana raut wajah orang tua dan nenek serta kakek saya yang selama ini membiayai sekolah saya. Pendidikan SMA pun kami harus terseok-seok. Beruntung saya mendapat beasiswa prestasi sejak semester 2 kelas X.

Otak saya terus berpikir, bagaimana cara agar saya bisa masuk dengan uang masuk yang lumayan, kemudian biaya hidup yang harus disiapkan di tempat kuliah, karena di kota saya tidak ada jurusan kedokteran, jadi saya harus mengekos disana. Untuk semester dua mungkin saya bisa memburu beasiswa, saya pikir, masa tidak ada beasiswa. Dalam kecemasan hati saya tidak pernah kecil, karena hati saya masih cukup luas untuk menyimpan harapan dan optimisme.

Hari itu Jumat. Guru BP masuk ke kelas mengisi jadwal Bimbingan & Konseling. Guru BP sudah mulai gencar bertanya kepada kami mengenai rencana studi di universitas, mau jurusan apa, sampai prospek kerja nanti. Teman-teman saya sudah mulai mantap menentukan pilihan universitas dan jurusan yang diincar, begitu pun dengan saya, namun bedanya, pilihan tersebut hanya bercongkol di hati. Tak ada yang tahu apa yang saya ingin masuki, termasuk keluarga saya. Mungkin mereka sudah tahu, tapi segan untuk bertanya, karena ketika bertanya mereka harus mempersiapkan respons yang takut mematahkan hati saya.

Hari semakin cepat berlalu. Pendaftaran sudah mulai dibuka. Saat yang lain mulai sibuk mengurusi persyaratan yang perlu dipenuhi, yang saya lakukan adalah tetap menjaga harapan, menyerahkan semua cita-cita pada Sang Pemiliki alam. Ya, dalam kekalutan dan kecemasan memang paling nyaman adalah menyungkur sujud pada Ilahi. Meminta diberikan jalan terbaik, karena kita tidak pernah tahu cara seperti apa yang akan Dia tunjukkan untuk kita. Sampai akhirnya Dia menunjukkan sendiri jalan keluar untukku, sebuah angin dan kabar yang seolah dari surga. Beasiswa Talent Scouting dari World Bank.

Dengan senyap aku memgingat semua persyaratan yang mesti dipenuhi dalam memori. Saya tak ingin teman-teman tahu saya mencoba program itu, alasannya satu, saya takut malu jika kelak saya gagal. Beberapa teman dekat saya menyuruh dan menunjukkan kabar ini, saya hanya tersenyum, dalam hati, “Sudah kok..”, hehe.. Semua persyaratan saya kumpulkan sendiri menggunakan pundi-pundi tabungan, hehe.. Ada dua pilihan jurusan yang bisa saya pilih, tanpa pikir panjang saya pilih jurusan pendidikan kedokteran dan farmasi di pilihan dua, dengan modal foto kopi sertifikat penghargaan sebagai juara I Olimpiade Sains Kimia lampirannya. Sampai tiba saatnya saya dipanggil untuk tes, 9 Juni 2007. Saya pikir, tes itu akan berisi tes-tes mata pelajaran seperti SPMB atau SNMPTN pada umumnya, namun ternyata serangkaian psikotes. Soal-soal sederhana yang menuntut logika, pembayangan, problem solving sederhana yang cukup menguras energi.

Keluar dari ruang tes, saya hanya menarik napas panjang, setidaknya saya sudah mencoba dan berusaha, setelah itu tinggal sepenuhnya Kuasa Tuhan yang bekerja. Beragam ekspresi terlihat dari setiap peserta. Banyak sekali. Seleksi ini dilaksanakan di setiap kota di seluruh Jawa Barat, Banten, dan Aceh, dan luar biasanya lagi, katanya hanya 55 oranglah yang bisa terjaring. Nice!

2 bulan berlalu, tak nampak juga kabar kapan pengumuman. Harapan saya hanya pada tes itu. Seleksi jalur SPMB tak saya ikuti, padahal formulir sudah saya beli dengan jalan nekat, karena saya tidak memperhitungkan bagaimana nantinya. Sehari sebelum SPMB, nenek buyut saya harus dipanggil yang Kuasa. Padahal dialah yang menanamkan cita-cita untuk sekolah sampai ke Bandung, karena menurut orang tua zaman dulu, Bandung it cukup sangat jauh dari kota saya.

Semuanya sudah Allah atur, kapan waktunya dan apa yang dipilihkan. Kabar itu akhirnya sampai di telingaku. Saya adalah salah satu dari 55 siswa terpilih itu. Sudah terbayang bagaimana 7 tahun lagi saya akan memakai jas putih dan berkalung stetoskop. Guru meminta saya segera ke sekolah bersama wali. Deg, sampai detik itu saya belum juga bercerita mengenai apa yang sudah saya tempuh. Tapi saya pikir, mereka mungkn tidak akan bisa menolak dan melarang lagi karena saya sudah terpilih. Antara senang dan gugup akhirnya saya sampaikan berita bahagia itu. Namun tak dinyana, kakek saya menolak dan menyuruh saya untuk mengundurkan diri. Menurutnya, beasiswa itu pasti tidak akan benar-benar 100%. Ia pun memikirkan dari mana biaya untuk saya bayar kos, biaya hidup sehari-hari, dan biaya buku.

Penolakan itu sungguh sangat menampar saya. Saya yan sudah terbang ke awan, tiba-tiba harus dijatuhkan tanpa parasut. Wuuussh.

Saat itu saya langsung pergi menuju rumah Paman, memintanya untuk mewakili wali ke sekolah. Entah mengapa saya yakin semua akan berjalan lancar. Beruntung, Paman bisa izin dari kantor untuk menemani saya ke sekolah.

Setiba di sekolah, sudah ada kepala sekolah dan 2 orang guru. Senyumannya menyambut kedatangan kami. Sejenak suasana kantor kepala sekolah hening. Sampai akhirnya Bapak Kepala Sekolah memecah keheningan. Ia menyampaikan bahwa saya adalah salah satu penerima beasiswa Talent Scouting I-MHERE. Hanya ada 5 siswa yang terpilih dari kota saya. Jujur, ada kebanggaan dalam hati saya. Namun, tiba-tiba ada hal yang menghenyak, saya tidak terpilih sebagai mahasiswa kedokteran ataupun farmasi. Lalu saya masuk jurusan apa?, pikirku. Tak mesti menunggu lama, Bapak Kepala Sekolah segera menjawab kepenasaranku. Saya terdaftar sebagai mahasiswa psikologi.

Berulang kali saya bertanya, apakah salah orang atau bukan. Saya yakin seyakin-yakinnya saya tidak salah menuliskan pilihan 1 dan 2 di formulir pendaftaran. Dan tidak mungkin juga salah dengan menuliskan psikologi, karena saya benar-benar tidak mengenal jurusan itu. Dalam keraguan, salah seorang guru mengatakan mengapa saya sampai masuk ke jurusan psikologi, menurut penjelasan panitia hasil psikotes saya cocok di bidang psikologi. Saya pun tak mengerti mengapa bisa demikian. Dan menurutnya pula, siswa yang memilih jurusan itu tidak ada yang cocok, jadilah saya yang terpilih. Saya bingung. Saya hanya takut saya tidak mampu menjalani perkuliahan dan mempermalukan nama sekolah dan kota saya, namun guru dan kepala sekolah meyakinkan bahwa psikologi di universitas saya nanti basic-nya IPA.

Dengan mengucap Bismillahirrahmaanirrahiim, saya terima tawaran beasiswa ini. Tanpa seizin keluarga.

Perdebatan pun berlangsung. Saya sudah memutuskan dan pantang untuk saya melepaskan. Dari kejadian ini saya sadar, ternyata saya begitu keras. Kakek dan orang tua pun akhirnya hanya bisa berkata, “Terserah..”

Keputusan itu benar-benar menjadi keputusan terbesar saya sampai 24 tahun ini. Saya belajar banyak. Belajar untuk survive di perkuliahan yang ternyata tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Belajar untuk menghadapi dan beradaptasi dengan berbagai macam karakter dan budaya baru, yang dulunya saya hanya bergaul dengan yang satu suku dengan saya. Belajar untuk mengatasi segala sesuatu sendiri dan dengan lantang harus mampu mengatakan: I’m ok. Ya, di psikologi ini saya belajar tidak jauh-jauh, karena saya mempelajari diri saya sendiri. Saya mempelajari mengapa saya menjadi pribadi seperti sekarang ini. Saya mempelajari bagaimana saya memperluas cara pandang saya terhadap dunia. Saya mempelajari bagaimana menilai suatu perilaku bukan hanya perilakunya, tapi apa hal yang melatarbelakanginya.

Yes, that’s is my great decision and i learnt more than i thought.

Salam,

DC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s