“Aku Mau Kerja”

“Itu kan mau kamu, kamu sudah tanya maunya aku belum?”

“Maumu?”

“Aku mau kerja.”

“Kamu kan sekarang kerja”

“Kamu bisa egois gak merhatiin aku kalau kamu kerja, kan? Nah, sekarang aku mau kerja. So yeah, wait till then.”

Sampai sekarang berulang kali baca percakapan itu saya masih menclos. Ada sedikit kecewa. It means we are not on the same page. Tapi di satu sisi saya mendapatkan satu jawaban jujur darinya. He never said that he feels I am selfish enough when I’m engaged in my work and never asked me to giving him attention. Then, I realised that he cares about me and he wants to pursue his dream.

Satu hal yang menjadi alasan mengapa ia menarik adalah ia selalu tahu apa yang ia mau. Dia selalu fokus terhadap apa yang sedang ia kejar. Setidaknya saya tahu, dia tidak mau egois dan dia punya empati.

 

Salam,

DC

Di Suatu Siang di Pine Hill Cibodas

Dalam kereta kembali ke Jakarta, saya mau cerita mengenai obrolan insightful saat di Bandung tadi siang. Obrolan saat saya berada di nikahan Mbak Ifa Misbach, bersama para senior, Mbak Najelaa Shihab, Kak Yulia (Ketua Keluarga Kita), para BOD-nya Cikal, dan Mas Iwan Syahril dan Fiona di sesi berikutnya.

Obrolan itu berawal saat saya sedang menikmati suasana pesta kebun yang ciamik di Pine Hill Cibodas. Lalu, Kak Yulia tiba-tiba bertanya, “Jadi kamu mau konsep pernikahan seperti ini, Dith?”. Saya hanya tertawa dan menimpali, “Aku mau fokus memantapkan calonnya saja dulu Kak, gak bisa bayangin kayak gimana kalau calonnya saja belum mantap”. Continue reading “Di Suatu Siang di Pine Hill Cibodas”

Pelajaran dari Pacar Orang :p

I’m back!

Lama tak mengotak-atik blog kesayangan. Tempat nyampah sekaligus mengeluarkan isi kepala. Hehe.

Well, saya mau cerita sedikit mengenai pengalaman saya kemarin-kemarin. Maafkan kalau cerita ini lebih ke cerita teenlit, ahahaha.. saya juga gak sedikit pun prediksi akan mengalami ini di usia yang sekarang -___-  Continue reading “Pelajaran dari Pacar Orang :p”

If I Die

Hahaha.. judulnya menyeramkan ya? Saya juga sebenarnya merinding nih bikin tulisan ini.

If I die.

Mati siapa yang tahu? Bukankah itu ketetapan yang sangat pasti? Saya akan menikah itu peluang. Saya sukses akan itu juga peluang. Tapi saya akan mati itu pasti. Kemarin, adik teman SD sekaligus SMA, yang juga anak guru saya, plus cucu dari adiknya nenek buyut, meninggal dunia secara tiba-tiba. Almarhum bahkan sedang bekerja. Masih sangat muda. Beda 3 tahun mungkin sama saya. Dan baru saja menikah. Ia meninggal saat sedang bekerja (kecelakaan kerja), beritanya disini

Continue reading “If I Die”

Menahan Diri

Sehari-hari saya merupakan pengguna ojek online. Berbagai macam driver saya temui. Mulai yang ramah dan punya value, sampai yang grasak-grusuk dan banyak mengumpat. Alhamdulillaah saya tidak pernah menemukan yang lebih ekstrim dari ini. Semoga terlindungi.

Oke, tadi sore saat saya mengendarai ojek online dari Hotel Atlet Century menuju pulang, abang ojol (ojek online) yang saya tumpangi beberapa kali menerobos lampu merah. Yup, honestly saya deg-degan. Saya tidak mau mati konyol karena kecerobohan orang lain, dong! Continue reading “Menahan Diri”

Me vs Nyuci

Setiap kali melihat tumpukan baju kotor, mata selalu refleks menutup, menelan ludah, dan kening berkerut. Ya Allaah.. kenapa harus ada baju kotor sih? 🙈

images

Saya heran sekaligus takjub pada salah satu sahabat saya di penempatan. Tiap hari dia pasti nyuci. Nginap semalam saja selalu ada jemurannya di tempat yang kami inapi. Bahkan saking identiknya ia dengan nyuci, kami hadiahi ia dengan dua bungkus deterjen bubuk (dia lebih suka bubuk dibanding cair) di ulang tahunnya. I pay respect for her. Continue reading “Me vs Nyuci”

Dilan: Sunda Banget

Saya tidak tahu apa jadinya tulisan ini. Apakah akan jadi review film/ buku, atau malah akan jadi kumpulan nostalgia masa lalu? 😂

images
Source: Google

Saya sering menyebut diri sebagai Jamaah Pidi Baiq. Entahlah, saya hanya menggandrungi keabsurdan dan kata-kata sederhana Surayah. Saya follow twitternya sejak zaman saya bikin twitter. Saya suka tulisannya di blog atau di bukunya. Saya (dulu) sering juga dengerin lagu-lagunya. Oiya, kalau saya buka twitter, saya pasti buka profilenya, baca lagi twit-twit absurdnya yang membalas mention followersnya. Saya juga pernah nanya random. Jadi, fix kan saya masuk Jamaah Pidi Baiq? 🤣 Continue reading “Dilan: Sunda Banget”

Memahami Fahri

Iya, saya tahu ini tulisan sangat-sangat telat. Saat review-review sudah mulai bertebaran, bahkan banyak yang sudah basi, saya baru nulis tulisan ini. Haha.. gak apa-apalah ya? Sebenernya saya sudah ingin nulis ini sejak saya keluar dari studio bioskop di Pejaten Village di hari kedua penayangan film ini. Semoga Mas Fahri maafkan karena keterlambatan Dinda (Dinda? 😂) mengekspresikan pengertiannya 🙈

Well, saya gak akan membahas bagaimana posisi perempuan di film tersebut. Sudah banyak. Googling saja. Atau mau bahas tentang operasi plastiknya Aisha? Doh, sebenernya bagian ini yang paling membuat saya mengernyitkan dahi. Gak logis. But, never mind.  Continue reading “Memahami Fahri”