Di Balik Kesangsian HI, Ada Pesona & Diplomasi

Setelah sebelumnya saya bercerita mengenai Maya, sekarang saya ingin menuliskan pengenalan saya dengan partner in crime-nya Maya selama setahun. Taufik Akbar. Macan IX yang memiliki nama paling hemat huruf. Jadi, kalau kita lomba adu cepat menuliskan nama sendiri, maka dapat dipastikan dialah pemenangnya –btw, lomba macam apa itu?, haha-.

Ketika saya mengenalnya dua tahun lalu, jujur, saya meragukan ijazah sarjana Hubungan Internasional (HI)-nya, yang saya tahu ketika bekerja di Binus, anak-anak HI dituntut untuk menguasai minimal Bahasa Inggris. Jadi? Begitulah. Haha.. tapi sekarang, update terbaru yang saya dapatkan adalah ia berhasil memperoleh skor IELTS 5.5. It’s more than enough for someone who doesn’t know how make a sentence that consist of subject and verb well before. Yes, he has been learning English for a year to getting that score! 👏 *standing aplause*
Continue reading “Di Balik Kesangsian HI, Ada Pesona & Diplomasi”

Advertisements

Maya: Ratu Sambel yang Antisipatif

“Hai, Dith, kamu jurusan apa sih?”

“Aku? Psikologi, May.”

“Wah, berarti aku bisa curhat dong sama kamu? Kamu bisa tahu dong aku gimana?”

Jika saya harus digambarkan dengan gambar komik, maka saat itu seolah ada garis vertikal di sisi atas kepala saya. -_-“ Respons yang sama ketika orang mendengar jurusan saya. Itulah obrolan pertama saya dan Maya sebagai teman sebelah kasur. Malam pertama saya tidur di sebelahnya, saya langsung tahu bahwa ia senang sekali ngobrol. Continue reading “Maya: Ratu Sambel yang Antisipatif”

Antara Klasik, Baper, dan Kue Mickey Mouse

“Dua tahun terakhir ini saya bersama teman-teman tengah menekuni usaha konsultan di bidang pemetaan”, sekitar tiga tahun yang lalu Wido mengatakan demikian saat self presentation Direct Assessment (DA) calon Pengajar Muda angkatan IX. Dalam hati, ‘Iya, dia udah tua gitu, udah punya usaha sendiri, ngapain ikut PM, ya?’ haha.. Rupanya saya keliru, dia setahun lebih muda dibanding saya, chasing-nya aja memang jauh lebih klasik.

Qadarullaah saya dengan Wido lolos menjadi Pengajar Muda IX. Kami pun ada dalam satu grup WhatsApp. Di WhatsApp, dia aktif sekali, selalu update, sampai sepertinya penghuni grup WhatsApp yang sebagian besar belum pernah ketemu ini (kecuali yang sama hari DA-nya) tahu ada yang namanya Wido, sampai kesan kedua yang timbul di pikiran saya adalah “Nih anak kebutuhan perhatiannya tinggi ya”, hehe. Continue reading “Antara Klasik, Baper, dan Kue Mickey Mouse”

#10 Romatismeku Punya Caranya Sendiri

Percakapan dalam SMS

👨: Lagi apa? Aku perlu ngomong. Mau minta maaf, tapi pulsa tipis. Gak bisa SMS lagi atau telepon. Kutunggu di Pakilun, ya, jam 12.15.

👩: Bilang aja, “mau ketemu”.

**

Thanks ya, udah mau jadi OP. Nanti aku bakal tahu kepribadian kamu kayak apa 😂😂”

“Eh, serius?” Continue reading “#10 Romatismeku Punya Caranya Sendiri”

Ketika Terpaksa Bertengkar di Depan Anak

Sering kali saya mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari teman-teman saya soal parenting. Iya, mereka yang tengah menjalani parenthood bertanya pada orang yang sama sekali belum jadi parent, haha.. lucu sih.. Tapi tak apa, hal ini membuat saya jadi banyak bahan pembelajaran, kan?

Saya senang, saat ini banyak sekali orang tua muda yang sangat peduli dengan segala macam stimulus yang mereka berikan pada anaknya. Eh, tapi saya juga tidak tahu pasti sih apakah jumlah ini sebenernya sudah banyak sejak zaman dulu. Doh, maafkan penyimpulan yang terlalu dini dan tanpa research ini 🙈

Oke, saya akan cerita tentang pertanyaan yang datang dari teman saya ketika ia dengan terpaksa harus bertengkar dengan suaminya di depan anak mereka yang berusia 4 tahunan. Pertengkaran hebat itu memang diakuinya pertama kali terjadi. Ia khawatir bagaimana dampak pertengkaran hebat itu untuk kondisi psikologis anaknya.  Continue reading “Ketika Terpaksa Bertengkar di Depan Anak”

Storage Hati

Beberapa hari lalu salah seorang teman dekat saya curhat habis-habisan tentang gadis yang dia cintai. Gadis yang menginspirasinya banyak hal dan memberinya pengalaman mencintai yang berbeda dari sebelumnya. Namun sayang, ia harus merelakan kenyataan bahwa gadis tersebut saat ini belum bisa membalas cinta teman saya itu.

Patah hati. Iya, dia patah hati.

Setelah menghibur dan menjadi telinganya, setelah membalas ratusan chat, dan mendengarkan seluruh ceritanya, akhirnya saya mengatakan “Semakin sering patah hati, insyaa Allaah akan semakin cepat move on” tentunya dengan diiringi tawa. Ya, saya mengatakan demikian setelah beberapa hari dari kejadian dan setelah saya pastikan teman saya sudah bisa diajak bercanda. Continue reading “Storage Hati”

Menyoal Poligami

Baru-baru ini dunia Instagram dihebohkan oleh curhatan istri penyanyi religi -hayoo siapaa 😂- yang baru saja mendapatkan kenyataan suaminya berpoligami dengan backing vocal. Pembahasan mengenai poligami kembali mencuat. Pasti, pro-kontra ramai menghiasi. Yang pro kebanyakan membawa dalih sunnah dan dihalalkan agama, sedang yang kontra pasti menuntut keadilan dan perasaan si istri. Menurut saya, bisa jadi semua dalih benar dengan versinya sendiri.

Iya, agama Islam memberikan kesempatan berpoligami maksimal 4 orang istri. Dibanding berzina, kan? Iya, kalau laki-laki itu cenderung lebih lama masa seksual aktifnya dibanding perempuan. Dibanding ‘jajan’, kan? Continue reading “Menyoal Poligami”

Tentang yang ‘Merdeka’ di Hari Kemerdekaan

Dua tahun yang lalu, saat saya masih menjadi guru di daerah yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, tepat di hari kemerdekaan, Enin ‘merdeka’. Merdeka dari sakitnya yang sudah menemaninya sejak 2004 dan merdeka dari segala kewajibannya di dunia.

Sinyal telepon yang tak muncul satu pun sejak sore hari di tanggal 16 membuat saya harus mengikhlaskan diri mengetahui kepulangannya saat matahari sudah terbit, saat handuk sudah saya letakkan di pundak dan akan bersiap menuju lapangan sekolah, dan saat Enin sudah sempurna terpendam dalam bumi.  Continue reading “Tentang yang ‘Merdeka’ di Hari Kemerdekaan”

Memahami Status Quo

Disclaimer dululah, saya tidak akan membahas status quo dalam istilah perpolitikan atau status negara, tapi status quo dalam relasi antara laki-laki dan perempuan, yang artinya sama-sama tidak ada kemajuan, stagnan, statis, gak ada perubahan.

Menjalani relasi dengan lawan jenis yang bukan temenan biasa tapi disebut pacaran pun bukan, mungkin banyak yang mengalami. Ada yang menikmati dan akhirnya “jalani saja”, ada juga yang gemas sendiri. Mau tanya dia nganggap apa takut kecewa, tapi dipendam sendiri juga bikin mangkel hati. Continue reading “Memahami Status Quo”

#9 Kusuntik Dia

“Yan, kamu kapan terakhir patah hati?”, tanyaku tiba-tiba saat sedang menyantap sate padang di belakang Pangdam DU. Tambah nikmat karena bumbunya bercampur kebul asap hitam dari knalpot bus Damri, haha.

“Ntah, mungkin aku tidak pernah merasa benar-benar patah hati”, jawabnya datar.

“Bahkan ketika putus sama Disa?”

“Iya. Aku putus sama Mona Disa karena aku emang pengen putus, jadi emang semua patah hatinya udah kusiapkan.”

“Aku gak pernah nyangka loh kamu emang well prepared, tapi kalau sampai patah hati pun well prepared, aku gak tahu lagi mesti bilang apa” Continue reading “#9 Kusuntik Dia”